Perjalanan industri kecantikan mengalami pasang-surut. Meskipun tak selamanya berada di atas, industri ini tetap menunjukkan tren yang positif.

Terbaru, data menunjukkan bahwa industri kecantikan terus mengalami pertumbuhan pesat, meskipun di tengah persaingan yang semakin ketat dan dinamika daya beli yang tidak stabil, terutama di Asia Tenggara.

Dr. Kilala Tilaar, CEO dari Martha Tilaar Group, menyampaikan bahwa industri kecantikan di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan, bahkan jumlah pemain baru di sektor ini bertambah drastis dalam beberapa tahun terakhir.

"Pada tahun 2024, jumlah pemain industri kosmetik mencapai 1.700, meningkat 700 hanya dalam waktu setengah tahun. Ini menunjukkan bahwa meski kompetisi makin sengit, industri ini sangat menarik bagi banyak pihak," ungkapnya dalam sebuah sesi diskusi bertema "Be Agile, Be Relevant: Growing in the Turbulent Beauty Industry" pada Rabu (23/10/2024).

Baca Juga: Dukung Industri Kecantikan Lokal, Nose Herbalindo Manfaatkan Tanaman Khas untuk Produksi Skincare Berkualitas

Tren kecantikan sendiri mengalami pergeseran, dari dominasi make-up ke skincare. Menurut pria yang kariba disapa Dr. Kiki itu, lonjakan ini terutama dipicu oleh pandemi COVID-19, yang mengubah preferensi konsumen dari produk dekoratif ke produk perawatan diri.

"Selama pandemi, ketika interaksi sosial berkurang, orang-orang lebih fokus pada perawatan diri, termasuk skincare. Hal ini masih berlanjut hingga sekarang," tambahnya.

Selain itu, riset yang dibacakan dalam diskusi menunjukkan bahwa di tengah daya beli yang menurun, parfum menjadi salah satu produk yang tetap diminati oleh konsumen, terutama kalangan Gen Z dan kelas menengah.

Menurut survei, parfum, sunscreen, dan produk perawatan rambut menjadi tiga kategori yang paling sedikit dipangkas dari anggaran kecantikan konsumen, menegaskan pentingnya produk-produk ini dalam rutinitas kecantikan mereka.

Baca Juga: 5 Manfaat Yoga bagi Kecantikan, Kulit Wajah Jadi Makin Merona!

Fenomena menarik lainnya adalah bagaimana konsumen muda, terutama Gen Z, merespons brand-brand kosmetik yang sudah lama eksis. Sebanyak 58% dari responden survei menganggap brand lama masih relevan, meskipun 38% dari mereka berharap adanya lebih banyak inovasi. Hal ini sejalan dengan tren yang mempromosikan penggunaan unsur budaya lokal dalam produk kecantikan, di mana brand seperti Martha Tilaar tetap mendapatkan tempat di hati konsumen muda.

Yuswadi, Chairman dari Indonesia Industry Outlook, menyoroti munculnya indie brands sebagai salah satu faktor utama di balik semakin kompetitifnya industri kecantikan. "Kemudahan akses untuk memulai bisnis kosmetik telah memungkinkan lebih banyak orang untuk terjun ke dalam industri ini. Kita melihat indie brands yang berhasil mendobrak pasar dan menarik perhatian konsumen, terutama dengan produk-produk yang sesuai tren dan viral di media sosial," ujarnya.

Menurut Yuswadi, perubahan besar di industri ini juga didorong oleh digitalisasi dan meningkatnya peran media sosial, terutama di kalangan Gen Z.

Baca Juga: Rekomendasi Klinik Kecantikan yang Hadirkan Inovasi Perawatan Kulit Wajah: Bantu Lawan Tanda-tanda Penuaan Dini

"Penampilan diri, self-branding, dan promosi diri menjadi sangat penting, terutama di platform seperti Instagram dan TikTok. Ini membuat produk kecantikan, termasuk make-up dan skincare, tetap menjadi prioritas meski kondisi ekonomi sedang menantang,” tukasnya.

Meskipun persaingan semakin ketat, peluang di industri kecantikan tetap terbuka lebar bagi brand besar maupun kecil. Kunci keberhasilan, menurut Dr. Kiki, adalah kemampuan beradaptasi dan berinovasi secara berkelanjutan.

"Dulu, kita bisa merilis produk baru setahun sekali. Sekarang, setiap kuartal harus ada inovasi baru untuk tetap relevan di pasar," terang Dr. Kiki..

Hal ini menunjukkan bahwa industri kecantikan masih memiliki masa depan yang cerah, asalkan para pelaku industri mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan tren dan kebutuhan konsumen.