Growthmates, rasa kantuk yang muncul setelah makan siang, terutama sekitar pukul 13.00 hingga 14.00, kerap membuat seseorang sulit berkonsentrasi saat kembali beraktivitas.
Kondisi ini cukup umum terjadi dan bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari jumlah makanan yang dikonsumsi, komposisi makanan, hingga jam biologis tubuh.
Terkait hal itu, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi Medik, Prof. Dr. Zubairi Djoerban, SpPD-KHOM, FINASIM, menerangkan bahwa mengantuk setelah makan siang tidak selalu menjadi tanda adanya masalah kesehatan. Namun, penyebabnya perlu dipahami agar seseorang dapat mengatur pola makan dan aktivitas dengan lebih baik.
“Ada yang bertanya ke saya, Prof, kalau jam-jam segini, sekitar jam 1, jam 2 siang, begitu selesai makan siang, aku rasanya ngantuk banget. Itu normal enggak ya? Jawabannya, tergantung,” terang Prof. Zubairi, sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram pribadinya, Selasa (13/10/2026).
Dipaparkan Prof. Zubairi, salah satu faktor yang dapat memengaruhi rasa kantuk adalah proses pencernaan, terutama ketika seseorang mengonsumsi makanan dalam jumlah besar.
Menurutnya, tubuh membutuhkan aliran darah untuk mendukung berbagai proses pencernaan, sementara rasa kantuk setelah makan juga melibatkan mekanisme fisiologis lain yang terjadi di dalam tubuh.
Selain itu, perubahan hormon turut berperan dalam munculnya rasa kantuk setelah makan. Prof. Zubairi menjelaskan bahwa sejumlah hormon dan zat kimia tubuh, termasuk insulin dan serotonin, dapat terlibat dalam mekanisme yang memengaruhi rasa kantuk. Melatonin sendiri merupakan hormon yang berperan dalam pengaturan siklus tidur dan bangun.
“Nah, nomor dua itu kalau kita makan banyak, beberapa hormon tertentu itu naik dan bikin ngantuk. Apa saja itu? Antara lain ya insulin, kemudian serotonin, dan juga melatonin. Itu agak naik, itu yang bikin ngantuk,” jelasnya.
Tak hanya itu, lanjut Prof. Zubairi, jenis dan komposisi makanan yang dikonsumsi juga perlu diperhatikan.
Menurut Prof. Zubairi, makanan dengan kandungan karbohidrat, lemak, dan gula yang tinggi, terutama jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan, dapat membuat seseorang lebih mudah merasa mengantuk setelah makan.
“Apalagi kalau jenis makanan yang kita makan, nasinya banyak banget, karbohidratnya banyak, lemaknya banyak, gulanya banyak. Nah, tiga itu kalau kita makan banyak, itu akan lebih mudah bikin ngantuk pada siang hari,” tuturnya.
Baca Juga: Mitos atau Fakta, Makan Pisang Bisa Bikin Gagal Diet?
Faktor berikutnya adalah body clock atau jam biologis tubuh. Manusia memiliki mekanisme internal yang mengatur siklus tidur dan bangun sepanjang hari.
Karena itu, kata dia, rasa kantuk pada siang hari tidak selalu berkaitan langsung dengan makanan yang baru dikonsumsi.
“Jadi, di tubuh ada pengatur waktu, ada jam tertentu. Jadi, jam siang itu memang cenderung agak ngantuk,” kata Prof. Zubairi.
Lebih lanjut, Prof. Zubairi menambahkan, rasa kantuk pada siang hari bisa terasa lebih kuat ketika seseorang baru saja mengonsumsi makanan dalam porsi besar. Kombinasi antara jam biologis dan pola makan inilah yang dapat membuat sebagian orang kesulitan menahan kantuk setelah makan siang.
Untuk mengurangi rasa kantuk, Prof. Zubairi menyarankan agar masyarakat memperhatikan porsi makan dan tidak mengonsumsi karbohidrat secara berlebihan. Setelah makan, seseorang juga dapat berjalan santai sejenak sebelum kembali bekerja atau melanjutkan aktivitas.
“Jadi, untuk menghindari itu, makannya sedikit saja. Kemudian habis makan, jalan-jalan. Terus tadi komposisi makanannya, jangan terlalu banyak karbohidrat, jangan terlalu banyak minuman yang manis banget,” ujarnya.
Selain mengatur porsi makan, kata Prof. Zubairi, asupan gula dari minuman kemasan juga perlu diperhatikan. Minuman yang terasa praktis dan menyegarkan ternyata dapat menyumbang gula dalam jumlah cukup besar, bergantung pada jenis dan ukuran kemasannya.
Prof. Zubairi mencontohkan, sejumlah minuman botolan mengandung lebih dari 20 gram gula per kemasan. Jika dibandingkan dengan satu sendok teh gula yang beratnya sekitar 4,2 gram, jumlah tersebut setara dengan hampir lima sendok teh gula.
“Jadi, bayangin sebotol itu sama dengan sekitar lima sendok teh. Kan kalau kita minum dari minuman botol kan selalu habis. Nah, itu 20 gram lebih masuk ke tubuh kita,” jelasnya.
Karena itu, Prof. Zubairi menyarankan agar konsumsi minuman manis kemasan dibatasi dan masyarakat lebih cermat membaca informasi kandungan gula pada label produk.
Baca Juga: Benarkah Makan Banyak Telur Menyebabkan Bisul? Ahli Gizi Jelaskan Faktanya