PT Bank QNB Indonesia Tbk membukukan kinerja positif di tengah ketidakpastian global dan domestik yang masih sangat dinamis. Sepanjang paruh pertama tahun 2026, QNB Indonesia membukukan kenaikan laba bersih 178% menjadi Rp29,6 miliar.
Direktur Utama QNB Indonesia, Nick Groene, mengungkapkan bahwa kinerja perusahaan pada semester pertama 2026 menunjukkan bagaimana pertumbuhan yang disiplin dapat mendorong hasil yang berkelanjutan dengan profitabilitas yang lebih kuat sejalan dengan pertumbuhan neraca dan perbaikan kualitas aset, serta menjaga modal dan likuiditas tetap kokoh.
“Di tengah ketidakpastian global dan domestik, kami tetap fokus untuk tumbuh lebih kuat, mendorong bisnis yang lebih sehat melalui penerapan manajemen risiko yang lebih hati-hati, penyaluran pembiayaan yang lebih berkelanjutan, serta membangun relasi jangka panjang dengan para Nasabah,” ungkap Nick Groene, dalam keterangan resmi, Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Baca Juga: Kredit Tumbuh 18%, Bank QNB Indonesia Kantongi Laba Rp50,8 Miliar di Tengah Tantangan Global
Ia menambahkan, Bank QNB Indonesia berada pada posisi yang tepat untuk menjadi penghubung antara pelaku usaha di Indonesia dengan pasar regional dan internasional, maupun sebaliknya.
"Dengan memadukan kekuatan jaringan internasional QNB Group, investasi yang berkelanjutan pada teknologi, serta kapabilitas sumber daya manusia, Bank terus berupaya untuk menciptakan nilai tambah dalam menjalankan bisnisnya," tambahnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, meskipun beroperasi di tengah volatilitas pasar keuangan global dan kondisi moneter yang ketat, QNB Indonesia tetap menjalankan strategi pertumbuhan yang seimbang dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan risiko.
Strategi tersebut menghasilkan berbagai capaian positif, seperti total aset Bank tumbuh 9% mencapai Rp14,4 triliun pada 30 Juni 2026, dari Rp13,2 triliun pada akhir 2025. Sementara itu, pinjaman bruto tumbuh 2% mencapai Rp10,0 triliun dari Rp9,8 triliun pada akhir tahun lalu yang mencerminkan komitmen Bank dalam mendukung sektor korporasi di Indonesia di tengah kondisi yang dunia usaha yang cenderung lebih berhati-hati.
Pertumbuhan ini juga diiringi oleh perbaikan kualitas portofolio. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan) Bank membaik ke level 1,84% pada H1/2026 dari 3,31% pada H1/2025 yang mencerminkan kehati-hatian Bank dalam melakukan penyaluran pinjaman dan pengelolaan risiko pinjaman yang efektif.
Di sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 4% mencapai Rp8,5 triliun, dari Rp8,1 triliun pada akhir 2025, tumbuh lebih cepat dibandingkan pinjaman dan mempertegas posisi likuiditas Bank.
Selama periode tersebut, Bank QNB Indonesia juga mempertahankan fondasi keuangan yang kuat. Rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) tetap berada pada level yang kokoh sebesar 53,85%, memberikan ruang yang memadai untuk mendukung pertumbuhan bisnis ke depan. Sementara itu, rasio-rasio likuiditas lainnya juga masih berada di atas ketentuan minimum regulator dengan Liquidity Coverage Ratio mencapai 144,33% dan Net Stable Funding Ratio mencapai 129.83%.
Memasuki paruh kedua 2026, Bank akan terus berfokus pada pengembangan segmen corporate dan institutional banking dengan memperdalam hubungan dengan perusahaan-perusahaan besar, korporasi multinasional, serta badan usaha milik negara (BUMN), sambil tetap menerapkan pengelolaan biaya dan risiko secara hati-hati.
Sebagai bagian dari strategi tersebut, Bank QNB Indonesia akan terus mengoptimalkan kolaborasi dengan QNB Group, termasuk jaringan kantor cabang dan entitas anak usahanya di berbagai negara, untuk membuka lebih banyak peluang bisnis lintas negara (cross-border).
Seiring dengan pengembangan bisnis, Bank juga akan mendorong akselerasi kapabilitas teknologi sebagai bagian dari upaya transformasi bisnis, meningkatkan layanan nasabah, serta mendorong efisiensi operasional. Bank juga akan terus berinvestasi dalam pengembangan sumber daya manusia yang siap berkembang bersama Bank dan mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan.