Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ikut merespons terkait kasus penyadapan ilegal pada Presiden Prabowo Subianto yang dilakukan mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo Cs.
Terkait itu, pihaknya turut prihatin pada kondisi politik Tanah Air yang menurutnya semakin liar dalam praktik perebutan kekuasaan.
Baca Juga: Canda SBY: Prabowo Batuk, Rupiah Rontok!
Baca Juga: Pak Presiden... 'Jangan Kasih Ampun Si Listyo Sigit!'
Baca Juga: Benarkah Jokowi Jadi Aktor Intelektual di Balik Penyadapan Prabowo?
"Kok jadi begini negara kita. Kok begini liar politik kita. Sepertinya untuk mendapatkan kekuasaan (political power) cara apapun dibenarkan. Tidak peduli baik atau buruk. Bermoral atau tidak bermoral," cuit SBY dalam akun X pribadinya, seperti dikutip Rabu (4/11/2026).
Lanjutnya, ia merasa khawatir jika rakyat Indonesia akan merasa ketakutan dan merasa tidak aman hidup di negaranya sendiri.
"Saya khawatir kalau akhirnya rakyat merasa takut dan tidak tenteram hidup di negaranya sendiri," tambahnya.
Lebih lanjut, ia pun meminta Kepala Negara untuk kembali menghidupkan politik yang berkeadaban di tengah kondisi politik yang terjadi saat ini.
Bukan tanpa sebab, ia menilai membangun politik yang bermoral merupakan panggilan sejarah. "Sebagai warga bangsa yang sangat mencintai negeri ini, seperti juga warga negara Indonesia yang lain, saya bermohon kepada Presiden Prabowo untuk menghidupkan kembali politik yang berkeadaban. Ini panggilan sejarah. Ini amanah rakyat," tukasnya.
Sebelumnya, Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri Komjen Pol Asep Safrudin mengungkapkan bahwa penyidik telah menetapkan tiga orang sebagai tersangka dalam perkara tersebut. Ketiganya masing-masing berinisial LSP, ASN, dan EH.
Informasi tersebut disampaikannya dalam konferensi pers di Mabes Polri, Selasa (3/11/2026).
"Penyidik telah menetapakan 3 orang tersangka dengan inisial LSP, ASN, EH," kata Asep.