Upaya menciptakan masyarakat yang inklusif bagi individu neurodivergent tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan pendekatan yang menyeluruh, berkelanjutan, dan melibatkan banyak pihak.
Inilah yang coba diwujudkan oleh Aktivis Neurodivergent, Kris Mayana Simbolon, melalui berbagai program yang dirancang Yayasan Inspirasy Indonesia untuk mendampingi individu neurodivergent dan keluarganya dari usia dini hingga dewasa.
Kris menjelaskan bahwa saat ini Yayasan Inspirasy Indonesia menjalankan tiga program inti yang saling terhubung dan dijalankan secara bertahap.
“Oke, kami menjalankan tiga program inti secara sinergis yang tentunya masih bertahap,” tuturnya, saat ditemui Olenka, di Jakarta, belum lama ini.
Dijelaskan Kris, program pertama adalah Link and Match, yakni sebuah program fasilitasi pekerjaan yang menjadi flagship mereka. Program ini bertujuan menjembatani individu dengan neurodiversity dengan perusahaan yang tepat. Namun kata dia, pendekatannya tidak sekadar penempatan kerja.
“Kami tidak hanya menempatkan individual tersebut di dalam pekerjaan, tapi kami juga melakukan assessment untuk memahami kekuatan, minat, dan dukungan terhadap individual tersebut secara komprehensif,” kata Kris.
Selain itu, lanjut Kris, perusahaan juga mendapatkan edukasi dan pelatihan mengenai neurodiversity serta cara membangun lingkungan kerja yang inklusif.
Proses job matching ini dilengkapi dengan konsultasi personal dan dukungan berkelanjutan seperti job coaching dan mentoring. Bahkan, terdapat program sertifikasi bagi perusahaan yang dinilai unggul dalam praktik perekrutan yang inklusif.
Program kedua adalah Resource Sharing, yang berfokus pada berbagi sumber daya dengan komunitas. Menurut Kris, program ini lahir untuk menjawab tantangan aksesibilitas dan keterbatasan biaya yang sering dihadapi keluarga individu neurodivergent.
“Program ini menjawab tantangan aksesibilitas dan efisiensi sumber daya, seperti perpustakaan untuk peminjaman peralatan terapi, adaptive equipment, atau teknologi bantu yang tidak terjangkau secara biaya,” jelasnya.
Tak hanya itu, pihaknya juga rutin menggelar workshop regular bersama terapis dan para ahli, menyediakan platform digital berisi materi edukatif, serta membangun peer support networks.
“Dukungan ini tidak hanya ditujukan bagi individu neurodivergent, tetapi juga bagi orang tua dan anggota keluarga lainnya,” ujarnya.
Baca Juga: Tantangan dan Peluang Inklusi Neurodivergent di Indonesia