Pewarta foto ANTARA, Muhammad Adimaja, meluncurkan buku sekaligus pameran fotografi jurnalistik bertajuk Ursyalim di Museum ANTARA Heritage Center, Jakarta, Jumat (22/5/2026) lalu.

Karya tersebut menjadi proyek yang sangat personal bagi Adimaja karena lahir dari pengalaman emosional dan perjalanan panjangnya mendokumentasikan kehidupan di Yerusalem dan Palestina.

Adimaja menyebut Ursyalim berbeda dibandingkan karya-karya sebelumnya yang pernah ia terbitkan. Ia bahkan mengibaratkan buku tersebut sebagai ‘anak’ yang ia hadirkan ke dunia.

“Ini menjadi salah satu dari tiga buku yang telah saya terbitkan. Sayamengibartkan bahwa buku ini adalah 'anak' saya yang lahir di dunia ini,” tutur Adimaja, saat pembukaan pameran dan peluncuran buku foto jurnalistik Ursyalim di Museum ANTARA Heritage Center, Jakarta Pusat Jumat (22/5/2026)

Dijelaskan Adimaja, nama Ursyalim dipilih karena memiliki makna yang erat dengan kedamaian dan keamanan. Menurutnya, istilah tersebut telah dikenal jauh sebelum masa Islam dan merepresentasikan harapan tentang sebuah kota suci yang damai.

Melalui karya fotografi itu, Adimaja ingin menghadirkan wajah lain Yerusalem yang selama ini lebih sering dipersepsikan sebagai wilayah konflik. Ia mengaku, ingin menunjukkan bahwa kota tersebut sesungguhnya memiliki nilai spiritual, kemanusiaan, dan kasih sayang yang kuat.

“Saya ingin memberikan visi tentang apa yang seharusnya kota ini menjadi sebuah sanctuary keamanan, kesejahteraan, dan penuh kasih sayang,” tuturnya.

Adimaja juga menyinggung posisi penting Yerusalem bagi berbagai agama dan peradaban dunia. Menurut dia, kota tersebut memiliki makna mendalam bagi umat Islam, Kristen, maupun masyarakat dunia secara umum.

“Untuk orang-orang Indonesia, ia adalah tanah perjanjian. Untuk Kristen, ia adalah kubu. Dan bagi kita sebagai muslim, ia adalah kota kedua untuk Islam,” ujarnya.

Adimaja mengaku, dirinya turut mengangkat sejarah toleransi di Yerusalem pada masa kekhalifahan Islam, termasuk ketika Khalifah Umar bin Khattab memberikan jaminan kebebasan beragama kepada masyarakat setempat.

Menurutnya, pesan toleransi dan kemanusiaan itu penting terus dihidupkan di tengah konflik yang masih berlangsung di Palestina. Dan, sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan, sebagian hasil penjualan karya foto dalam pameran tersebut akan disalurkan untuk membantu korban perang di Palestina.

Ia pun berharap, kontribusi kecil melalui seni dan fotografi itu dapat membawa harapan bagi masyarakat Palestina.

“Saya berharap kontribusi kita malam ini bisa membawa harapan bagi masyarakat Palestina di sana,” tukasnya.

Di kesempatan yang sama, Direktur Utama Perum LKBN ANTARA, Benny Siga Butarbutar, menyampaikan apresiasi atas karya yang dihasilkan Muhammad Adimaja. Benny pun mengatakan, Ursyalim bukan sekadar dokumentasi visual, tetapi juga karya yang membawa pesan sejarah, kemanusiaan, dan harapan perdamaian.

“Saya ingin mengucapkan penghargaan dan hormat tertinggi kepada Muhammad Adimaja untuk sebuah karya yang tidak hanya mempersembahkan kebenaran, tetapi juga mempersembahkan emosi, sejarah, keinginan, dan kemanusiaan melalui lensa fotografi,” ungkap Benny.

Benny menilai, fotografi memiliki kekuatan unik untuk menangkap emosi dan menyampaikan pesan tanpa harus menggunakan banyak kata. Dan menurutnya, Ursyalim mengajak publik melihat Yerusalem bukan hanya sebagai wilayah geografis, tetapi juga ruang spiritual yang menyimpan perjalanan panjang peradaban manusia.

“Melalui Yerusalem, kami diajak melihat Al-Quds atau Jerusalem bukan hanya sebagai ruang geografis, tetapi juga sebuah ruang spiritual dan situasional,” tuturnya.

Sebagai kantor berita nasional, ANTARA, lanjut Benny, memandang informasi bukan sekadar data dan berita, tetapi jembatan kemanusiaan yang mampu membangun empati lintas bangsa. Ia pun memastikan ANTARA akan mendukung setiap karya yang mengangkat nilai kemanusiaan dan membawa nama Indonesia ke panggung global.

“Setiap upaya yang mengangkat harga kehidupan manusia, setiap upaya yang mengangkat nama ANTARA, dan juga setiap upaya yang mengangkat Indonesia dalam posisi lebih baik, maka saya mendukung penuh,” ujar Benny.

Tak ketinggalan, Benny pun memberikan apresiasi khusus kepada Adimaja yang akrab disapa Cumi.

“Cumi bagi saya bukan sekadar wartawan ANTARA, tapi datang dengan sebuah harapan bahwa setiap karya yang bagus dan layak dipertanggungjawabkan hadir atas nama ANTARA. Karena ini juga bicara tentang ANTARA dan identitas kita,” tutupnya.

Baca Juga: 7 Buku Pemenang Penghargaan Pulitzer 2026 yang Wajib Masuk Daftar Bacaan

Sementara itu, Kurator foto senior, Oscar Motuloh, menilai Ursyalim menghadirkan pesan spiritual sekaligus kemanusiaan dari Yerusalem yang selama ini dikenal sebagai kota suci bagi tiga agama besar dunia. Oscar bahkan mengaitkan karya tersebut dengan dialog ikonis dalam film Kingdom of Heaven yang berlatar Perang Salib.

“Satu hal yang berhubungan erat, sehingga tidak ada salahnya jika kita melihat ini sebagai sebuah pernyataan yang diungkapkan oleh seorang aktor film yang bernama Ghassan Massoud yang dikenal sebagai Saladin dalam film ‘Kingdom of Heaven’,” kata Oscar.

Ia kemudian mengutip percakapan terkenal antara Balian dan Saladin mengenai arti penting Yerusalem.

“Ketika Balian bertanya mengenai arti penting kota tersebut, Saladin menjawab bahwa kota itu bukan apa-apa, nothing. Namun, kemudian ia berbalik dan mengatakan, everything,” ujarnya.

Menurut Oscar, dialog tersebut menggambarkan hubungan antara kefanaan dunia dan keyakinan manusia terhadap Yerusalem sebagai kota suci yang sarat makna spiritual.

Oscar menilai, karya-karya Adimaja dalam Ursyalim ini berhasil memperlihatkan wajah lain Palestina kepada publik Indonesia, bukan hanya sebagai wilayah konflik, tetapi juga ruang kehidupan yang penuh dinamika sosial dan harapan.

Ia juga menyoroti sejarah panjang Yerusalem yang berkali-kali mengalami perang dan penghancuran, tetapi tetap melahirkan pesan tentang kemerdekaan dan kemanusiaan.

“Kita tidak melihat sebuah kota suci saja, tapi sebuah kota yang berkali-kali mengalami serangan dan penghancuran. Namun dari sana lahir pesan bahwa kemerdekaan adalah hak setiap bangsa,” ujarnya.

Oscar pun kembali menegaskan pesan utama dari karya tersebut.

“Sekali lagi saya ingatkan bahwa kemerdekaan adalah hak setiap bangsa,” katanya.

Selanjutnya, Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdalfatah A.K. Alsattari, menegaskan bahwa Yerusalem atau Ursyalim merupakan simbol perdamaian dan kehidupan bersama lintas agama yang telah berlangsung selama berabad-abad di Palestina.

Abdalfatah mengaku memiliki kedekatan emosional dengan Indonesia dan merasa seperti berada di rumah sendiri selama bertugas di Jakarta.

“Saya sangat senang berada di sini bersama keluarga saya. Saya tidak merasa berada di negara asing. Saya merasa seperti berada di negara saya sendiri,” ujarnya.

Ia mengatakan masyarakat Palestina sejak kecil telah diajarkan mengenai pentingnya Yerusalem sebagai kota damai dan kota suci bagi umat manusia. Menurut Abdalfatah, Palestina sejak lama menjadi rumah bersama bagi umat Islam dan Kristen yang hidup berdampingan sebagai satu keluarga.

Ia mencontohkan Kota Bethlehem yang dikenal sebagai tempat kelahiran Yesus Kristus dan mayoritas dihuni warga Kristen Palestina.

Abdalfatah juga menekankan bahwa budaya damai telah tertanam kuat dalam masyarakat Palestina karena seluruh warga memahami pentingnya menjaga situs-situs suci agama secara bersama-sama.

“Nama-nama agama kami mengajarkan kami untuk menjadi orang-orang damai dan hidup bersama sebagai keluarga,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Yerusalem memiliki kedudukan penting dalam Islam, terutama terkait peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW.

“Nabi Muhammad pergi ke Masjid Al-Aqsa dan berdoa di sana. Ini ada di dalam Al-Qur’an,” katanya.

Abdalfatah kemudian mengaku prihatin terhadap kondisi Palestina saat ini, khususnya di Yerusalem Timur yang menurutnya masih menghadapi pengusiran warga dari rumah mereka. Ia pun menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Indonesia atas dukungan konsisten terhadap perjuangan Palestina.

“Kita berdiri bersama Indonesia selama ini, karena Indonesia selalu mendukung Palestina,” katanya.

Terakhir, ia pun berharap buku dan pameran Ursyalim karya Muhammad Adimaja ini dapat membantu masyarakat Indonesia memahami kehidupan warga Palestina secara lebih utuh, termasuk nilai toleransi dan kerukunan antarumat beragama yang hidup di Kota Suci Yerusalem.

“Kita harus berdoa untuk melihat kota damai ini, untuk melihat semua orang hidup dengan damai,” tutup Abdalfatah.

Sebagai informasi, buku foto Ursyalim ini merangkum sekitar 100 karya fotografi pilihan hasil liputan langsung Muhammad Adimaja di Yerusalem pada Februari 2026. Foto-foto tersebut merekam kehidupan sosial masyarakat Palestina, ruang ibadah, hingga interaksi warga di tengah sejarah panjang dan konflik yang masih berlangsung.

Pameran Ursyalim sendiri dibuka untuk umum tanpa dipungut biaya di Museum ANTARA Heritage Center pada 22–29 Mei 2026. Selain pameran dan peluncuran buku, Muhammad Adimaja juga dijadwalkan menggelar diskusi karya dalam acara “Diskusi Taman Langit” pada 29 Mei 2026 pukul 19.00 WIB.

Baca Juga: 5 Penulis Perempuan yang 'Meramalkan' Krisis Dunia Melalui Buku Mereka