Pemerintah mulai menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi imbas gejolak Timur Tengah karena perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang belum meredah sampai sekarang. 

Kenaikan harga BBM dipicu fluktuasi harga minyak mentah dunia yang terus merangkak naik lantaran blokade jalur distribusi energi global terganggu, termasuk penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20% pasokan minyak dunia. Ta hanya itu  pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) juga menjadi pemicu lainnya.  

Baca Juga: Sampai Kapan Pemerintah Mampu Pertahankan Kestabilan Harga BBM?

Dari perbandingan data Global Petrol Prices per 28 Februari dan 11 Maret, terdapat tiga negara Asia Tenggara yang mengalami kenaikan harga BBM paling tinggi di kawasan, yakni Kamboja, Vietnam, dan Singapura.

Imbas perang, harga BBM di Kamboja naik hingga 68%, dari USD1,11 per liter menjadi USD1,32 per liter atau sekitar Rp22.446 pada 11 Maret. Vietnam menyusul dengan kenaikan hingga 50%, dari USD0,75 per liter menjadi USD1,13 atau sekitar Rp19.215 per liter.

Adapun mengutip laman mypertamina.id, mulai 18 April 2026, PT Pertamina menaikkan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Pertamax Turbo dibanderol Rp19.400 per liter, dari sebelumnya Rp13.100 per liter. Harga Dexlite kini Rp23.600 per liter, dari sebelumnya Rp14.200 per liter. Sementara itu, harga Pertamina Dex menjadi Rp23.900 per liter, dari sebelumnya Rp14.500 per liter.

Untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan konsumen dan keberlanjutan bisnis energi, pemerintah menyesuaikan harga BBM nonsubsidi dengan mengacu pada Keputusan Menteri ESDM No. 245 Tahun 2022 tentang Formula Harga Dasar untuk Menghitung Harga Jual Eceran BBM Nonsubsidi.

Selain itu, pemerintah tetap mempertahankan harga BBM nonsubsidi Pertamax dan Pertamax Green. Harga Pertamax dan Pertamax Green masing-masing masih stabil di Rp12.300 dan Rp12.900 per liter. Begitu pula dengan BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar. Harga Pertalite tetap dijaga di level Rp10.000 per liter dan biosolar Rp6.800 per liter  untuk menjaga daya beli masyarakat.

“Harga Pertamax 92 dan Pertamax Green 95 tetap, agar kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat tetap terjaga," jelas Vice President Corporate Communication PT Pertamina Muhammad Baron dilansir Selasa (21/4/2026).

Dibandingkan dengan negara-negara lain, harga BBM Indonesia terhitung murah, khususnya untuk BBM subsidi. Mengutip laman Global Petrol Prices per 13 April 2026, secara rata-rata harga bensin di Indonesia tercatat USD0,724 per liter atau sekitar Rp12.409 per liter (kurs Rp17.140).

Baca Juga: Program Biodiesel Efektif Tekan Impor BBM

Harganya masih lebih murah dibandingkan BBM di Vietnam yang dibanderol USD0,919 per liter atau sekitar Rp15.751 per liter. Harga BBM di Kamboja juga lebih tinggi dengan USD1,557 per liter atau Rp26.687 per liter. Begitu pula jika dibandingkan dengan harga BBM di Filipina sebesar USD1,610 per liter atau sekitar Rp27.595 per liter. Bahkan, harga BBM Indonesia terpaut jauh dari harga BBM di Singapura yang mencapai USD2,434 per liter atau sekitar Rp41.719 per liter.