Growthmates, menikah sering kali dipersepsikan sebagai puncak dari kesiapan emosional dua orang. Padahal, di balik romantisme itu, ada satu fondasi yang tak kalah krusial, yakni kesiapan finansial. Tanpa perencanaan yang matang, keuangan justru bisa berubah dari penopang menjadi sumber konflik dalam rumah tangga.
Hal ini juga yang kerap menjadi alasan seseorang akhirnya mencari bantuan profesional seperti perencana keuangan.
Menurut Rista Zwestika, CFP, WMI, WPS, QFC, Perencana Keuangan sekaligus CEO & Founder Finante.id, keputusan untuk berkonsultasi biasanya muncul saat seseorang mulai merasa berada di titik krusial.
Bukan semata karena terjebak utang atau kondisi darurat, kata Rista, tetapi lebih karena munculnya kesadaran bahwa mereka akan memasuki fase hidup baru yang membutuhkan perhitungan serius.
“Menikah bukan cuma soal siap secara perasaan, tapi juga soal kesiapan finansial. Apakah keuangan ini akan jadi fondasi, atau justru sumber konflik dalam rumah tangga?,” ungkap Rista, dikutip dari Podcast I Could Relate, di laman Instagram Samanta Elsener, Minggu (29/3/2026).
Dalam praktiknya, kata Rista, banyak pasangan datang dengan kegelisahan yang sangat mendasar, seperti apakah kondisi keuangan mereka saat ini cukup untuk membangun kehidupan bersama.
Menurut Riska, mereka ingin memastikan bahwa keputusan menikah tidak justru membawa tekanan baru yang sebelumnya tidak terbayangkan.
Rista menjelaskan bahwa salah satu pertanyaan paling umum yang muncul adalah tentang kemampuan memenuhi kebutuhan rumah tangga.
“Biasanya mereka pengen tahu kira-kira, apakah kemampuan keuangan ini nanti pada saat mereka membuat sebuah pernikahan atau rumah tangga, ngebangun rumah tangga kira-kira mereka mampu gak sih untuk menjalankan kehidupannya dengan dana yang ada,” jelasnya.
Baca Juga: Bukan Takut, Ini Alasan Gen Z Menunda Nikah Menurut Ahli
Dijelaskan Rista, kekhawatiran ini kemudian berkembang menjadi diskusi yang lebih spesifik. Misalnya, bagaimana jika hanya satu pihak yang bekerja. Apakah penghasilan yang ada cukup untuk menanggung seluruh kebutuhan? Atau sebaliknya, jika keduanya bekerja, bagaimana cara mengatur sistem keuangan yang adil dan efektif agar tidak menimbulkan konflik di kemudian hari.
Tidak berhenti di situ, lanjut Rista, pasangan juga mulai menggali lebih dalam soal peran dan tanggung jawab finansial masing-masing. Mereka ingin memahami dengan jelas, uang dari masing-masing pihak akan dialokasikan untuk apa saja, dan bagaimana pembagian tersebut bisa menciptakan keseimbangan dalam hubungan.
Di tahap ini, kata Rista, konsultasi keuangan tidak lagi sekadar soal angka, tetapi juga membuka cara pandang masing-masing individu terhadap uang.
Dari sana, kata Rista, pasangan bisa melihat apakah mereka memiliki pola pikir yang sejalan atau justru bertolak belakang. Termasuk juga menyadari kemungkinan menjadi bagian dari generasi sandwich, di mana tanggung jawab finansial tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk keluarga.
Bagi Rista, memahami mindset pasangan terhadap uang adalah kunci yang sering kali terlewat, padahal dampaknya sangat besar dalam jangka panjang.
“Dari situ kita bisa tahu bagaimana sih pola mindset si pasangan ini, si calon suami memandang uang seperti apa, si calon istri memandang uangnya seperti apa,” pungkaspnya.
Baca Juga: Andy F Noya ungkap Cara Mencegah Ribut Soal Uang dengan Pasangan