Bahan Baku dan Barang Modal Dorong Pertumbuhan Impor
Pada Agustus 2026, nilai impor Indonesia tercatat sebesar USD 23,06 miliar atau turun 11,63 persen dibandingkan Juli 2026 (MtM), tetapi naik 19,09 persen dibandingkan Agustus 2025 (YoY). Pelemahan impor secara bulanan terutama disebabkan oleh kontraksi impor baik nonmigas yang turun sebesar 12,52 persen maupun migas yang turun sebesar 6,37 persen (MtM).
Mendag Busan menjelaskan, pelemahan impor Agustus 2026 terjadi pada seluruh kelompok penggunaan barang. Impor barang modal turun paling dalam dibandingkan kelompok lainnya dengan nilai sebesar 16,04 persen, diikuti oleh impor bahan baku dan penolong yang turun 11,11 persen, serta barang konsumsi yang turun 5,95 persen (MtM).
Baca Juga: Kemendag: Hilirisasi Industri Agro Penopang Kinerja Ekspor & Nilai Tambah Nasional
Secara kumulatif, total impor Januari–Agustus 2026 mencapai US$186,39 miliar atau tumbuh 19,84 persen dari Januari–Agustus 2025 (CtC). Kenaikan tersebut ditopang oleh impor sektor nonmigas yang naik 16,83 persen dan migas yang naik 39,03 persen (CtC).Tiongkok, Jepang, dan Australia mendominasi negara asal impor nonmigas Indonesia pada Januari–Agustus 2026 dengan kontribusi gabungan mencapai 52,72 persen. Sementara itu, negara asal impor nonmigas dengan pertumbuhan terbesar, yakni Prancis yang naik 138,85 persen, Rusia 66,77 persen, dan Argentina 59,57 persen (CtC).
“Seluruh komponen impor mencatatkan pertumbuhan positif sepanjang Januari–Agustus 2026. Peningkatan tertinggi tercatat pada impor bahan baku dan penolong yang naik 20,67 persen, diikuti barang modal sebesar 18,82 persen, dan barang konsumsi sebesar 15,48 persen (CtC). Hal ini mencerminkan tingginya aktivitas di sektor manufaktur dan geliat perekonomian domestik yang terus berekspansi," ujar Mendag Busan.
Di sisi lain, lonjakan impor nonmigas tertinggi sepanjang Januari–Agustus 2026 terjadi pada kendaraan udara dan bagiannya (HS 88) yang melonjak sebesar 372,70 persen. Selain itu, impor garam, belerang, batu, dan semen (HS 25) naik 130,00 persen; serta bijih logam, terak, dan abu (HS 26) naik 51,30 persen (CtC).