Growthmates, mempersiapkan masa depan anak neurodivergent pada dasarnya memiliki tujuan yang sama dengan anak neurotipikal, yakni membantu mereka tumbuh menjadi individu yang mampu menjalani kehidupan secara mandiri.
Karena itu, pendampingan tidak seharusnya hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga perlu mencakup berbagai keterampilan yang dibutuhkan anak dalam kehidupan sehari-hari.
Lead Psychologist Atelier of Minds, Erna Yulianti, S.Psi., M.Psi., Psikolog, mengatakan, kemampuan seperti keterampilan sosial, regulasi emosi, komunikasi, hingga kemandirian merupakan fondasi penting yang perlu dibangun sejak dini untuk mendukung masa depan anak neurodivergent.
Menurut Erna, kehidupan anak tidak berhenti di ruang kelas. Ada kehidupan yang akan mereka jalani setelah menyelesaikan pendidikan, sehingga berbagai kemampuan di luar akademik juga perlu mendapatkan perhatian yang seimbang.
“Jadi kayak kehidupan kita di dunia ini, kehidupan anak-anak neurodivergent di dunia ini tidak melulu hanya tentang sekolah. Ada kehidupan lain setelahnya,” papar Erna, saat Media Briefing ‘Suara Orang Tua: Realita Pengasuhan Anak Neurodivergent di Indonesia’, yang digelar di Atelier of Minds, Jakarta Selatan, Senin (10/8/2026).
Erna melanjtukan, tuntutan terhadap anak dari satu generasi ke generasi lainnya juga dapat mengalami perubahan. Jika pada generasi sebelumnya pencapaian nilai akademik kerap menjadi ukuran utama keberhasilan, kini orang tua perlu melihat perkembangan anak secara lebih menyeluruh.
Erna sendirimengaku pernah mengalami sendiri bagaimana tuntutan untuk mendapatkan nilai terbaik dapat membuat kemampuan lain menjadi kurang mendapat perhatian.
Menurut Erna, hal serupa penting menjadi perhatian ketika mendampingi anak neurodivergent. Nilai akademik tetap memiliki peran, tetapi tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan perkembangan anak.
“Jadi semuanya itu penting. Nilai penting, life skills penting, regulasi emosi dan regulasi diri penting. Kemudian kemampuan komunikasi dan interaksi itu penting,” tuturnya.
Dipaparkan Erna, salah satu kemampuan yang perlu dilatih secara bertahap adalah life skills atau keterampilan hidup. Kemampuan ini akan semakin penting seiring bertambahnya usia anak, terutama ketika mereka mulai diarahkan untuk menjadi individu yang lebih mandiri.
Kemandirian tidak selalu dimulai dari hal-hal besar. Aktivitas sederhana di rumah, seperti melipat pakaian atau membereskan kamar, dapat menjadi bagian dari proses membangun kemampuan tersebut.
“Misalnya mungkin dari sekadar melipat baju atau membereskan kamar, itu kan penting,” ujar Erna.
Menurutnya, pembiasaan semacam ini membantu anak memahami tanggung jawab terhadap dirinya sendiri sekaligus memberikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan yang nantinya dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain keterampilan hidup, kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Kemampuan sosial akan berpengaruh terhadap bagaimana anak membangun hubungan dengan orang lain, termasuk dalam pertemanan.
Erna mengatakan anak neurodivergent juga perlu mendapatkan kesempatan untuk belajar memahami kebutuhan orang lain sekaligus mengomunikasikan kebutuhannya sendiri.
“Sebetulnya kita perlu untuk saling memahami kebutuhan satu sama lain, untuk lebih peka satu sama lain,” katanya.
Baca Juga: 76% Orang Tua Sadari Perbedaan Anak Sebelum Diagnosis, Ini Tantangan Keluarga Neurodivergent
Selanjtunya, aspek lain yang perlu mendapatkan perhatian adalah regulasi diri dan regulasi emosi. Kemampuan tersebut dapat memengaruhi berbagai aktivitas anak, termasuk proses belajar.
Erna memberikan gambaran sederhana mengenai bagaimana kondisi emosional dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam menghadapi tuntutan akademik.
Ketika seseorang sedang berada dalam kondisi mood yang kurang baik, misalnya, situasi tersebut dapat berpengaruh terhadap kesiapan menghadapi ujian.
“Misalkan kita lagi kondisi mood-nya lagi nggak baik, tapi besok ada ujian atau apa. Jadi kayak itu berpengaruh,” jelasnya.
Karena itu, berbagai aspek perkembangan anak sebenarnya tidak berdiri sendiri. Kemampuan regulasi emosi dapat berkaitan dengan proses belajar, kemampuan komunikasi dapat memengaruhi hubungan sosial, sementara life skills dapat mendukung kemandirian.
Semua kemampuan tersebut pada akhirnya saling memengaruhi dalam membantu anak mencapai tujuan perkembangannya.
“Semua aspek yang seperti Mbak Arissa pengen itu saling memengaruhi untuk mencapai sebuah goals,” kata Erna.
Dan, dalam proses membangun berbagai kemampuan tersebut, peran orang tua dan orang dewasa yang mendampingi anak menjadi sangat penting.
Dikatakan Erna, pendampingan tidak hanya berarti memberikan instruksi atau mengarahkan anak, tetapi juga menciptakan ruang bagi anak untuk belajar dan berkembang sesuai kebutuhannya.
Erna menilai, orang dewasa perlu membangun sinergi dalam mendukung perkembangan anak. Orang tua, sekolah, dan pihak-pihak lain yang terlibat dalam kehidupan anak perlu memiliki pemahaman yang sejalan mengenai kebutuhan dan tujuan perkembangan anak.
“Jadi kita sebagai orang dewasa yang mendampingi anak, sebagai orang tua yang mendampingi anak, kita tentunya butuh sinergi secara bersama untuk menerapkan semua itu. Jadi balance,” ujarnya.
Erna pun menuturkan, pendampingan anak neurodivergent bukan hanya tentang bagaimana membantu mereka mencapai prestasi akademik, tetapi juga mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan secara lebih luas.
Orang tua dan orang dewasa di sekitar anak dapat berperan sebagai fasilitator yang membantu anak menemukan kemampuan, memahami emosinya, membangun hubungan sosial, serta belajar melakukan berbagai hal secara mandiri.
“Jadi kayak kita sebagai orang dewasa perlu untuk memfasilitasi anak, mengarahkan ataupun menjadi teman,” pungkas Erna.
Baca Juga: Tak Hanya soal Terapi, Ini Sederet Tantangan Orang Tua Anak Neurodivergent di Indonesia