Papan nama kuning dengan logo karikatur palu yang mengacungkan jempol kini menjadi pemandangan yang begitu akrab di berbagai pusat perbelanjaan. MR.DIY telah bertransformasi dari sekadar toko perkakas sederhana menjadi destinasi utama kebutuhan rumah tangga. Mulai dari tumbler, peralatan dapur, hingga aksesori elektronik, semuanya hadir dengan satu janji yang konsisten, “Always Low Prices”.

Di balik dominasi bisnis yang kini telah memiliki lebih dari 4.000 gerai di Asia Tenggara dan berbagai negara lainnya, terdapat kisah inspiratif dua bersaudara asal Malaysia, Tan Yu Yeh dan Tan Yu Wei. Keduanya memulai perjalanan dari sebuah ruko sederhana di Kuala Lumpur, sebelum akhirnya membangun salah satu jaringan ritel terbesar di kawasan.

Baca Juga: MR.DIY Siap Melangkah ke Pasar Modal, IPO Besar untuk Ekspansi Global

Perjalanan “si kuning” dimulai pada Juli 2005. Tan Yu Yeh, sang kakak, memiliki latar belakang sebagai insinyur dan sempat berkarier di dunia pasar modal sebagai pialang saham. Pengalaman tersebut membentuk ketajaman insting bisnisnya dalam membaca peluang.

Ia melihat adanya kebutuhan masyarakat akan akses perlengkapan rumah tangga yang lengkap, terjangkau, dan mudah dijangkau, tidak hanya di toko bangunan miliknya sendiri, tetapi juga di lokasi strategis seperti pusat perbelanjaan modern.

Bersama adiknya, Tan Yu Wei, mereka membuka gerai pertama di kawasan Jalan Tuanku Abdul Rahman, Kuala Lumpur. Pada tahap awal, toko tersebut hanyalah gerai perangkat keras (hardware) kecil.

Namun, visi keduanya jauh melampaui itu. Melalui pengelolaan rantai pasok yang efisien, mereka mampu menawarkan harga yang lebih rendah dibandingkan kompetitor, tanpa mengorbankan variasi produk.

Baca Juga: Mengenal Sosok Tommy Soeharto, Putra Bungsu Soeharto yang Punya Banyak Perusahaan

Transformasi besar kemudian terjadi ketika Mr. DIY memperluas kategori produknya. Tidak lagi terbatas pada perkakas, mereka menghadirkan alat tulis, mainan, dekorasi rumah, hingga aksesori elektronik. Strategi ini secara efektif mengubah toko mereka menjadi “one-stop shopping” bagi kebutuhan keluarga.

Tonggak penting dalam perjalanan perusahaan terjadi saat Mr. DIY melantai di Bursa Malaysia pada Oktober 2020. Aksi penawaran saham perdana (IPO) tersebut menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah pasar modal Malaysia.

Keberhasilan ini turut mengangkat nama keluarga Tan ke jajaran orang terkaya di negara tersebut. Berdasarkan data Forbes, kekayaan kolektif mereka diperkirakan mencapai sekitar USD 2,6 miliar.

Ekspansi global Mr. DIY juga tidak lepas dari peran mitra strategis seperti Creador, sebuah firma ekuitas swasta yang membantu memperkuat struktur bisnis dan standarisasi operasional di berbagai negara. Kolaborasi ini menjadi fondasi penting dalam mempercepat pertumbuhan perusahaan secara berkelanjutan.

Di Indonesia, pertumbuhan Mr. DIY terbilang sangat agresif. Melalui entitas PT Daya Intiguna Yasa Tbk, perusahaan telah mengoperasikan sekitar 1.200 toko di lebih dari 422 kota dan kabupaten hingga akhir 2025. Bahkan, dalam kurun waktu tiga tahun (2023–2025), mereka berhasil menambah sekitar 800 gerai baru. 

Dari sisi kinerja keuangan, unit bisnis di Indonesia mencatat pendapatan sebesar Rp7,9 triliun pada tahun fiskal 2025, tumbuh 16,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan bahwa strategi harga rendah yang dikombinasikan dengan variasi produk luas masih menjadi daya tarik utama bagi konsumen.

Menariknya, di balik kesuksesan besar tersebut, Tan Yu Yeh dikenal sebagai sosok yang sangat menjaga privasi. Ia jarang muncul di hadapan publik dan lebih memilih membiarkan performa bisnis berbicara. Di bawah kepemimpinannya, perusahaan juga berkomitmen untuk membagikan dividen minimal 40% dari laba bersih.

Pada akhirnya, kisah Mr. DIY bukan sekadar tentang ekspansi ritel, melainkan tentang bagaimana visinya dapat berkembang menjadi kekuatan bisnis global. Dari sebuah toko kecil di sudut kota, lahirlah kerajaan ritel yang kini menjangkau jutaan konsumen setiap harinya.