Growthmates, ketika ancaman perang besar membayangi dunia, pasar keuangan berpotensi mengalami gejolak. Investor bisa saja berbondong-bondong menjual saham dan beralih ke uang tunai demi mengamankan kekayaan mereka. Namun, investor legendaris asal Amerika Serikat, Warren Buffett, justru memiliki pandangan berbeda.
Mantan CEO Berkshire Hathaway itu pernah mengungkapkan bahwa dirinya akan tetap membeli saham, bahkan jika Perang Dunia III pecah. Baginya, kepemilikan aset produktif dalam jangka panjang menjadi pertimbangan penting, sekalipun dunia tengah menghadapi ketidakpastian besar.
Dalam wawancara dengan CNBC pada 2014, Buffett menjelaskan mengapa perang dunia tidak serta-merta membuatnya meninggalkan pasar saham. Pandangannya juga menyoroti pertanyaan penting bagi investor: apakah uang tunai benar-benar menjadi pilihan paling aman ketika krisis besar terjadi?
Seperti dikutip Moneywise, Buffett secara tegas menyampaikan sikapnya terhadap investasi di tengah ancaman perang.
“Saya akan tetap membeli saham,” tukas Buffett, dikutip dari The Economic Times, Senin (2/11/2026).
Pernyataan tersebut mencerminkan filosofi investasinya yang berorientasi jangka panjang, yakni memiliki bisnis dan aset produktif, bukan semata-mata berspekulasi terhadap pergerakan harga saham dalam jangka pendek.
Buffett tentu tidak menganggap pasar saham akan selalu stabil ketika perang berlangsung. Konflik berskala besar dapat memicu kepanikan, menekan harga saham, dan menyebabkan kerugian bagi investor.
Namun, ia menilai kepemilikan aset produktif dapat menjadi pertimbangan penting dibandingkan hanya mengandalkan uang tunai.
“Anda akan jauh lebih beruntung jika memiliki aset produktif,” ujar Buffett, sebagaimana dikutip dalam laporan tersebut.
Mengapa Warren Buffett Memperingatkan soal Uang Tunai?
Di tengah gejolak pasar, menyimpan uang tunai kerap dianggap sebagai langkah defensif. Investor dapat merasa lebih tenang karena tidak perlu menghadapi fluktuasi harga saham secara langsung.
Namun, menurut Buffett, uang tunai juga memiliki risiko, terutama ketika perang besar memicu penurunan nilai mata uang dan daya beli masyarakat.
Dalam wawancara pada 2014, ia mengingatkan bahwa nilai uang cenderung mengalami penurunan dalam berbagai perang yang diketahuinya.
“Satu hal yang bisa dipastikan adalah jika kita terlibat dalam perang besar, nilai uang akan turun,” kata Buffett.
Ia menambahkan, “Hal itu terjadi di hampir setiap perang yang saya ketahui,” sebagaimana dikutip Moneywise.
Penurunan daya beli berarti uang dengan nominal yang sama berpotensi tidak lagi mampu membeli barang dan jasa sebanyak sebelumnya. Dengan demikian, saldo rekening yang terlihat tetap belum tentu mempertahankan nilai riil kekayaan seseorang.
Meski demikian, pandangan tersebut bukan berarti uang tunai selalu kehilangan nilai atau saham pasti lebih menguntungkan selama perang. Pergerakan mata uang, inflasi, kebijakan pemerintah, serta kondisi ekonomi dapat menghasilkan dampak yang berbeda-beda.
Baca Juga: 5 Kebiasaan Finansial Warren Buffett yang Bisa Ditiru Gen Z
Lahan Pertanian dan Gedung Apartemen Jadi Aset yang Dilirik
Selain saham, Buffett juga pernah menyebut lahan pertanian dan gedung apartemen sebagai aset yang akan dipertimbangkannya jika Perang Dunia III pecah.
Keduanya memiliki nilai guna yang nyata. Lahan pertanian dapat menghasilkan pangan, sedangkan gedung apartemen menyediakan tempat tinggal. Artinya, nilai aset tersebut tidak hanya bergantung pada pergerakan harga di pasar keuangan.
Prinsip ini sejalan dengan pandangan Buffett mengenai pentingnya memiliki aset produktif yang menghasilkan sesuatu dan memiliki manfaat ekonomi dalam jangka panjang.
Namun, properti dan lahan pertanian bukan berarti bebas risiko. Perang dapat mengganggu kegiatan produksi, distribusi, akses terhadap properti, pendapatan sewa, hingga nilai aset itu sendiri.
Karena itu, pernyataan Buffett lebih tepat dipahami sebagai gambaran preferensi investasinya, bukan jaminan bahwa saham, lahan pertanian, maupun gedung apartemen akan selalu aman ketika konflik terjadi.
Bagaimana Pasar Saham Bertahan saat Perang Dunia II?
Sejarah pasar saham juga memberikan gambaran mengenai bagaimana aset keuangan dapat bereaksi terhadap konflik besar.
Menurut laporan Standard & Poor's yang dikutip Moneywise, indeks S&P 500 sempat turun sekitar 17% dalam lima bulan setelah Jepang menyerang Pearl Harbor pada 7 Desember 1941.
Namun, menjelang akhir Perang Dunia II pada 1945, indeks tersebut tercatat telah naik 62% dibandingkan levelnya pada hari serangan Pearl Harbor.
Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa pasar saham yang sempat mengalami tekanan akibat krisis dapat mengalami pemulihan.
Meski demikian, pengalaman historis itu tidak dapat dijadikan patokan bahwa pasar akan memberikan hasil serupa jika perang dunia kembali terjadi. Situasi geopolitik, kondisi ekonomi, kebijakan moneter, serta struktur pasar saat ini berbeda dengan masa lalu.
Apa Pelajaran Investasi dari Warren Buffett?
Pandangan Buffett memberikan satu pesan penting tentang cara memandang kekayaan ketika dunia menghadapi ketidakpastian: jangan hanya berfokus pada gejolak pasar jangka pendek, tetapi pertimbangkan pula nilai produktif dari aset yang dimiliki.
Ia pernah menyatakan akan tetap membeli saham jika Perang Dunia III pecah, serta mempertimbangkan lahan pertanian dan gedung apartemen sebagai pilihan kepemilikan aset.
Namun, pernyataan tersebut merupakan pandangan Buffett yang disampaikan pada 2014, bukan rekomendasi investasi terbaru yang secara otomatis sesuai dengan kondisi saat ini.
Bagi investor, keputusan menghadapi krisis tetap perlu mempertimbangkan kebutuhan likuiditas, toleransi risiko, diversifikasi, dan jangka waktu investasi. Dalam situasi perang, tidak ada aset yang sepenuhnya kebal terhadap kerugian, sehingga strategi yang tepat bagi setiap orang bisa berbeda.
Baca Juga: 6 Pelajaran Finansial Warren Buffett untuk Menghadapi Masa Pensiun Tanpa Gaji Tetap