Perhatian dunia internasional tertuju pada Iran setelah Israel dan Amerika Serikat (AS) membombardir negara itu pada Sabtu (28/2/2026). Serangan presisi itu bahkan menewaskan pemimpin Agung Iran Ali Khamenei.
Kematian sang pemimpin pertama kali diumumkan Presiden AS Donald Trump lewat akun media sosialnya, pernyataan Trump sebelumnya tak sepenuhnya dipercaya publik, namun fakta itu kemudian dikonfirmasi media dan otoritas Iran.
Baca Juga: Prabowo Siap Mediasi Konflik Iran, Jusuf Kalla: Mereka Sulit Didamaikan
Ali Khamenei tewas bersama beberapa anggota keluarganya setelah kompleks kediamannya di Teheran diluluhlantakan puluhan bom kiriman Israel-AS.
Lahir di Mashhad sebuah kota suci di Timur Laut Iran pada 19 April 1939, Ali Khamenei tumbuh di lingkungan ulama sederhana. Lingkungan religius itu pula yang membentuk pandangan politik serta pandangan agama hingga ia tumbuh menjadi ulama Syiah konservatif yang memainkan peran penting dalam sejarah Republik Islam Iran sejak Revolusi 1962. Dua dekade lamanya Khamenei menjadi otak revolusi hingga menumbangkan rezim Syah Mohammad Reza Pahlavi.
Membentuk IRGC dan Lahirnya Poros Perlawanan
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang dikenal sebagai salah satu pasukan elite Iran adalah pasukan dengan kekuatan militer super yang dibentuk Khamenei pasca revolusi.
Mulanya pasukan itu dibentuk untuk melindungi revolusi, kekinian IRGC memainkan peran yang sangat sentral yakni melindungi rezim dari ancaman eksternal maupun internal. IRGC dalam beberapa dekade terakhir telah bertransformasi menjadi kekuatan utama Khamenei.
IRGC dibentuk Khamenei sesaat setelah terpilih menjadi Wakil Menteri Pertahanan setelah melepas jabatan anggota Dewan Revolusi pada 1979.
Singkatnya Khamenei naik ke pucuk pimpinan tertinggi Iran pada dekade 1980-an. Di Tangannya ia mendirikan sistem pemerintahan berbasis prinsip religius.
Selama kepemimpinan Khamenei IRGC bukan hanya sekadar militer, melainkan alat represi yang efektif untuk menjaga kelangsungan rezim dari segala bentuk ancaman, baik dari dalam maupun luar negeri.
Selain dikenal sebagai pencetus lahirnya IRGC, Khamenei juga dikenal sebagai salah pimpinan Iran yang memperluas pengaruh politiknya lewat “Poros Perlawanan" jejaring aliansi yang mencakup Hizbullah di Lebanon, Hamas di Palestina, milisi Houthi di Yaman, serta rezim Bashar al-Assad di Suriah.
Baca Juga: Jadi Urat Nadi Arteri Energi Dunia, Seberapa Penting Selat Hormuz Bagi Ekonomi Global?
Kejayaan poros ini perlahan mulai melemah, keruntuhannya dimulai lewat ekkalasi besar pada Oktober 2023. Tewasnya puluhan ribu dalam perang Gaza yang melemahkan Hamas menjadi titik awal keruntuhan ‘Poros Perlawanan”
Kejadian di Gaza disusul berbagai peristiwa besar lainnya seperti tewasnya Hassan Nasrallah pimpinan Hizbullah yang meninggal dunia dalam serangan Israel di Beirut.
Lalu perang 12 hari yang menghancurkan fasilitas nuklir utama Iran serta menewaskan banyak ilmuwan serta komandan senior Iran pada 2025 lalu.
Tangan Besi dan Anti Barat
Khamenei dikenal sebagai salah satu tokoh anti imperialisme barat. Ia kerap mengambil kebijakan luar negeri yang keras, saking anti barat, Khamenei bahkan Ia bahkan sampai menjuluki Amerika Serikat dengan sebutan ‘Setan Besar’
Kendati pemerintahannya dikenal anti imperialisme barat, namun Khamenei pada beberapa momen bersedia berunding dengan barat terutama saat bernegosiasi dengan AS mengenai program pengayaan nuklir Iran.
Baca Juga: Jusuf Kalla Berbicara Ancaman Krisis Minyak untuk Indonesia Setelah Selat Hormuz Ditutup
Khamenei kembali anti barat khususnya Amerika pada masa pemerintahan Presiden Donald Trump. Ketika Trump kembali menjabat pada 2025, posisi Iran semakin terjepit.
Selain anti bara, Khamenei juga dikenal sebagai pemimpin bertangan besi yang sama sekali tidak memberi ruang bagi reformasi moderat.
Aspirasi rakyat sering kali dilabeli sebagai hasutan yang diatur oleh pihak asing. Puncaknya terlihat pada penanganan protes besar 'Women, Life, Freedom' tahun 2022 dan demonstrasi ekonomi pada Januari 2026.