Rajin berolahraga, menjaga pola makan, dan memenuhi kebutuhan tidur mungkin sudah masuk dalam daftar kebiasaan hidup sehat. Namun, ada satu organ vital yang kerap luput dari perhatian, yakni ginjal.
Sepasang organ yang ukurannya kurang lebih sebesar kepalan tangan ini bekerja tanpa henti menyaring limbah dan kelebihan cairan dari tubuh. Masalahnya, kerusakan ginjal bisa berkembang tanpa menimbulkan gejala yang jelas.
Dokter spesialis nefrologi dari Cook County Health, dr Kalyani Perumal, MD, bahkan menyebut penyakit ginjal sebagai “silent killer” karena banyak orang baru mengetahui kondisinya ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut.
“Penyakit ginjal adalah pembunuh diam-diam, sehingga banyak orang tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit ginjal sampai mereka berada pada stadium lanjut,” ujar dr Perumal, dikutip dari Parade pada Senin (28/09/2026).
Baca Juga: Bukan Cuma Kurang Minum, Kebiasaan Makan Ini Diam-Diam Bisa Merusak Ginjal
Salah satu alasan penyakit ginjal sulit dikenali adalah kemampuan organ tersebut untuk tetap menjalankan fungsinya meski kapasitasnya telah menurun cukup jauh.
Artinya, seseorang tidak selalu langsung mengalami rasa sakit, penurunan energi drastis, atau keluhan lain ketika fungsi ginjal mulai terganggu.
Bahkan, sekitar 9 dari 10 penderita penyakit ginjal kronis disebut tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalami kondisi tersebut.
Gejala Bisa Muncul Saat Kondisi Sudah Memburuk
Pada tahap awal, tanda-tanda gangguan ginjal dapat sangat sulit dikenali. Menurut dr Perumal, pemeriksaan darah dan urine menjadi cara untuk mendeteksi tanda awal penyakit tersebut.
“Tanda-tanda paling awal dari penyakit ginjal hanya dapat dideteksi melalui pemeriksaan darah dan urine,” tegasnya.
Ketika fungsi ginjal semakin menurun, barulah sejumlah keluhan dapat muncul. Di antaranya kaki bengkak, wajah sembap, hingga rasa lelah yang ekstrem.
Masalahnya, ketika gejala tersebut mulai dirasakan, kondisi ginjal bisa saja sudah mengalami kerusakan yang cukup serius.
Baca Juga: Stres Kronis Bisa Picu Tekanan Darah Tinggi dan Rusak Ginjal, Ini Penjelasannya
Karena itu, perhatian terhadap kesehatan ginjal tidak cukup hanya menunggu munculnya keluhan. Kebiasaan sehari-hari juga perlu diperhatikan, termasuk pola makan.
Dokter mengingatkan konsumsi fast food, makanan tinggi garam atau natrium, serta makanan ultra-proses secara berlebihan dapat berkontribusi terhadap sejumlah kondisi seperti obesitas, hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi yang menjadi faktor risiko penyakit ginjal.
Asupan garam berlebih, misalnya, dapat membuat tubuh menahan cairan dan meningkatkan tekanan darah. Jika tekanan darah tinggi berlangsung dalam waktu lama, pembuluh darah kecil di ginjal dapat ikut mengalami kerusakan.
Dengan sifat penyakit yang kerap tidak menunjukkan gejala pada tahap awal, menjaga pola hidup sehat dan melakukan pemeriksaan kesehatan menjadi bagian penting untuk mengenali risiko gangguan ginjal lebih dini.