Kanker ovarium dikenal sebagai salah satu jenis kanker yang paling sulit dideteksi sejak dini. Pasalnya, penyakit ini kerap berkembang secara perlahan dengan gejala yang sekilas tampak seperti keluhan sehari-hari, sehingga banyak wanita tidak menyadari ada masalah serius yang sedang terjadi.
Perut yang sering terasa kembung, cepat kenyang meski makan sedikit, atau tubuh yang mudah lelah kerap dianggap sebagai dampak pola makan, stres, atau perubahan hormon. Padahal, jika keluhan tersebut berlangsung terus-menerus dan semakin sering muncul, kondisi itu bisa menjadi gejala kanker ovarium yang patut diwaspadai.
Meski bukan berarti setiap keluhan mengarah pada kanker, mengenali perubahan pada tubuh merupakan langkah penting untuk meningkatkan peluang deteksi dini dan keberhasilan pengobatan.
Dan, dikutip dari Times Now News, Senin (3/8/2026), berikut sejumlah gejala kanker ovarium, faktor risikonya, serta kapan sebaiknya Anda segera memeriksakan diri ke dokter.
Gejala Kanker Ovarium yang Sering Terlihat Sepele
Salah satu tantangan terbesar dalam mengenali gejala kanker ovarium adalah karena tanda-tandanya sangat mirip dengan gangguan pencernaan atau masalah kesehatan ringan lainnya.
Keluhan yang paling sering dialami adalah perut yang terasa kembung secara terus-menerus. Berbeda dengan kembung biasa yang membaik setelah beberapa saat, kondisi ini dapat bertahan selama berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu.
Selain itu, banyak wanita juga mengeluhkan cepat merasa kenyang meski hanya mengonsumsi makanan dalam jumlah sedikit. Akibatnya, porsi makan berkurang tanpa alasan yang jelas.
Gejala lain yang juga perlu diwaspadai adalah nyeri atau rasa tertekan di area panggul maupun perut bagian bawah. Rasa tidak nyaman ini bisa datang dan pergi, tetapi terus berulang dalam jangka waktu yang lama.
Perubahan pola buang air besar maupun buang air kecil juga dapat menjadi tanda. Misalnya sembelit yang berkepanjangan, lebih sering buang air kecil, atau perubahan kebiasaan yang tidak pernah dialami sebelumnya.
Tak kalah penting, kelelahan yang tidak kunjung hilang meski sudah cukup beristirahat juga termasuk salah satu tanda awal kanker ovarium yang sering diabaikan. Jika rasa lelah tersebut muncul bersamaan dengan gejala lainnya, sebaiknya jangan menunda pemeriksaan.
Mengapa Gejala Kanker Ovarium Sering Terlambat Disadari?
Banyak wanita baru mengetahui dirinya menderita kanker ovarium ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut. Hal ini bukan tanpa alasan.
Sebagian besar gejalanya memang sangat umum. Perut kembung sering dianggap akibat salah makan, kelelahan dikaitkan dengan pekerjaan yang padat, sedangkan nyeri panggul kerap disangka sebagai nyeri haid atau perubahan hormonal.
Karena keluhannya tampak biasa, penderita sering memilih menunggu hingga gejala membaik dengan sendirinya. Padahal, salah satu ciri yang membedakan gejala kanker ovarium dengan gangguan ringan adalah gejalanya terus muncul, semakin sering terjadi, dan tidak kunjung membaik.
Para dokter umumnya menyarankan agar wanita lebih waspada jika keluhan muncul hampir setiap hari selama beberapa minggu, terasa berbeda dari biasanya, atau beberapa gejala hadir secara bersamaan.
Baca Juga: Kanker Kepala dan Leher Tak Lagi Identik dengan Perokok, Dokter Ungkap Pergeseran Faktor Risiko
Cara Mendeteksi Kanker Ovarium Sejak Dini
Hingga saat ini, belum tersedia pemeriksaan skrining rutin yang direkomendasikan untuk semua wanita dengan risiko rata-rata mengalami kanker ovarium. Karena itu, cara mendeteksi kanker ovarium sejak dini yang paling penting adalah dengan mengenali perubahan pada tubuh sendiri.
Perhatikan apabila perut terus-menerus terasa penuh, ukuran perut tampak membesar tanpa sebab yang jelas, atau Anda mengalami penurunan nafsu makan secara tiba-tiba.
Jangan abaikan pula apabila tubuh terasa mudah lelah, nyeri panggul terus berulang, atau terjadi perubahan pada pola buang air besar dan buang air kecil yang berlangsung selama beberapa minggu.
Jika gejala-gejala tersebut menetap, segera konsultasikan dengan dokter. Dokter akan melakukan wawancara mengenai riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, hingga menentukan apakah diperlukan pemeriksaan lanjutan seperti USG, CT scan, MRI, maupun tes darah tertentu sesuai kondisi pasien.
Mencatat kapan gejala mulai muncul, seberapa sering terjadi, dan apakah semakin memburuk juga dapat membantu dokter menentukan diagnosis dengan lebih cepat.
Siapa yang Lebih Berisiko Mengalami Kanker Ovarium?
Meskipun kanker ovarium dapat menyerang siapa saja, terdapat beberapa faktor yang diketahui meningkatkan risikonya.
Riwayat keluarga dengan kanker ovarium atau kanker payudara menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan. Risiko juga meningkat pada wanita yang memiliki mutasi gen BRCA1 atau BRCA2 yang diwariskan dalam keluarga.
Selain faktor genetik, usia juga berpengaruh. Risiko kanker ovarium cenderung meningkat setelah menopause, meski bukan berarti wanita yang lebih muda terbebas dari penyakit ini.
Beberapa faktor reproduksi dan hormonal tertentu juga dapat memengaruhi risiko seseorang. Namun, memiliki faktor risiko bukan berarti seseorang pasti akan terkena kanker ovarium. Sebaliknya, wanita tanpa faktor risiko pun tetap dapat mengalami penyakit ini.
Karena itu, memahami kondisi tubuh sendiri tetap menjadi langkah yang tidak kalah penting dibanding hanya berfokus pada faktor risiko.
Kapan Harus Segera Memeriksakan Diri?
Tidak semua rasa kembung atau nyeri perut merupakan tanda kanker ovarium. Sebagian besar memang disebabkan oleh masalah kesehatan yang jauh lebih ringan.
Namun, jika gejala berlangsung lebih dari beberapa minggu, muncul hampir setiap hari, semakin berat, atau mulai mengganggu aktivitas, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.
Pemeriksaan sejak dini dapat membantu menemukan penyebab keluhan lebih cepat, baik itu gangguan pencernaan, masalah hormonal, maupun kondisi medis lain yang memerlukan penanganan.
Semakin cepat penyebabnya diketahui, semakin besar pula peluang mendapatkan pengobatan yang tepat.
Baca Juga: Benarkah Bra Berkawat Picu Kanker Payudara? Dokter Ungkap Faktanya