Growthmates, perlemakan hati atau fatty liver kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia muda, termasuk mereka yang memasuki usia 30-an.

Kondisi yang dalam istilah medis dikenal sebagai metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD) ini tidak hanya berkaitan dengan berat badan berlebih, tetapi juga menjadi salah satu tanda adanya gangguan metabolisme tubuh.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr. Widya Khairunnisa Sarkowi, MSc, mengungkapkan, fatty liver terjadi ketika lemak menumpuk di dalam hati. Kondisi tersebut kerap berkembang tanpa gejala yang jelas sehingga seseorang bisa merasa sehat meski sudah mengalami perlemakan hati.

“Banyak orang merasa sehat, tetapi saat diperiksa melalui USG (ultrasonografi) atau tes enzim hati, sudah ditemukan perlemakan hati. Individu dengan obesitas, diabetes melitus, maupun gangguan metabolik lainnya memiliki risiko lebih tinggi mengalami fatty liver,” ungkap dr. Widya, dikutip dari laman IPB University, Kamis (8/10/2026).

dr. Widya menambahkan, fatty liver bahkan kerap disebut sebagai silent killer karena dapat berkembang secara perlahan tanpa menunjukkan tanda-tanda klinis yang khas. Jika tidak ditangani, perlemakan hati dapat berlanjut menjadi peradangan, fibrosis, sirosis, hingga meningkatkan risiko kanker hati.

Secara global, prevalensi fatty liver diperkirakan telah mencapai sekitar 30 persen dan masih menunjukkan tren peningkatan. Di Indonesia, meningkatnya masalah obesitas juga menjadi salah satu sinyal yang perlu diperhatikan.

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi obesitas pada orang dewasa meningkat dari 21,8 persen pada 2018 menjadi 23,4 persen pada 2023. Sementara itu, prevalensi obesitas sentral pada penduduk berusia di atas 15 tahun mencapai 36,8 persen.

Menurut dr. Widya, angka tersebut menggambarkan semakin besarnya masalah metabolik di masyarakat. Obesitas, terutama penumpukan lemak di area perut, diabetes, kolesterol tinggi, hipertensi, pola makan tinggi gula dan kalori, serta kurangnya aktivitas fisik merupakan sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko fatty liver.

Yang perlu diperhatikan, perlemakan hati tidak hanya terjadi pada orang yang mengalami kelebihan berat badan. Kata dr. Widya, seseorang dengan berat badan normal tetap dapat mengalami fatty liver jika memiliki perut buncit, resistensi insulin, diabetes, pola makan tinggi gula, atau kurang melakukan aktivitas fisik.

“Penggunaan obat-obatan saja tidak cukup tanpa diiringi perubahan pola hidup yang sehat. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa perubahan gaya hidup tetap menjadi cara paling efektif untuk mencegah dan mengatasi fatty liver,” katapnya.

Karena itu, masyarakat juga diingatkan untuk tidak mudah tergiur berbagai solusi instan, seperti suplemen, produk detoks, maupun herbal yang diklaim dapat “membersihkan hati”. Menurut dr. Widya, perbaikan pola hidup tetap menjadi bagian penting dalam menangani masalah tersebut.

Baca Juga: Panduan Diet 7 Hari ‘Melawan’ Fatty Liver Secara Alami