Pemerintah Indonesia sedang putar otak mencari solusi menghadapi ancaman krisis energi di tengah gejolak global imbas perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Bukan sekadar strategi, pemerintah ingin mengambil sebuah kebijakan jangka panjang yang mampu membuat negara ini lepas dari ketergantungan impor. Indonesia ditarget bisa merdeka dari impor energi yang memang sangat menguras keuangan negara.
Baca Juga: Mendorong Percepatan Implementasi Kebijakan Mandatori B50
Skenario yang sedang dipertimbangkan pemerintah adalah mengoptimalisasi penggunaan bahan bakar nabati berbasis komoditas pertanian.
Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan jajarannya untuk melakukan hal ini dengan memanfaatkan hasil pertanian di dalam negeri seperti Kelapa Sawit, tebu, hingga singkong. Kalau agenda ini sukses Indonesia diyakini bisa mandiri dalam ketahanan energi tanpa harus menyandarkan nasibnya pada bangsa lain.
"Dalam rangka antisipasi kenaikan harga pangan sebagai implikasi dari kenaikan harga BBM akibat krisis energi global, Bapak Presiden telah menginstruksikan optimalisasi penggunaan bahan bakar nabati," kata Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman dilansir Rabu (8/4/2026).
Pemerintah sangat percaya diri dengan gebrakan ini, apabila sukses maka bahan bakar nabati tak hanya mengurangi ketergantungan impor, namun kebijakan itu juga berimplikasi pada penggunaan energi fosil dan batu bara yang diyakini langsung merosot drastis. Sedianya program B50 diimplementasikan pada 2026 ini.
"Insyaallah tahun ini Indonesia tidak akan impor solar sebanyak 5,3 juta ton," ujarnya.
Optimalisasi bahan bakar nabati tidak hanya mengurangi ketergantungan impor, tetapi program ini membawa efek ganda yakni bisa menjaga stabilitas harga pangan. Dengan menekan biaya energi, biaya produksi dan distribusi pangan di dalam negeri dapat lebih terkendali.
Ke depan, pemerintah juga akan membangun industri etanol berbasis bahan baku dalam negeri seperti ubi kayu, tebu, dan jagung. Langkah ini dinilai sebagai upaya memperkuat ketahanan energi, sekaligus membuka peluang baru bagi sektor pertanian.
"Ke depan kita akan implementasikan pabrik etanol dengan bahan baku dari ubi, tebu, dan jagung," jelasnya.
Baca Juga: Menakar Plus Minus Program B50
Amran menegaskan bahwa integrasi antara sektor energi dan pangan menjadi kunci dalam menghadapi tekanan global, terutama di tengah ketidakpastian harga minyak dunia yang berpotensi memicu inflasi pangan.