Mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku kerap hanya bisa “ngelus dada” melihat cara sebagian orang berdebat di ruang publik. Ia menyoroti fenomena orang yang belum cukup matang secara ilmu, tetapi sudah merasa paling pintar.

Pernyataan itu disampaikan Jokowi saat menghadiri peringatan Maulidurrasul Muhammad SAW sekaligus Haul ke-8 KH Musyaffa’ Ali di Pondok Pesantren Al Falah, Kebumen, Sabtu (29/8/2026).

Jokowi awalnya menyinggung perdebatan yang kerap muncul di televisi. Menurutnya, debat publik seharusnya menjadi ruang untuk menyampaikan gagasan, bukan sekadar adu kepandaian berbicara hingga berujung saling mencaci.

“Sekarang ini yang belum pintar aja sudah rumongso (merasa) pintar, yang banyak pirsani (melihat) teng (di) TV-TV waktu debat itu wah kadose (seperti) pinter-pinteran ngendikan (berbicara) yo meskipun pinter gak usah diketok-ketokke (diperlihatkan),” kata Jokowi, dilansir dari kanal YouTube PP Al-Falah Sumberadi, Selasa (1/9/2026).

Baca Juga: Prabowo Lebih Oke Menjaga Demokrasi Ketimbang Jokowi, Buktinya Budi Arie Tak Ditangkap dengan Tuduhan Makar

Menurut Jokowi, orang yang memiliki ilmu justru seharusnya menunjukkan sikap yang baik ketika berbicara di hadapan publik. Apalagi, pernyataan yang disampaikan melalui televisi dapat disaksikan oleh jutaan orang.

“Jadi mestinya kalau kita dilihat orang banyak itu menyampaikan hal yang baik supaya orang mengikuti kita menjadi baik. Debat kok caci maki kayak gitu,” ungkapnya.

Jokowi kemudian mempertanyakan ke mana nilai sopan santun dan tata krama yang selama ini menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia.

“Adat ketimuran kita ada di mana, sopan santun kita ada di mana? Tata krama kita ada di mana?” sambungnya.

Meski begitu, Jokowi mengakui bahwa perbedaan pandangan, khususnya dalam politik, merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari. Ada pihak yang mendukung, tetapi ada pula yang mengambil posisi berseberangan.

Baca Juga: Buntut Ngomong Prabowo Selesai Sebelum 2029, Budi Arie Disekolahin Jokowi

Namun, menurut dia, perbedaan pendapat tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan kendali hingga melontarkan hinaan atau perkataan buruk.

“Yen iso ngendiko apik kenapa sing ngendiko sing elek? Nggih mboten nggih?” tuturnya.

Kalimat dalam bahasa Jawa tersebut kurang lebih berarti, “kalau bisa berbicara baik, kenapa berbicara jelek?”

Jokowi juga mengaku dirinya bukan orang yang asing dengan berbagai fitnah maupun cacian. Sepanjang perjalanan politiknya, ia mengatakan telah terbiasa menghadapi serangan semacam itu.

Meski demikian, ia memilih melihatnya sebagai bagian dari dinamika politik. Baginya, perbedaan pilihan dan pandangan seharusnya tetap disampaikan dengan cara yang santun.

Pernyataan Jokowi soal orang yang “belum pintar tapi merasa pintar” pun menjadi sorotan. Ia tidak secara spesifik menyebut siapa pihak yang dimaksud, tetapi kritiknya diarahkan pada fenomena perdebatan publik yang menurutnya semakin jauh dari adu gagasan dan justru berubah menjadi ajang saling menyerang.