Growthmates, bekerja dari rumah alias work from home (WFH) menawarkan banyak kenyamanan. Tak perlu menghadapi kemacetan saat berangkat kerja, lebih leluasa mengatur waktu, dan bisa menyelesaikan pekerjaan dari ruang yang paling nyaman.

Namun, di balik fleksibilitas tersebut, ada satu hal yang mungkin perlahan hilang dari rutinitas sehari-hari, yakni interaksi dengan orang lain.

Tak ada rekan kerja yang mampir ke meja untuk sekadar mengobrol, percakapan singkat saat menunggu kopi, atau obrolan ringan sebelum rapat dimulai. Bagi sebagian pekerja, hari kerja kini dapat berlangsung hampir sepenuhnya di rumah, tempat yang sama untuk bekerja, makan, bersantai, hingga tidur.

Dikutip dari Times of India, Rabu (16/9/2026), sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Science pada 4 Juni 2026 lalu menemukan bahwa peningkatan kerja jarak jauh setelah pandemi berkaitan dengan bertambahnya waktu yang dihabiskan sendirian dan memburuknya sejumlah indikator kesehatan mental. Dampak tersebut terlihat paling kuat pada pekerja yang tinggal sendirian.

Studi berjudul “Home alone: Remote work, isolation, and mental health” dilakukan oleh Natalia Emanuel, Emma Harrington, dan Amanda Pallais. Para peneliti menggunakan data dari lima survei yang mewakili populasi pekerja Amerika Serikat, dengan total 588.322 responden dalam rentang 2011 hingga 2024.

Tahun 2020 dan 2021, yang merupakan periode puncak pandemi Covid-19, dikeluarkan dari analisis agar perubahan setelah pandemi dapat dibedakan dari kondisi luar biasa selama pandemi.

Para peneliti membandingkan pekerja yang memiliki pekerjaan yang memungkinkan dilakukan dari jarak jauh dengan pekerja yang pekerjaannya mengharuskan kehadiran di lokasi. Kelompok dengan pekerjaan yang memungkinkan dilakukan secara remote mengalami peningkatan kerja jarak jauh yang lebih besar dan lebih menetap setelah pandemi.

Hasilnya menunjukkan bahwa pekerja dalam pekerjaan yang memungkinkan dilakukan secara remote menghabiskan sekitar satu jam lebih banyak sendirian setiap hari kerja setelah pandemi dibandingkan kelompok pembanding. Mereka juga lebih sering menghabiskan satu hari penuh tanpa kontak sosial dan mengalami penurunan aktivitas bersosialisasi setelah jam kerja.

Dampak tersebut semakin terlihat pada mereka yang tinggal sendirian. Menurut penelitian, kemungkinan pekerja yang tinggal sendiri menghabiskan satu hari penuh tanpa kontak sosial meningkat sekitar 7 poin persentase atau 83 persen. Pada kelompok yang sama, peningkatan tekanan mental juga lebih besar dibandingkan pekerja yang tinggal bersama keluarga.

Para peneliti juga menemukan perubahan pada sejumlah indikator kesehatan mental. Skor tekanan psikologis umum meningkat pada pekerja dengan pekerjaan yang memungkinkan dilakukan secara remote. Tren serupa terlihat pada frekuensi depresi, penggunaan layanan kesehatan mental, dan resep obat antidepresan.

Sebaliknya, penelitian tidak menemukan peningkatan serupa pada kunjungan ke layanan kesehatan nonmental atau resep obat nonmental, sehingga temuan tersebut tidak sekadar mencerminkan kemudahan mengakses layanan kesehatan karena fleksibilitas kerja.

Baca Juga: Journaling Dianggap Lebay? Dokter Jelaskan Manfaatnya untuk Kesehatan Mental

Menariknya, para peneliti memperkirakan peningkatan kerja jarak jauh dapat menjelaskan sekitar sepertiga dari kenaikan isolasi dan tekanan mental ketika periode 2011–2019 dibandingkan dengan 2022–2024. Namun, angka tersebut merupakan estimasi berdasarkan pendekatan penelitian pada populasi pekerja Amerika, bukan berarti kerja dari rumah menjadi satu-satunya penyebab memburuknya kesehatan mental.

Hal ini penting karena bekerja dari rumah tidak otomatis berarti seseorang mengalami isolasi sosial atau gangguan kesehatan mental. Seseorang yang bekerja dari rumah masih dapat bertemu keluarga, pasangan, teman, atau mengikuti berbagai aktivitas sosial di luar jam kerja.

Namun, bagi orang yang tinggal sendirian, tempat kerja bisa menjadi salah satu ruang penting untuk mendapatkan interaksi tatap muka secara rutin. Ketika aktivitas tersebut berpindah ke rumah, interaksi spontan yang sebelumnya menjadi bagian dari keseharian ikut berkurang.

Percakapan selama lima menit di sela pekerjaan mungkin terlihat sepele. Begitu pula sapaan singkat dari rekan kerja, makan siang bersama, atau obrolan sebelum rapat. Namun, jika interaksi kecil tersebut hilang setiap hari, akumulasinya dapat mengubah seberapa sering seseorang berinteraksi dengan orang lain sepanjang hari.

Meski demikian, temuan penelitian ini bukan berarti bekerja dari rumah selalu berdampak buruk atau pekerja harus kembali bekerja penuh waktu di kantor.

Para peneliti justru menunjukkan adanya tantangan yang perlu diperhatikan dalam pengaturan kerja jarak jauh, yakni bagaimana mempertahankan hubungan sosial ketika interaksi dengan rekan kerja tidak lagi menjadi bagian otomatis dari rutinitas sehari-hari.

Nah Growthmates, kerja dari rumah tetap menawarkan sejumlah keuntungan, mulai dari fleksibilitas hingga berkurangnya waktu perjalanan. Karena itu, persoalannya mungkin bukan semata-mata memilih antara bekerja di rumah atau di kantor, melainkan bagaimana memastikan fleksibilitas tersebut tetap berjalan beriringan dengan kebutuhan manusia untuk terhubung dan berinteraksi dengan orang lain.

Dengan kata lain, tantangan terbesar dari bekerja dari rumah mungkin bukan meja kerja yang berpindah dari kantor ke rumah, melainkan bagaimana memastikan seseorang tidak ikut kehilangan koneksi sosial yang sebelumnya hadir secara alami di tempat kerja.

Baca Juga: 5 Negara dengan Alam Terindah yang Diyakini Mampu Memulihkan Kesehatan Mental