Filosofi ini, lanjutnya, merupakan nilai yang diwariskan oleh pendiri perusahaan. Kunci utamanya adalah membangun koneksi manusia atau human connection yang kuat antara manajemen dan para frontliner, termasuk pengemudi dan petugas lapangan.

Adrianto juga mencontohkan bagaimana dirinya sendiri terus terlibat langsung dalam observasi operasional. Bahkan, dalam situasi perjalanan sekalipun, ia tetap memantau layanan di lapangan.

“Tadi malam saya baru mendarat dari Palembang pun, saya nongkrong di airport, saya ngeliatin counternya, kenapa kok dia ngantri panjang tiba-tiba, sistem apa yang kita bisa berbaikin supaya lebih cepat,” paparnya.

Menurutnya, kehadiran manajemen di lapangan bukan untuk melakukan inspeksi semata, melainkan untuk mencari solusi bersama dan membantu tim bekerja lebih efektif.

“Saya justru berpikir gimana membantu frontliners kita untuk bekerja lebih baik. Sehingga itu dua arah selalu sifatnya,” tukasnya.

Dikatakan Adrianto, pendekatan ini juga menekankan bahwa evaluasi tidak boleh bersifat sepihak. Apa yang dilihat dalam satu waktu belum tentu mencerminkan keseluruhan kondisi.

“Karena gak mungkin yang saya lihat sesaat itu juga selalu benar,” tandasnya.

Baca Juga: Mengenal Adrianto Djokosoetono, Generasi Ketiga Pendiri Bluebird Group