Selain itu, Samanta juga menyoroti kebiasaan selebrasi meditasi yang kerap dilakukan Haaland usai mencetak gol.

Menurutnya, gestur tersebut bukan sekadar gaya khas seorang pesepak bola, melainkan memiliki fungsi psikologis untuk membantu mengelola emosi.

"Terus kenapa dia jarang frustrasi kalau gagal? Lihat selebrasi meditasinya, itu bukan gaya-gayaan. Secara psikologis itu trick emotional reset. Dia nge-delete beban mental dan tekanan ratusan ribu suporter dalam hitungan detik," kata Samanta.

Dengan melakukan emotional reset, lanjutnya, Haaland mampu mengembalikan kondisi mentalnya ke situasi yang tenang sehingga tidak larut dalam tekanan maupun kegagalan.

Kondisi ini, lanjut Samanta, dikenal sebagai flow state, yakni fase ketika seseorang dapat menampilkan performa terbaik karena pikirannya tetap fokus dan bebas dari gangguan.

"Otaknya langsung balik ke flow state, kosong, tenang tapi mematikan. Dia sudah memvisualisasikan semua gol itu di dalam kepalanya sebelum bertanding. Makanya pas bola datang, otaknya enggak mikir lagi, tapi langsung eksekusi otomatis tanpa ragu," ungkapnya.

Menurut Samanta, kemampuan tersebut merupakan bentuk cognitive automation, yaitu proses ketika keterampilan yang telah dilatih berulang kali menjadi otomatis sehingga atlet dapat mengambil keputusan dengan cepat tanpa harus berpikir terlalu lama.

"Dan ini bukan cuma bakat, ini adalah cognitive automation level dewa," pungkasnya.

Baca Juga: Pilates dan Manfaatnya untuk Tubuh hingga Ketajaman Mental