Inflamasi atau peradangan pada pembuluh darah masih menjadi ancaman serius yang kerap luput dari perhatian dalam penanganan penyakit kardiovaskular.

Meski pasien telah menjalani terapi standar untuk mengendalikan kolesterol, tekanan darah, maupun gula darah, risiko komplikasi seperti serangan jantung dan stroke ternyata masih dapat terus berlanjut akibat inflamasi yang persisten.

Hal tersebut terungkap dalam hasil studi global POSEIDON yang dipublikasikan oleh Novo Nordisk.

Penelitian yang melibatkan 18.904 pasien di 18 negara ini menemukan bahwa dua dari lima pasien dengan penyakit kardiovaskular aterosklerotik (PKVA) yang juga mengalami penyakit ginjal kronis (CKD) atau gagal jantung memiliki inflamasi kardiovaskular.

Kondisi tersebut berkaitan dengan meningkatnya risiko kejadian kardiovaskular serius, termasuk serangan jantung dan stroke.

Inflamasi kardiovaskular merupakan kondisi peradangan pada pembuluh darah yang berbeda dengan inflamasi akibat infeksi. Peradangan ini umumnya tidak menimbulkan gejala sehingga sering tidak disadari, namun dapat berlangsung dalam jangka panjang dan memperbesar risiko komplikasi kardiovaskular.

Temuan studi POSEIDON dipresentasikan dalam Kongres ke-94 European Atherosclerosis Society (EAS) di Athena, Yunani, sekaligus menjadi salah satu studi global terbesar yang mengevaluasi prevalensi inflamasi kardiovaskular pada kelompok pasien dengan risiko tinggi.

Senior Vice President sekaligus Chief Medical Officer Novo Nordisk, Filip Knop, mengatakan, hasil penelitian tersebut memberikan gambaran penting mengenai masih besarnya risiko inflamasi pada pasien penyakit kardiovaskular.

"Studi POSEIDON yang dilakukan oleh Novo Nordisk menyajikan bukti penting bahwa inflamasi kardiovaskular merupakan sumber risiko yang signifikan dan tetap berlanjut pada pasien dengan penyakit kardiovaskular aterosklerotik serta penyakit ginjal kronis atau gagal jantung, meskipun telah menerima terapi sesuai standar perawatan saat ini," ungkap Filip Knop, dalam keterangan resminya, Senin (29/6/2026).

Filip pun melanjutkan, pemahaman yang lebih baik mengenai cakupan risiko inflamasi menjadi fondasi penting bagi pengembangan terapi inovatif di masa depan.

"Memahami cakupan risiko inflamasi kardiovaskular merupakan hal yang sangat penting, seiring dengan berlanjutnya riset berbasis inovasi yang kami lakukan untuk mengembangkan terapi pertama kalinya yang berpotensi menjawab kebutuhan medis penting yang hingga saat ini masih belum terpenuhi," lanjutnya.

Baca Juga: Jangan Sepelekan Sesak Napas! Intip Tantangan Deteksi Dini Kebocoran Katup Jantung di Indonesia

Pandangan serupa juga disampaikan Profesor Carolyn S.P. Lam, Senior Consultant di Department of Cardiology, National Heart Centre Singapore, sekaligus Profesor pada Cardiovascular & Metabolic Disorders Signature Research Programme, Duke-NUS Medical School.

Menurutnya, hasil studi ini semakin menegaskan bahwa inflamasi bukan lagi sekadar faktor pendukung, melainkan salah satu penyebab utama tingginya risiko komplikasi pada pasien penyakit kardiovaskular.

"Studi POSEIDON ini menunjukkan dengan jelas bahwa inflamasi bukanlah isu sekunder, melainkan faktor utama yang mendorong peningkatan risiko pada jutaan pasien penyakit kardiovaskular di seluruh dunia yang masih rentan mengalami komplikasi meskipun telah menerima terapi terbaik yang tersedia saat ini," kata Prof. Carolyn S.P. Lam.

Ia menjelaskan bahwa salah satu temuan paling menarik dari penelitian ini adalah konsistensi tingginya prevalensi inflamasi pada berbagai kelompok pasien dengan karakteristik yang berbeda.

Menurutnya, kondisi tersebut membuka peluang untuk mengembangkan pendekatan yang lebih terarah dalam mengidentifikasi pasien yang paling mungkin memperoleh manfaat dari terapi yang secara khusus menargetkan inflamasi.

"Temuan ini juga mengubah cara kita memandang risiko kardiovaskular residual, serta menegaskan potensi terapi antiinflamasi yang sedang dikembangkan untuk menjawab kebutuhan medis yang belum terpenuhi," ujarnya.

Dalam studi POSEIDON, inflamasi kardiovaskular diukur menggunakan kadar high-sensitivity C-reactive protein (hsCRP) sebesar ≥2 mg/L. Pemeriksaan darah ini merupakan salah satu metode yang umum digunakan untuk mendeteksi adanya inflamasi pada sistem kardiovaskular.

Hasil penelitian tersebut juga menyoroti masih adanya kesenjangan dalam tata laksana penyakit kardiovaskular saat ini. Meskipun berbagai faktor risiko utama seperti kolesterol, hipertensi, dan diabetes telah ditangani sesuai pedoman klinis, inflamasi tetap menjadi sumber risiko residual yang belum sepenuhnya tertangani.

Di Indonesia sendiri, penyakit kardiovaskular masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang sangat besar. Stroke dan penyakit jantung iskemik secara konsisten tercatat sebagai penyebab utama kematian.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, penyakit kardiovaskular menyumbang sekitar 30 persen dari seluruh angka kematian nasional.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya upaya pencegahan, deteksi dini, serta pengelolaan penyakit kardiovaskular yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.

Sebagai perusahaan yang telah berkomitmen menangani penyakit kronis selama lebih dari dua dekade di Indonesia, Novo Nordisk menyatakan akan terus mendorong inovasi dalam penanganan penyakit kardiometabolik yang saling berkaitan, termasuk diabetes dan obesitas.

Baca Juga: Jantung Berdebar Setelah Minum Kopi, Berbahayakah? Begini Penjelasan Dokter Tirta