Awal tahun 2026 menandai tahun kedua kehadiran Generasi Beta, yakni kelompok yang diproyeksikan lahir dalam rentang 1 Januari 2025 hingga 31 Desember 2039. Istilah ini diperkenalkan oleh analis demografi asal Australia, Mark McCrindle, yang sebelumnya juga mempopulerkan penamaan Generasi Alpha.

Generasi Beta diperkirakan akan tumbuh dalam lanskap kehidupan yang jauh lebih terdigitalisasi dibanding generasi sebelumnya. Jika Generasi Alpha dikenal sebagai generasi yang lahir ketika teknologi digital telah matang, maka Generasi Beta diproyeksikan menjadi generasi pertama yang sejak lahir hidup berdampingan dengan sistem kecerdasan buatan (AI) yang terintegrasi secara menyeluruh dalam berbagai aspek kehidupan.

Lahir di Era AI Terintegrasi

Generasi Beta akan tumbuh di tengah ekosistem teknologi yang semakin canggih, mulai dari pemanfaatan kecerdasan buatan, machine learning, hingga integrasi realitas virtual (VR) dan realitas tertambah (AR) dalam pendidikan, hiburan, dan layanan publik.

Kecepatan AI dalam memproses dan menganalisis data telah mengubah banyak sektor, seperti layanan kesehatan, industri kreatif, sistem transportasi, hingga dunia pendidikan. Otomatisasi dan personalisasi berbasis data diperkirakan menjadi standar baru dalam interaksi manusia dengan teknologi.

Baca Juga: Gen Alpha Akan Berakhir! 2025, Jadi Tahun Pertama Kelahiran Generasi Beta

Transformasi ini bukan hanya soal perangkat, tetapi juga menyangkut pola kerja, cara belajar, hingga pola komunikasi sosial. Anak-anak Generasi Beta kemungkinan akan terbiasa dengan asisten digital yang responsif, kurikulum pembelajaran adaptif berbasis algoritma, serta pengalaman hiburan yang imersif dan interaktif.

Potensi dan Risiko Ketergantungan Teknologi

Meski menawarkan banyak peluang, perkembangan teknologi yang sangat cepat tetap memerlukan pengawasan dan tanggung jawab. Pengembangan serta pemanfaatan AI tetap bergantung pada kompetensi sumber daya manusia, baik dalam perancangan, pengawasan, maupun evaluasi sistem.

Ketergantungan berlebihan terhadap teknologi berpotensi menimbulkan tantangan baru, seperti menurunnya kemampuan analitis, daya tahan terhadap proses panjang, hingga berkurangnya kreativitas jika anak terlalu mengandalkan solusi instan dari sistem otomatis.

Baca Juga: Mengenal Generasi Alpha: Generasi yang Lahir di Era Serba Digital

Selain itu, isu keamanan data, privasi digital, serta paparan konten yang tidak sesuai usia menjadi perhatian penting dalam membesarkan Generasi Beta. Lingkungan digital yang semakin terhubung membutuhkan literasi digital yang lebih kuat sejak dini.

Peran Strategis Orang Tua

Di tengah perkembangan tersebut, peran orang tua menjadi semakin krusial. Pengawasan tidak lagi sekadar membatasi waktu layar (screen time), melainkan juga membangun pemahaman kritis terhadap teknologi.

Orang tua perlu membekali anak dengan literasi digital, termasuk kemampuan memilah informasi, memahami etika penggunaan AI, serta menyadari jejak digital yang ditinggalkan. Pendampingan aktif saat anak menggunakan perangkat digital dapat membantu mencegah ketergantungan berlebihan sekaligus mendorong penggunaan teknologi secara produktif.

Pendekatan yang seimbang antara dunia digital dan aktivitas fisik juga penting untuk menjaga perkembangan kognitif dan sosial anak. Aktivitas seperti olahraga, permainan kreatif, serta interaksi tatap muka tetap dibutuhkan untuk membangun empati dan keterampilan komunikasi.

Baca Juga: Perjalanan Gaya Pengasuhan dari Generasi Z Menuju Generasi Alpha

Selain itu, orang tua diharapkan tidak hanya berperan sebagai pengawas, tetapi juga sebagai fasilitator. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan kreativitas anak, misalnya melalui proyek kreatif digital, eksplorasi sains interaktif, atau pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning).

Generasi Beta dan Masa Depan

Sebagai generasi yang lahir ketika integrasi dunia digital dan fisik semakin menyatu, Generasi Beta diproyeksikan menghadapi realitas yang lebih kompleks sekaligus penuh peluang. Mereka kemungkinan besar akan hidup dalam sistem yang serba otomatis, berbasis data, dan terkoneksi secara global.

Namun, kecanggihan teknologi tidak serta-merta menggantikan peran manusia. Justru di tengah kemajuan tersebut, nilai-nilai seperti kreativitas, empati, kemampuan berpikir kritis, dan tanggung jawab sosial menjadi semakin penting.

Memahami Generasi Beta sejak dini berarti mempersiapkan pola asuh dan sistem pendidikan yang adaptif. Dengan pengawasan yang tepat dan literasi digital yang kuat, generasi ini berpotensi tumbuh bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi sebagai pengelola dan pencipta inovasi di masa depan.