Selain Parkinson, teknologi neuromodulasi juga dapat menjadi pilihan bagi pasien epilepsi kebal obat melalui prosedur VNS. Berbeda dengan DBS yang menargetkan area tertentu di otak, VNS bekerja dengan memberikan stimulasi listrik melalui saraf vagus, yakni saraf yang menghubungkan otak dengan sejumlah organ tubuh.

Dalam prosedur ini, perangkat stimulator ditanam di bawah kulit dada dan dihubungkan dengan elektroda pada saraf vagus di leher. Stimulasi yang diberikan diharapkan membantu mengurangi frekuensi maupun tingkat keparahan kejang.

Menurut dr. Kevin, VNS dapat dipertimbangkan bagi pasien epilepsi tertentu, terutama ketika operasi untuk mengangkat fokus kejang bukan pilihan yang sesuai.

“VNS menjadi pilihan bagi pasien epilepsi tertentu, terutama pada kondisi kasus epilepsi kebal obat, yang fokus kejangnya tidak memungkinkan diangkat karena fokus kejangnya dekat dengan bagian vital otak, atau terdapat fokus kejang yang banyak. Selain itu, VNS juga bermanfaat bagi ODE yang telah menjalani bedah epilepsi, tetapi kejang belum terkendali,” ungkapnya.

Meski dapat membantu mengurangi frekuensi kejang pada sebagian pasien, VNS tidak menjamin kejang akan berhenti sepenuhnya. Terapi ini juga tidak menggantikan kebutuhan obat anti bangkitan tanpa arahan dokter. Evaluasi oleh tim medis tetap diperlukan untuk menentukan manfaat yang mungkin diperoleh pasien.

Perkembangan bedah saraf fungsional turut membuka peluang penanganan gangguan neurologis melalui pendekatan yang semakin terarah. Teknologi pencitraan, seperti MRI dan PET Scan, sistem navigasi, serta pemantauan saraf selama operasi atau intraoperative nerve monitoring, dapat mendukung perencanaan dan pelaksanaan tindakan sesuai kebutuhan medis.

Melalui NeuroPrime, Mitra Keluarga Kemayoran menyediakan layanan bedah saraf fungsional untuk berbagai kondisi, termasuk Parkinson, tremor esensial, distonia, dan epilepsi. Layanan lainnya meliputi microvascular decompression untuk hemifacial spasm dan trigeminal neuralgia, serta sejumlah prosedur bedah saraf lainnya.

Pilihan penanganan tidak terbatas pada operasi. Evaluasi multidisiplin menjadi bagian penting untuk mempertimbangkan kondisi pasien, riwayat pengobatan, hingga alternatif terapi yang paling sesuai.

“Kami ingin masyarakat mengetahui bahwa Indonesia sudah memiliki teknologi bedah saraf modern untuk menangani Parkinson maupun epilepsi. Yang terpenting adalah pasien mendapatkan evaluasi sejak dini agar dapat diketahui apakah terapi seperti DBS atau VNS merupakan pilihan yang tepat,” tutup dr. Kevin Gunawan.

Baca Juga: Pertama di Indonesia, Siloam Hospitals Asri Gandeng Asan Medical Center Korea untuk Transplantasi Ginjal Robotik