Banyak orang memilih melewatkan sarapan karena kesibukan di pagi hari. Ada yang harus segera berangkat bekerja, kuliah, atau sekolah sehingga merasa tidak memiliki waktu untuk makan sebelum memulai aktivitas. Namun, kebiasaan ini ternyata tidak bisa dianggap remeh.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi Medik, Prof. Dr. Zubairi Djoerban, SpPD-KHOM, FINASIM, menegaskan bahwa sarapan memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan tubuh dan fungsi otak.

Menurut Prof. Zubairi, setelah makan malam dan menjalani tidur sepanjang malam, tubuh berada dalam kondisi perut kosong selama berjam-jam. Akibatnya, cadangan energi dan kadar gula darah yang dibutuhkan tubuh menjadi lebih rendah saat pagi hari.

"Pada waktu kita makan malam, kemudian tidur, itu perut kita kosong. Kemudian energi dan kadar gula darah yang juga diperlukan banget oleh otak dan otot kita menjadi rendah pada waktu pagi hari," jelas Prof. Zubairi, dikutip dari laman Instagram pribadinya, Senin (1/6/2026).

Menurut Prof. Zubair, kondisi tersebut dapat berdampak pada aktivitas tubuh di pagi hari yang justru membutuhkan banyak energi, baik untuk berpikir maupun bergerak.

"Pada waktu pagi hari itu diperlukan juga energi untuk otak dan untuk otot-otot, aktivitas. Jadi sarapan amat sangat penting," katanya.

Lebih lanjut, Prof. Zubair menuturkan bahwa manfaat sarapan ternyata tidak hanya sekadar mengisi energi. Lebih dari itu, sarapan juga berkaitan erat dengan kemampuan kognitif seseorang.

Prof. Zubairi menjelaskan bahwa kebiasaan melewatkan sarapan dapat memengaruhi konsentrasi, daya ingat, hingga kemampuan memecahkan masalah.

"Kalau kita sering-sering skip sarapan, itu bahayanya menjadi mudah pelupa. Kemudian istilahnya problem solving juga menjadi lamban," jelasnya.

Karena itu, sarapan menjadi salah satu langkah sederhana yang dapat membantu menjaga performa otak sepanjang hari.

Lalu, seperti apa sarapan yang baik?

Menurut Prof. Zubairi, tidak perlu makanan yang rumit atau mahal. Yang terpenting adalah memilih makanan sehat dengan kombinasi karbohidrat, protein, dan lemak baik.

Untuk sumber karbohidrat, masyarakat dapat memilih berbagai jenis makanan yang mudah ditemukan sehari-hari.

"Mau nasi boleh, mau singkong boleh, mau roti silakan, ubi Cilembu juga boleh," tuturnya.

Baca Juga: Cara Mencegah Prediabetes Menurut Dokter Ahli, Rutin Latihan Beban Jadi Kunci

Selain karbohidrat, tubuh juga membutuhkan asupan protein sebagai pelengkap sarapan. Sumber protein dapat berasal dari susu, telur, tempe, maupun daging.

"Perlu juga protein. Proteinnya terserah mau susu, mau telur, mau tempe, mau daging atau kombinasi itu bagus," kata Prof. Zubairi.

Ia juga mengingatkan pentingnya mengonsumsi lemak sehat sebagai bagian dari pola makan yang seimbang.

Prof. Zubairi pun menuturkan bahwa dampak lain yang kerap terjadi akibat tidak sarapan adalah meningkatnya kecenderungan makan berlebihan pada siang atau malam hari.

Menurutnya, saat tubuh merasa sangat lapar, seseorang cenderung mengonsumsi makanan dalam jumlah lebih banyak dibandingkan kebutuhan sebenarnya.

"Kalau kita skip sarapan, kecenderungannya nanti makan siang, makan malamnya berlebihan," ujar Prof. Zubairi.

Kebiasaan tersebut dapat berujung pada kenaikan berat badan yang tidak terkontrol dan meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan.

"Itu kemudian memicu juga timbulnya kenaikan berat badan yang tidak terkontrol dan berbagai macam penyakit bisa muncul," tambahnya.

Kemudian, Prof. Zubairi pun menegaskan bahwa sarapan bukan sekadar rutinitas pagi, melainkan investasi kesehatan yang memberikan manfaat bagi tubuh dan otak.

Dengan sarapan yang sehat dan seimbang, kata dia, tubuh memperoleh energi yang dibutuhkan untuk beraktivitas, sementara kemampuan konsentrasi dan daya ingat dapat terjaga lebih baik.

Karena itu, Prof. Zubairi mengajak masyarakat yang selama ini sering melewatkan sarapan untuk mulai mengubah kebiasaan tersebut.

“Jadi yang lalu sudah lupa, tapi sekarang mulai besok sarapan,” pungkasnya.

Baca Juga: Tidur dengan Bantal Tinggi Bisa Kurangi Asam Lambung Naik? Ini Kata Dokter Ahli