Pakar perkeretaapian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof Ir Sri Atmaja Putra Jatining Nugraha Nasir Rosyidi mengatakan, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) harus mampu mengungkap secara transparan penyebab kecelakaan maut di stasiun Bekasi Timur yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line. 

Dia mengatakan hasil investigasi KNKT, harus mampu menguak penyebab-penyebab yang mengakibatkan kecelakaan yang merenggut 16 nyawa itu.  Penyebab-penyebab kecil kata dia mesti diungkap secara gamblang, itu tak boleh dianggap sepele sebab dapat memicu kejadian yang jauh lebih besar. 

Baca Juga: Rentetan Kecelakaan KA dalam Sepekan: Puluhan Orang Meninggal Dunia

Melalui insiden ini, seluruh pemangku kepentingan diharapkan dapat menjadikannya sebagai pembelajaran untuk memperkuat sistem keselamatan perkeretaapian nasional secara komprehensif, guna mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.

“Setiap kegagalan kecil dalam sistem keselamatan tidak boleh dianggap sepele, karena dapat memicu kegagalan yang lebih besar,” kata Sri Atmaja dilansir Minggu (3/5/2026). 

Secara sistemik, Indonesia telah memiliki fondasi keselamatan melalui penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Perkeretaapian (SMKP). Sistem ini mengedepankan manajemen risiko dan perbaikan berkelanjutan dengan mengacu pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 serta standar internasional, seperti ISO 45001 dan ISO 31000.

Namun demikian, kecelakaan kereta di Bekasi Timur menjadi catatan penting terkait implementasi di lapangan. Evaluasi menyeluruh dinilai perlu mencakup berbagai aspek, mulai dari sistem persinyalan, komunikasi, kondisi jalur, hingga kedisiplinan petugas dalam menjalankan prosedur operasional.

Ia juga menyoroti pentingnya pendekatan berbasis pencegahan dalam sistem keselamatan perkeretaapian. Pendekatan ini meliputi inspeksi rutin, sistem deteksi dini, serta penguatan mekanisme fail-safe guna mencegah potensi kegagalan yang dapat berujung pada kecelakaan.

Selain itu, tingginya kepadatan jalur kereta di wilayah Jabodetabek dengan headway yang semakin singkat menjadi tantangan tersendiri. Kondisi ini menuntut sistem keselamatan yang lebih adaptif, presisi, dan terintegrasi.

Sri kemudian meminta publik sabar menunggu hasil investigasi KNKT, masyarakat diminta tak terburu-buru mengambil kesimpulan mengenai penyebab kecelakaan tersebut. 

Dia menegaskan, spekulasi yang beredar di ruang publik tidak dapat dijadikan dasar analisis yang akurat dan justru berpotensi menyesatkan.

Baca Juga: Disebut-sebut Jadi Biang Kerok Kecelakaan Bekasi Timur, Taksi Xanh SM Sudah Penuhi Prosedur Keselamatan?

“Keselamatan tidak bisa dilihat secara parsial. Ini adalah satu kesatuan sistem yang melibatkan prasarana, sarana, manusia, prosedur, hingga lingkungan eksternal,” pungkasnya.