Nilai tukar rupiah mulai berbalik arah usai pengumuman Bank Indonesia (BI) yang menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50% pada Selasa (9/6/2026). Melansir data Refinitiv siang ini, nilai tukar rupiah menguat 0,50% ke kisaran level Rp18.080 per dolar AS.  

Pergerakan rupiah yang menguat nyaris ke bawah Rp18.000 per dolar AS juga diikuti oleh penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke kisaran level 5.500 pada perdagangan Bursa Selasa siang.

Baca Juga: Rupiah Sempat Tembus Rp18.200, BI-Rate Mendadak Naik Jadi 5,50%, Apa Alasan Bank Indonesia?

Salah satu sentimen positif dari pergerakan rupiah dan IHSG ialah kenaikan suku bunga BI. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengungkapkan bahwa selain memutuskan kenaikan BI-Rate, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI hari ini juga menaikkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,50%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,25%.

Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah BI dalam memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah yang sempat anjlok ke level Rp18.200 per dolar AS. Perry menjelaskan, dalam evaluasi sejak RDG tanggal 18-19 Mei 2026, nilai tukar rupiah menunjukkan perkembangan yang lebih lemah dari yang diperkirakan.

Baca Juga: Bayar Utang hingga Jaga Rupiah, Cadangan Devisa RI Anjlok dan Sentuh Level Terendah Sejak Juni 2024

Di samping disebabkan oleh gejolak global yang terus berlanjut dan tingginya permintaan valuta asing dalam negeri, pelemahan juga didorong oleh aliran keluar investasi portfolio asing dari Indonesia.

"Bank Indonesia memandang perlu untuk menempuh langkah-langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dengan meningkatkan kembali imbal hasil dan sejumlah insentif lain dalam operasi moneter untuk mendorong masuknya aliran investasi asing," ungkap Perry dalam keterangan resmi pada Selasa (9/6/2026).