Growthmates, memiliki tubuh langsing kerap dianggap sebagai tanda tubuh sehat dan bebas dari risiko penyakit jantung. Namun, anggapan tersebut ternyata tidak sepenuhnya benar.

PT Daewoong Pharmaceutical Indonesia bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) mengingatkan bahwa seseorang dengan berat badan normal tetap dapat mengalami kolesterol tinggi hingga berisiko terkena penyakit kardiovaskular.

Melalui sesi edukasi media yang digelar di Jakarta, Selasa (28/7/2026), Daewoong dan PERKI menekankan bahwa bentuk tubuh tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator kesehatan metabolik.Kadar kolesterol jahat atau LDL-C dapat meningkat pada siapa saja, termasuk mereka yang memiliki indeks massa tubuh (BMI) normal.

Fenomena ini dikenal sebagai obesitas pada berat badan normal, yaitu kondisi ketika seseorang tampak langsing tetapi memiliki penumpukan lemak visceral atau lemak di sekitar organ-organ tubuh. Kondisi tersebut dapat memicu resistensi insulin, meningkatkan kadar kolesterol LDL dan trigliserida, serta memperbesar risiko penyakit jantung dan stroke.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari PERKI, dr. dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP, menjelaskan bahwa penampilan fisik tidak selalu mencerminkan kondisi kesehatan seseorang.

"Tubuh langsing tidak selalu berarti kadar kolesterol berada dalam kondisi sehat. Seseorang dapat memiliki indeks massa tubuh atau BMI yang normal, tetapi menyimpan lemak visceral berlebih di sekitar organ tubuh. Kondisi ini sering disebut sebagai obesitas pada berat badan normal," ungkap dr. Susetyo.

dr. Susetyo menuturkan, satu-satunya cara mengetahui kadar kolesterol secara akurat adalah melalui pemeriksaan darah.

"Penumpukan lemak visceral dapat memicu resistensi insulin serta meningkatkan kadar kolesterol LDL dan trigliserida. Pemeriksaan darah merupakan satu-satunya cara untuk mengetahui kadar LDL-C secara akurat. Karena itu, pemeriksaan secara berkala sangat penting," lanjutnya.

Sejumlah penelitian berskala besar di Amerika Serikat, Eropa, hingga Asia menunjukkan bahwa orang dengan berat badan normal tetapi mengalami gangguan metabolik memiliki risiko penyakit kardiovaskular dua hingga tiga kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang metaboliknya sehat.

Risiko tersebut bahkan dinilai lebih besar pada populasi Asia. Dibandingkan masyarakat Barat, orang Asia cenderung memiliki penumpukan lemak visceral pada berat badan yang lebih rendah.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Metabolism juga menunjukkan bahwa orang dewasa Asia dengan diabetes justru lebih banyak yang bertubuh langsing dibandingkan obesitas.

Baca Juga: Hanya 4,9 Persen Pasien Diabetes Berisiko Tinggi di Indonesia Capai Target Kolesterol LDL

Temuan tersebut memperkuat bahwa berat badan normal bukan jaminan seseorang terbebas dari kolesterol tinggi maupun gangguan metabolik. Karena itu, pemeriksaan profil lipid secara berkala menjadi langkah penting untuk mendeteksi risiko penyakit kardiovaskular sejak dini.

Menurut dr. Susetyo, pedoman terbaru juga merekomendasikan pasien dengan risiko kardiovaskular sangat tinggi untuk menurunkan kadar LDL-C hingga di bawah 55 mg/dL, sekaligus mencapai penurunan minimal 50 persen dari kadar awal.

"Pada kelompok pasien tersebut berlaku prinsip 'semakin rendah, semakin baik'. Berbagai bukti klinis menunjukkan bahwa semakin rendah kadar LDL-C yang dicapai, semakin rendah pula risiko serangan jantung, stroke, dan kematian akibat penyakit kardiovaskular," jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa dislipidemia atau gangguan kadar lemak darah sering kali berkembang tanpa gejala. Oleh sebab itu, masyarakat yang memiliki riwayat keluarga penyakit jantung, diabetes, maupun hipertensi dianjurkan menjalani pemeriksaan profil lipid secara rutin agar kondisi dapat terdeteksi lebih awal.

Dalam penanganannya, terapi kombinasi statin dan ezetimibe menjadi salah satu pendekatan yang dinilai efektif. Statin bekerja menghambat produksi kolesterol di hati, sedangkan ezetimibe mengurangi penyerapan kolesterol di usus.

Kombinasi keduanya dalam satu tablet mampu menurunkan kadar LDL-C secara lebih optimal, sekaligus mengurangi kebutuhan penggunaan statin dosis tinggi dan membantu meningkatkan kepatuhan pasien menjalani terapi jangka panjang.

Sementara itu, Head of Brand and Marketing Daewoong, dr. Wicak Prasetiadi, mengatakan bahwa edukasi mengenai risiko penyakit kardiovaskular perlu terus diperluas agar masyarakat tidak lagi menilai kesehatan hanya dari bentuk tubuh.

"Sesi ini bertujuan meluruskan anggapan bahwa orang bertubuh langsing terbebas dari risiko penyakit kardiovaskular. Sebagai mitra tepercaya dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Indonesia, Daewoong akan terus memperluas edukasi mengenai pencegahan dan penanganan penyakit kardiovaskular agar masyarakat semakin memahami pentingnya pemeriksaan rutin dan penanganan yang tepat untuk menjaga kesehatan jantung," tutup dr. Wicak.

Baca Juga: Badan Kurus Bukan Jaminan Kolesterol Normal, Dokter Ahli Ungkap Penyebabnya