Direktur Eksekutif Political Review (IPR), Iwan Setiawan, menilai Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung perlu melakukan regenerasi kepemimpinan di tubuh PT PAM Jaya. Pergantian ini sebagai bagian dari upaya memperbaiki kinerja perusahaan daerah penyedia air bersih tersebut.

Menurut Iwan, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung perlu melakukan penyegaran di jajaran direksi, termasuk mengevaluasi posisi Direktur Utama PAM Jaya, Arief Nasruddin. 

Langkah tersebut dinilai penting untuk mendorong peningkatan pelayanan air bersih bagi masyarakat Jakarta.

Baca Juga: Febrie Adriansyah Disebut Jadi Algojo Peliharaan Jokowi, Istana Merespons, Ada Kata-kata Prabowo Bakal Melawan

"Sudah saatnya dilakukan regenerasi kepemimpinan di PAM Jaya. Direksi harus dievaluasi secara menyeluruh agar perusahaan memiliki energi baru dalam menjawab tantangan pelayanan air bersih di Jakarta," kata Iwan Setiawan kepada wartawan, Kamis (16/7/2027).

Iwan berpendapat bahwa selama dipimpin Arief Nasruddin, kinerja PAM Jaya dinilai belum mampu memenuhi ekspektasi masyarakat dalam penyediaan layanan air bersih. 

Menurutnya, berbagai persoalan baik dalam hal layanan air bersih hingga dugaan adanya korupsi di PAM Jaya menjadi dasar perlunya perubahan di tingkat kepemimpinan perusahaan PAM Jaya.

"Pelayanan air bersih masih menjadi pekerjaan rumah yang besar. Karena itu diperlukan kepemimpinan baru yang memiliki visi, strategi, dan kemampuan manajerial yang kuat untuk mempercepat perbaikan layanan kepada masyarakat," ujarnya.

Selain itu, Iwan juga menilai sosok yang memimpin PAM Jaya ke depan perlu memiliki kompetensi dan pengalaman yang relevan di sektor air minum serta pengelolaan perusahaan penyedia layanan publik.

"BUMD yang mengelola kebutuhan dasar masyarakat harus dipimpin oleh figur yang memiliki kompetensi dan kapabilitas sesuai bidangnya. Tantangan pengelolaan air bersih membutuhkan kepemimpinan yang memahami sektor tersebut secara mendalam," katanya.

Menurut Iwan, evaluasi terhadap direksi juga menjadi penting mengingat Arief Nasruddin telah menduduki sejumlah posisi strategis di berbagai BUMD DKI Jakarta sejak era kepemimpinan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) hingga saat ini di era Gubernur Pramono Anung.

“Di Era Ahok, Arief Nasruddin jadi Dirut Perumda Pasar Jaya sejak tahun 2016. Lalu di Era Anies Baswedan, pindah ke PAM Jaya sebagai Dirut hingga saat ini. Namun, sudah empat tahun memimpin PAM Jaya, tidak ada perbaikan kinerja yang dilakukan di PAM Jaya,” ucap Iwan.

“Oleh karena itu, regenerasi merupakan hal yang wajib dilakukan oleh Pramono Anung. Jangan sampai jabatan strategis hanya berputar pada figur yang sama dalam waktu yang panjang. Organisasi membutuhkan penyegaran agar muncul inovasi dan semangat baru," tuturnya.

Iwan juga menyinggung insiden meninggalnya tiga pekerja dalam pekerjaan proyek perpipaan di Jakarta. Menurutnya, peristiwa tersebut menjadi perhatian serius dan perlu dievaluasi secara menyeluruh.

Baca Juga: Profil Kuntadi, Kandidat Jampidsus Pengganti Febrie Adriansyah

"Terlepas dari proses hukum maupun investigasi yang berjalan, sebagai pimpinan perusahaan, Direktur Utama memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan standar keselamatan kerja diterapkan secara maksimal dalam setiap proyek. Sementara, dalam kasus ini, terlihat jelas tidak ada standar keselamatan kerja yang dilakukan PAM Jaya. Padahal ini tender dengan nilai triliunan rupiah," pungkasnya.