Lahan Pertanian dan Gedung Apartemen Jadi Aset yang Dilirik

Selain saham, Buffett juga pernah menyebut lahan pertanian dan gedung apartemen sebagai aset yang akan dipertimbangkannya jika Perang Dunia III pecah.

Keduanya memiliki nilai guna yang nyata. Lahan pertanian dapat menghasilkan pangan, sedangkan gedung apartemen menyediakan tempat tinggal. Artinya, nilai aset tersebut tidak hanya bergantung pada pergerakan harga di pasar keuangan.

Prinsip ini sejalan dengan pandangan Buffett mengenai pentingnya memiliki aset produktif yang menghasilkan sesuatu dan memiliki manfaat ekonomi dalam jangka panjang.

Namun, properti dan lahan pertanian bukan berarti bebas risiko. Perang dapat mengganggu kegiatan produksi, distribusi, akses terhadap properti, pendapatan sewa, hingga nilai aset itu sendiri.

Karena itu, pernyataan Buffett lebih tepat dipahami sebagai gambaran preferensi investasinya, bukan jaminan bahwa saham, lahan pertanian, maupun gedung apartemen akan selalu aman ketika konflik terjadi.

Bagaimana Pasar Saham Bertahan saat Perang Dunia II?

Sejarah pasar saham juga memberikan gambaran mengenai bagaimana aset keuangan dapat bereaksi terhadap konflik besar.

Menurut laporan Standard & Poor's yang dikutip Moneywise, indeks S&P 500 sempat turun sekitar 17% dalam lima bulan setelah Jepang menyerang Pearl Harbor pada 7 Desember 1941.

Namun, menjelang akhir Perang Dunia II pada 1945, indeks tersebut tercatat telah naik 62% dibandingkan levelnya pada hari serangan Pearl Harbor.

Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa pasar saham yang sempat mengalami tekanan akibat krisis dapat mengalami pemulihan.

Meski demikian, pengalaman historis itu tidak dapat dijadikan patokan bahwa pasar akan memberikan hasil serupa jika perang dunia kembali terjadi. Situasi geopolitik, kondisi ekonomi, kebijakan moneter, serta struktur pasar saat ini berbeda dengan masa lalu.

Apa Pelajaran Investasi dari Warren Buffett?

Pandangan Buffett memberikan satu pesan penting tentang cara memandang kekayaan ketika dunia menghadapi ketidakpastian: jangan hanya berfokus pada gejolak pasar jangka pendek, tetapi pertimbangkan pula nilai produktif dari aset yang dimiliki.

Ia pernah menyatakan akan tetap membeli saham jika Perang Dunia III pecah, serta mempertimbangkan lahan pertanian dan gedung apartemen sebagai pilihan kepemilikan aset.

Namun, pernyataan tersebut merupakan pandangan Buffett yang disampaikan pada 2014, bukan rekomendasi investasi terbaru yang secara otomatis sesuai dengan kondisi saat ini.

Bagi investor, keputusan menghadapi krisis tetap perlu mempertimbangkan kebutuhan likuiditas, toleransi risiko, diversifikasi, dan jangka waktu investasi. Dalam situasi perang, tidak ada aset yang sepenuhnya kebal terhadap kerugian, sehingga strategi yang tepat bagi setiap orang bisa berbeda.

Baca Juga: 6 Pelajaran Finansial Warren Buffett untuk Menghadapi Masa Pensiun Tanpa Gaji Tetap