Guru Besar Universitas Airlangga (UNAIR), Henri Subiakto turut menyikapi desas-desus aksi unjuk rasa besar-besaran yang dikabarkan bakal terjadi sepanjang Agustus 2026 ini.
Menurutnya, aksi unjuk rasa itu menjadi sesuatu yang wajar, sebab masyarakat sudah muak dengan gaya kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Dia mengatakan, apabila demonstrasi besar itu benar terjadi, maka itu adalah luapan kemarahan masyarakat yang terakumulasi sejak lama, rakyat sudah kadung kesal karena tidak ada perubahan di era pemerintahan Prabowo.
Baca Juga: Kapasitas Intelektualnya Gawat, Wapres Gibran Layak Dilengserkan!
Selain tak adanya perubahan signifikan, aksi unjuk rasa itu kata dia terjadi karena pernyataan-pernyataan blunder Prabowo dalam berbagai pidatonya belakangan ini. Pernyataan-pernyataan keliru itu menjadi pemantik yang menyulut amarah masyarakat.
"Kalau ada kekesalan, kemarahan dan kekacauan, pemicunya selain keadaan yang tidak membaik sejak Agustus tahun lalu, justru karena pernyataan pak Prabowo sendiri yang memicunya," kata Henri di akun X dilansir Senin (3/8/2026).
Dalam berbagai pidatonya, Prabowo hampir pasti menyinggung antek asing yang disebutnya ingin menghancurkan Indonesia dari dalam, terakhir ia bahkan menyebut wartawan, pengamat dan LSM juga bagian dari antek asing. Prabowo menyebut mereka dengan istilah ‘Londo Ireng’ sebutan di era kolonial buat para pribumi yang berkhianat dan membela Belanda.
Henri mengatakan, pernyataan Prabowo yang kerap kebablasan itu dan terkesan menyerang balik balik para pengkritiknya itu jelas sangat berbahaya, hal ini dapat dibaca sebagai sesuatu yang provokatif yang bikin rakyat jenkel sekaligus murka.
"Bener bener deh Presiden Prabowo itu perbuatannya hanya menguntungkan pihak yang menyiapkan calon kalau dia jatuh," ujar Henri.
Desas-desus aksi unjuk rasa besar-besaran pada Agustus 2026 ini belakangan memang santer dibicarakan di media sosial. Isu itu mencuat setelah viral pemasangan pagar di sejumlah pusat perbelanjaan di Pulau Jawa.
Terkait itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto mengaku, hingga kini pihaknya sama sekali belum menerima informasi apapun mengenai aksi unjuk rasa tersebut.
Meski begitu, aparat tetap melakukan langkah antisipasi dengan memantau media sosial dan berkoordinasi dengan intelijen untuk menjaga situasi tetap terkendali.
“Kami juga akan berkoordinasi dari analisa perkiraan intelijen terkait tentang situasi terkini. Tetapi perlu kami sampaikan bahwa situasi sampai saat ini masih bisa dapat dikendalikan,” jelas Budi.