Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terjun bebas dalam dalam beberapa bulan terakhir. Sampai saat ini belum ada tanda-tanda rupiah kembali membaik. Nilai tukar yang mencapai Rp17.500 menjadikan rupiah sebagai mata uang terlemah di Asean sekaligus mencetak rekor nilai tukar terlemah sepanjang sejarah.
Banyak pihak mendesak pemerintah gerak cepat mengangkat rupiah yang sedang tiarap, lemahnya nilai tukar rupiah dipandang sebagai gejala awal kehancuran ekonomi. Padahal pelemahan nilai tukar mata uang sebuah negara tak selalu menjadi kabar buruk yang dipandang negatif.
Baca Juga: Kondisi Rupiah vs 10 Mata Uang Negara Asal Impor Tertinggi Indonesia
Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Eddy Junarsin mengatakan tiarapnya rupiah tak bisa selalu diprespsikan negatif, jika melihat lebih jelih kondisi ini justru menciptakan banyak peluang baru. Memang pelemahan mata uang ini punya dua sisi yang masing-masingnya punya kelebihan dan kekurangan.
Bagi badan usaha yang selama ini mengandalkan impor, tiarapnya rupiah bisa menjadi pukulan hebat, rupiah yang anjlok jelas mengguncang usaha mereka karena perbedaan nilai mata uang yang tak seimbang.
Tetapi bagi badan usaha yang berorientasi pada ekspor melemahnya rupiah adalah angin segar yang mesti disambut gembira.
Kondisi tersebut dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan yang menggunakan modal rupiah tetapi memperoleh pendapatan dalam dolar AS.
“Meskipun dapat dipersepsikan ‘turun kelas’ atau ‘kurang diminati’, sebenarnya depresiasi mata uang itu banyak manfaatnya jika negara mampu memanfaatkan momentum tersebut. Misalnya, produk negara itu menjadi lebih kompetitif untuk diekspor ke negara lain,” kata Eddy dilansir Senin (19/5/2026).
Apabila negara pandai memanfaatkan momentum ini, maka seluruh kekhawatiran masyarakat karena penurunan nilai tukar rupiah tidak bakal terjadi. Misalnya saja ketakutan akan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal karena kondisi ekonomi yang terseok-seok.
Justru sebaliknya kata Edy momentum ini bisa menyerap tenaga kerja baru dalam jumlah yang besar, tetapi dengan catatan bahwa aktivitas ekspor produk dalam negeri meningkat seiring pelemahan rupiah.
“Lapangan kerja ada kemungkinan meningkat di sektor produktif karena peningkatan potensi ekspor,” ujarnya.
Selain dua peluang tadi, keuntungan lainnya yang bisa didapat dari anjloknya nilai tukar rupiah adalah penghematan biaya operasional di dalam negeri yang dapat menarik aliran modal asing dalam bentuk foreign direct investment (FDI).
“Lebih murahnya biaya beroperasi di dalam negeri menyebabkan derasnya capital inflow dari luar dalam bentuk foreign direct investment sehingga ekonomi bisa tumbuh dan lapangan kerja meningkat,” sambungnya.
Meski Edy kembali menekan bahwa tak semua sektor bisa mendapatkan manfaat dari depresiasi rupiah. Industri yang sangat bergantung pada komponen impor justru akan terdampak negatif.
Baca Juga: Dampak Fluktuasi Dolar Terhadap Masyarakat Pedesaan
Menurut Eddy, sektor seperti migas, bahan makanan impor, mesin, hingga alat berat menjadi industri yang paling rentan terhadap pelemahan rupiah