Dandhy Dwi Laksono sedang menjadi sorotan publik setelah merilis film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita yang mengungkap kondisi Papua akibat Proyek strategis nasional (PSN).
Film dokumenter berdurasi lebih dari satu jam itu membuat publik terbelah, ada yang sepakat namun tidak sedikit pula yang kontra.
Akibatnya berbagai tudingan miring dialamatkan kepada Dandhy termasuk pertanyaan mengenai sumber dana pembuatan film tersebut. Tetapi di berbagai kesempatan Dandhy telah menjawabnya.
Terbaru salah satu pemeran film tersebut yakni Yasinta Moiwend mengaku dirinya diperdaya dan jebak dalam dokumenter kontroversial itu.
Tokoh adat Papua itu meminta film tersebut ditarik. Ia keberatan dijadikan salah satu aktor utama dalam film tersebut tanpa sepengetahuan dirinya. Namun polemik tersebut juga dijawab dengan bijak oleh Dandhy.
Film Pesta Babi bukanlah karya pertama Dandhy, sebelumnya ia telah merilis berbagai film dokumenter yang membongkar banyak hal yang sebenarnya tak diketahui publik.
Salah satunya adalah film Dirty Vote yang membongkar desain kecurangan Pemilu 2024. Film itu dirilis sebelum Pemilu 2024 dan sukses menggegerkan publik. Sama seperti Pesta Babi, Dirty Vote juga berpolemik.
Jejak Dandhy Laksono
Dandhy Laksono merupakan salah satu jurnalis investigasi. Dia lahir di Lumajang, Jawa Timur pada 29 Juni 1976.
Profesi jurnalis investigasi memang sudah sangat lekat dengan dirinya. Ia telah melahirkan banyak karya investigasi baik dalam tulisan maupun video dalam bentuk film dokumenter.
Dandhy merupakan sosok Jurnalis yang serba bisa. Mengawali karir pada 1990 ia telah melanglang buana ke berbagai media massa baik cetak maupun elektronik.
Tabloid Kapital merupakan tempat pertama Dandhy memulai karirnya. Ia kemudian pindah ke Majalah Warta Ekonomi.
Puas di media cetak Dandhy mencoba tantangan baru ke media elektronik. Dia kemudian memilih pindah ke radio Pas FM lalu pindah lagi ke Smart FM dan menjadi stringer di radio ABC Australia.
Sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Padjajaran Bandung itu kemudian mulai merambah ke dunia televisi. Ia kemudian hengkang ke Liputan 6 SCTV. Disana ia menjadi produser. Dandhy kemudian pindah lagi ke RCTI dan menduduki jabatan sebagai Kepala Seksi Peliputan.
Perlu diketahui Dandhy juga pernah memimpin majalah dan situs acehkita.com, media alternatif di masa pemberlakuan darurat militer di Aceh.
Selain aktif menjadi jurnalis, Dandhy juga aktif menulis berbagai buku, termasuk buku-buku yang membahas dunia jurnalistik.
'Indonesia for Sale' dan 'Jurnalisme Investigasi' adalah dua karya Dandhy yang menceritakan pengalaman dan perjalanan selama menjadi jurnalis investigasi.
Tidak diketahui secara jelas kapan Dandy memutuskan mengakhiri perjalanan karirnya di media besar Tanah Air. Namun yang jelas pada 2009 ia mendirikan Watchdog Indonesia sebuah rumah produksi yang melambungkan nama Dandy sebagai seorang jurnalis investigasi.
Baca Juga: Pemeran Film Pesta Babi Merasa Dijebak dan Diperdaya: Saya Bukan Boneka
Lewat wadah yang didirikan bareng temannya Andy Panca Kurniawan itu, Dandhy cs telah mengeluarkan ribuan karya. Sudah lebih dari 165 lebih episode dokumenter telah mereka rilis. Lebih dari 7.115 feature televisi telah mereka produksi, dan lebih dari 45 video komersial non komersial.
Karya Dandhy Laksono
Dari ribuan karya yang dilahirkan Dandhy ada beberapa dokumenter yang benar-benar menyita perhatian publik seperti Jakarta Unfair yang ia rilis jelang Pilkada DKI Jakarta 2017. Film ini menyorot masalah reklamasi di pesisir Utara Jakarta.
Kemudian dokumenter Samin vs Semen yang menyoroti masalah masyarakat Samin Kendeng yang berjuang melawan penggusuran perusahaan semen.
Dokumenter lainnya yang sangat menyita atensi publik adalah Sexy Killers yang dirilis pada masa tenang Pemilu 2019. Dalam Sexy Killers Dandhy menyoroti masalah dampak industri tambang di Indonesia.
Tak hanya itu, dokumenter Dirty Vote juga tak kalah ramai diperbincangkan publik. Film ini dirilis jelang Pemilu 2024 yang mengungkap desain kecurangan Pemilu ketika itu.