Di balik pertumbuhan masif tersebut, terjadi fenomena ‘seleksi alam’ yang ketat. Lebih dari 1.900 brand FMCG tercatat keluar dari pasar (exit) karena gagal beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen dan dinamika platform.
Hanindia Narendrata, CEO Compas.co.id, menegaskan bahwa adaptasi menjadi faktor krusial untuk bertahan di tahun mendatang.
“Kunci memenangkan kompetisi di 2026 adalah adaptasi. Brand perlu memahami bahwa Shopee kini berperan sebagai Efficiency Hub, yaitu platform yang digunakan konsumen untuk belanja rutin secara cepat, praktis, dan hemat. Sementara itu, Shop Tokopedia Group (STG) menjadi Discovery Engine, yakni tempat konsumen menemukan dan mengenal produk baru melalui fitur shoppertainment seperti live shopping dan konten video,” papar Narendrata, dikutip Kamis (19/2/2026).
Laporan yang sama mencatat bahwa Shopee masih memimpin pangsa pasar dengan 55,9%. Namun, Shop Tokopedia Group (STG) mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 59% pada 2025, pasca-merger dengan TikTok Shop, jauh melampaui rata-rata pertumbuhan industri.
Perubahan lanskap ini menunjukkan bahwa diferensiasi peran platform semakin jelas, yakni ada yang unggul dalam efisiensi transaksi rutin, ada pula yang kuat dalam mendorong discovery melalui konten interaktif.
Menurut Narendrata, pemanfaatan data menjadi fondasi utama dalam membaca arah pasar.
“Compas.co.id menyarankan bagi pemilik brand FMCG di e-commerce untuk terus mempelajari behavior dari konsumennya dan melakukan pemanfaatan data dengan cerdik dan taktis agar bisa memahami dinamika kompetisi di e-commerce dan memenangkan persaingan,” tutup Narendrata.
Baca Juga: Dari Review Konsumen hingga Data Tren, Sociolla Award 2025 Jadi Tolok Ukur Industri Kecantikan