Dipaparkan Vidjongtius, pekerjaan rutin yang sebenarnya dapat diselesaikan di kantor tidak semestinya terus dibawa ke rumah.

Langkah tersebut penting agar waktu di luar jam kerja tetap dapat digunakan untuk beristirahat maupun menjalani kehidupan pribadi.

“Nah, kembali kepada bagaimana baiknya, saya sih bilang, jangan terlalu ekstrem. Kan ada pekerjaan-pekerjaan normal yang memang bisa dikerjakan di kantor. Nah, itu tidak perlu dibawa pulang,” katanya.

Meski demikian, Vidjongtius tidak menyarankan pekerja untuk sepenuhnya menutup diri dari komunikasi pekerjaan setelah berada di rumah.

Menurutnya, tetap tersedia ruang untuk bersikap fleksibel, terutama ketika muncul persoalan yang bersifat mendesak.

Jika diperlukan, kata dia, komunikasi melalui telepon maupun perangkat lain masih dapat dilakukan untuk berdiskusi atau memberikan arahan. Namun, komunikasi tersebut sebaiknya tidak sampai mengganggu waktu pribadi.

“Kalau dalam arti yang memang standby untuk diajak diskusi, lewat handphone, lewat apa, menurut saya, welcome. Mungkin ada sesuatu yang memang emergency, yang butuh bantuan kita, yang ngerti di finance ataupun yang lain, yang butuh untuk diskusi,” jelasnya.

Vidjongtius kemudian menyebut pendekatan tersebut sebagai bentuk sistem kerja yang lebih fleksibel. Menurutnya, toleransi tetap diperlukan selama tidak mengorbankan waktu pribadi secara berlebihan.

“Hybrid lah ya, mungkin sedikit toleransi, bukan mengganggu private time kita ya, tapi hybrid system lah. Di situ yang mungkin lebih baik,” pungkas Vidjongtius.

Baca Juga: Mengenal Format Meeting Efektif di Kantor ala Vidjongtius