Menurut Jahja, sikap rendah hati atau humbleness juga menjadi salah satu kunci penting dalam kepemimpinan.
Ia percaya, cara seorang pemimpin menyapa dan memperlakukan orang lain akan memberikan dampak besar terhadap budaya kerja di perusahaan.
“Mulut kita ini adalah sumber. Mulut Anda baik, kita simple dengan orang, sederhana, kita bersapa baik. Orang itu impact-nya besar sekali mungkin kita gak rasakan,” ungkapnya.
Jahja kemudian mencontohkan budaya ramah yang kini melekat di lingkungan BCA. Ia menilai budaya tersebut tidak tercipta begitu saja, melainkan lahir dari kebiasaan para pemimpin yang memberi contoh secara langsung kepada karyawannya.
“Jadi kalau sekarang di BCA ada culture yang ramah, dekat dengan para nasabah. Karena apa? Karena saya kalau ke cabang-cabang, kunjungan ke cabang, ke wilayah, gak nanyain kerjaan,” ujarnya lagi.
Jahja menjelaskan, kebiasaan seorang pemimpin akan mudah ditiru oleh jajaran di bawahnya. Kepala wilayah dan kepala cabang, kata Jahja, cenderung melakukan hal serupa setelah melihat contoh yang diberikan pimpinan tertinggi perusahaan.
“Nah itu menyebabkan kepala wilayah ngelihat, kepala cabang ngeliat. Mereka copy-paste,” kata Jahja.
Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa jika seorang leader hanya datang untuk membahas target dan pekerjaan, maka pola kepemimpinan yang kaku itu juga akan diteruskan ke level bawah organisasi.
“Ke depan cuman nanya kerjaan, ya jangan heran mereka juga akan begitu ke bawahannya,” tandas Jahja.
Baca Juga: Tentang Perjalanan Jahja Setiaatmadja, dari Mimpi yang Kandas Menuju Puncak Karier di BCA