Growthmates, penyakit hati kerap dikaitkan dengan kebiasaan mengonsumsi alkohol. Padahal, seseorang yang tidak pernah minum alkohol sekalipun tetap berisiko mengalami gangguan kesehatan hati, salah satunya penyakit perlemakan hati.

Tanpa disadari, sejumlah kebiasaan sehari-hari seperti makan terlalu larut malam, mengonsumsi jus kemasan, kurang bergerak, hingga tidur terlalu singkat dapat memengaruhi kesehatan metabolisme tubuh dan meningkatkan risiko penumpukan lemak di hati.

Kondisi ini semakin perlu diwaspadai karena perlemakan hati sering berkembang tanpa gejala yang jelas. Bahkan, banyak orang baru mengetahuinya ketika menjalani pemeriksaan kesehatan rutin.

Dr. Jaya Agarwal, Konsultan sekaligus Asisten Profesor Bedah Gastrointestinal di Amrita Hospital, Faridabad, mengungkapkan bahwa kasus perlemakan hati pada orang yang tidak mengonsumsi alkohol semakin banyak ditemukan.

"Dalam praktik klinis, kami menjumpai semakin banyak pasien dengan perlemakan hati yang tidak memiliki riwayat konsumsi alkohol," tukasya.

Jika dibiarkan, penumpukan lemak pada hati dapat berkembang menjadi peradangan, pembentukan jaringan parut, bahkan sirosis.

Dikutip dari Times of India, Kamis (5/11/2026), berikut lima kebiasaan sehari-hari yang perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko perlemakan hati.

1. Makan Larut Malam dan Langsung Tidur

Makan malam terlalu larut tidak serta-merta merusak hati. Namun, kebiasaan mengonsumsi makanan dalam porsi besar menjelang tidur dapat berkaitan dengan pola makan tidak teratur, kebiasaan ngemil, dan asupan kalori berlebihan.

Risiko semakin meningkat jika makanan yang dikonsumsi didominasi karbohidrat olahan, makanan tinggi gula, serta hidangan penutup manis. Jika berlangsung terus-menerus, kelebihan kalori dapat mendorong penumpukan lemak di hati.

Karena itu, penting untuk mengatur jadwal makan, memperhatikan porsi, dan memilih menu makan malam yang seimbang. Hindari pula kebiasaan makan berlebihan menjelang waktu tidur.

2. Menganggap Jus Kemasan Selalu Menyehatkan

Jus buah sering dianggap sebagai pilihan minuman sehat. Padahal, jus kemasan belum tentu memiliki kandungan nutrisi yang setara dengan buah utuh.

Jus umumnya mengandung lebih sedikit serat dibandingkan buah utuh. Beberapa produk juga memiliki tambahan gula yang dapat meningkatkan asupan kalori harian.

Jika dikonsumsi terlalu sering, minuman tinggi gula dapat berkontribusi terhadap penumpukan lemak di hati, terutama ketika asupan kalori melebihi kebutuhan tubuh.

Untuk pilihan yang lebih sehat, konsumsi buah dalam bentuk utuh dan biasakan minum air putih. Dengan begitu, tubuh tetap memperoleh serat tanpa tambahan gula yang tidak diperlukan.

Baca Juga: 8 Tanda Liver Membutuhkan Diet Sehat dan Olahraga Teratur

3. Olahraga Sebentar, tetapi Duduk Sepanjang Hari

Berjalan kaki pada pagi hari atau rutin pergi ke pusat kebugaran memang baik untuk kesehatan. Namun, aktivitas tersebut belum tentu cukup untuk mengimbangi kebiasaan duduk selama berjam-jam.

Kurangnya aktivitas fisik dapat mengganggu sensitivitas insulin serta kemampuan tubuh mengolah gula dan lemak. Kondisi resistensi insulin juga dapat mendorong hati menyimpan lebih banyak lemak.

Karena itu, penting untuk tetap aktif sepanjang hari. Selingi pekerjaan dengan berdiri, berjalan kaki sebentar, atau melakukan peregangan di sela-sela aktivitas.

Jangan hanya mengandalkan olahraga singkat sebagai satu-satunya aktivitas fisik harian.

4. Terbiasa Tidur Hanya Lima Jam

Kurang tidur bukan hanya membuat tubuh mudah lelah, tetapi juga dapat mengganggu metabolisme.

Kebiasaan tidur terlalu singkat dapat memengaruhi pengaturan nafsu makan, kadar gula darah, dan keseimbangan energi tubuh. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan metabolisme yang berkaitan dengan penyakit perlemakan hati.

Meski satu malam kurang tidur tidak langsung menyebabkan kerusakan hati, kebiasaan kurang istirahat yang berlangsung terus-menerus patut diwaspadai.

Bagi kebanyakan orang dewasa, tidur selama tujuh hingga sembilan jam setiap malam dapat membantu menjaga kesehatan dan mendukung fungsi metabolisme tubuh.

5. Merasa Aman karena Berat Badan Normal

Memiliki tubuh ramping atau berat badan ideal bukan jaminan hati terbebas dari penumpukan lemak.

Sebagian orang, termasuk kelompok Asia Selatan, dapat memiliki penumpukan lemak di sekitar organ dalam meskipun indeks massa tubuh (IMT) masih berada dalam kategori normal.

Lemak viseral tersebut berkaitan dengan resistensi insulin dan peningkatan risiko gangguan metabolisme. Karena itu, kesehatan tubuh tidak cukup dinilai hanya dari angka timbangan.

Ukuran lingkar pinggang, kadar gula darah, profil lemak darah, dan indikator kesehatan lainnya juga perlu diperhatikan.

Dr. Agarwal mengingatkan bahwa perlemakan hati tidak selalu menimbulkan gejala yang mudah dikenali. Artinya, seseorang bisa saja terlihat sehat, tetapi memiliki masalah metabolisme yang berkembang secara perlahan.

Baca Juga: Masuk Usia 30-an, Waspadai Fatty Liver yang Bisa Datang Tanpa Gejala