Nama Nadiem Makarim tengah menjadi sorotan publik setelah Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) itu dituntut 18 tahun penjara dalam kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook dan Chrome Device Management (CDM).
Banyak pihak menilai kasus Nadiem syarat politisasi, kasusnya dianggap janggal dan penuh intrik. Sebagiannya lagi menganggap tuntuan 18 tahun penjara itu tak masuk akal sebab biar bagaimanapun Nadiem telah berjasa besar untuk bangsa ini dalam membuka lapangan pekerjaan lewat Go-Jek.
Baca Juga: Cerita Wapres Gibran yang Dicuekin Menteri Nadiem Makarim
Terlepas dari kasus yang menjeratnya saat ini, jasa besar Nadiem memang tidak boleh dilupakan begitu saja. Ia menjadi sosok pionir yang menginsiasi berdirinya transportasi daring di Indonesia yang memberi kesempatan kerja pada jutaan masyarakat.
Awal Merintis Go-Jek
Transpprtasi berbasis online Go-Jek didirikan Nadiem pada 2010 lalu. Ide membangun aplikasi daring itu berangkat dari keresahan Nadiem soal tata kelola serta kebutuhan masyarakat kota akan sistem transportasi yang fleksibel.
Jebolan magister bisnis administrasi Harvard itu memulai Go-Jek dengan hanya mempekerjakan 20 pengemudi (driver).
Di era itu transportasi online benar-benar masih menjadi barang baru di Indonesia, itu sebabnya bisnis Nadiem sama sekali tak dilirik investor.
Meski begitu Nadiem menolak menyerah, dengan modal pas-pasan yang ia rogoh dari kocek pribadinya Nadiem mantap melanjutkan bisnisnya yang berkantor di sebuah bangunan mini ukuran 5 x 7 meter.
Di perjalanan awalnya teknologi Go-Jok tentu saja tak secanggih sekarang, ketika itu Nadiem memulai dengan sistem call center yang mengharuskan penumpang menelepon kantor Gojek sebelum perusahaan menghubungi ojek terdekat untuk menjemput mereka.
Harus diakui Nadiem adalah pribadi ulet. Baginya menyerah adalah sebuah kemustahilan. Ia menco berbagai cara untuk mengembangkan bisnisnya kendati sama sekali tak dilirik imvestor.
Hingga pada 2015, Nadiem berhasil membuat aplikasi Go-Jek untuk smart phone. Dari sini Go-Jek berlahan berevolusi menjadi daily super app yang menyediakan segala kebutuhan pengguna melalui ekosistem layanan mereka. Ini menjadi titik balik perjalanan Nadiem membangun Go-Jek, investor mulai berdatangan.
Investor Pertama
Transformasi besar yang dilakukan Go-Jek sukses membuat sejumlah pemilik modal kepincut, namun tidak semuanya berani berinvestasi.
Namun salah satu pihak yang sudah menaruh perhatian khusus dan akhirnya memutuskan berinvestasi adalah Patrick Walujo sosok yang menjadi cikal bakal menjadi Ceo GOTO.
Patrick Walujo melalui perusahaan ekuitas swasta Northstar Group percaya diri menaruh sejumlah modal di Go-Jok yang membuat perusahaan transportasi itu terus berkembang pesat.
Sejak pendanaan perdana tersebut, Gojek terus menarik investor global kelas kakap lainnya seperti Google yang masuk pada tahun 2017.
Data terbaru menurut laporan Crunchbase, hingga saat ini Go-Jek telah memiliki 28 investor sejak 2014 dengan total pendanaan yang sudah diraihnya mencapai 3,1 miliar dolar AS.
Dengan sokongan tersebut, Gojek mampu menembus status decacorn, gelar untuk startup yang valuasinya tembus 10 miliar dolar AS, per April 2019. Sebelumnya, perusahaan terlebih dahulu mendapatkan status unicorn, sebutan startup yang valuasinya mencapai 1 miliar dolar AS, pada Agustus 2016.
Baca Juga: Aksi Prabowo Lapor LHKPN Harus Jadi Contoh Bagi Pejabat Publik
Selain itu, kebesaran Gojek juga dapat dilihat dari ekspansinya ke luar Indonesia. Saat ini mereka sudah membuka cabangnya di Vietnam dengan anak usaha bernama Go-Viet, Thailand dengan unit bisnis Get, dan Singapura dengan nama tetap Gojek.