Nama Pramono Anung Wibowo telah lama dikenal dalam panggung politik nasional. Politikus senior ini memiliki perjalanan karier panjang di dunia bisnis, legislatif, hingga pemerintahan sebelum akhirnya dipercaya memimpin Ibu Kota sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2025–2030.
Pengalaman yang luas, jaringan politik yang kuat, serta kemampuannya dalam membangun komunikasi membuat Pramono dikenal sebagai salah satu tokoh berpengaruh dalam dinamika politik Indonesia.
Dan, dikutip dari berbagai sumber, Rabu (11/3/2026), berikut Olenka ulas profil Pramono Anung selengkapnya.
Latar Belakang Keluarga dan Kehidupan Pribadi
Dikutip dari laman resmi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo lahir di Kediri, Jawa Timur, pada 11 Juni 1963. Ia berasal dari keluarga sederhana dan tumbuh dalam lingkungan yang hangat di kota tersebut.
Kemudian, dikutip dari Popbela.com, Pramono merupakan anak ketiga dari tujuh bersaudara, putra pasangan R. Kasbe Prajitna dan Sumarni. Kediri menjadi tempat yang membentuk fondasi awal perjalanan hidupnya sebelum ia merantau dan meniti karier di tingkat nasional.
Dalam kehidupan pribadinya, Pramono menikah dengan Endang Nugrahani, yang akrab disapa Hani. Pernikahan mereka telah berlangsung lebih dari tiga dekade dan dikenal harmonis.
Dari pernikahan tersebut, Pramono dan Hani dikaruniai dua anak. Putra sulungnya, Hanindhito Himawan Pramana, lahir pada 31 Juli 1992 dan kini mengikuti jejak ayahnya di dunia politik sebagai Bupati Kediri. Ia menikah dengan Eriani Annisa.
Sementara itu, anak kedua mereka adalah Hanifa Fadhila Pramono yang lahir pada 5 Februari 1998. Dari keluarga putra sulungnya, Pramono juga telah memiliki dua cucu perempuan bernama Shanaya dan Shadiya.
Selain aktif dalam kegiatan pemerintahan, Pramono juga dikenal cukup aktif di media sosial sebagai sarana berkomunikasi dengan masyarakat.
Melalui akun Instagram pribadinya, Pramono pun kerap membagikan aktivitas pemerintahan, kunjungan kerja, hingga momen keseharian. Hingga kini, akun tersebut memiliki sekitar 730 ribu pengikut, menunjukkan besarnya perhatian publik terhadap aktivitas dan pemikiran yang ia bagikan.
Jejak Pendidikan
Perjalanan akademik Pramono dimulai di Kediri. Ia menempuh pendidikan dasar di SD Pawyatan Daha Kediri pada 1971–1976, kemudian melanjutkan ke SMP Pawyatan Daha Kediri pada 1976–1979 dan SMA Negeri 1 Kediri pada 1979–1982.
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Pramono merantau ke Bandung untuk menempuh pendidikan tinggi di Institut Teknologi Bandung dengan mengambil jurusan Teknik Pertambangan pada 1982–1988.
Dikutip dari Bloomberg Technoz, selama masa kuliah ia aktif dalam kegiatan organisasi mahasiswa. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Tambang pada 1985–1986 dan Ketua Forum Komunikasi Himpunan Jurusan Dewan Mahasiswa ITB pada 1986–1987, sebuah forum yang dikenal aktif menyuarakan kritik terhadap kebijakan pemerintah pada masa Orde Baru.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjananya, Pramono melanjutkan studi Magister Manajemen di Universitas Gadjah Mada pada 1990–1992. Bertahun-tahun kemudian, ia kembali menempuh pendidikan doktoral di Universitas Padjadjaran dan meraih gelar Doktor Ilmu Komunikasi Politik pada 2013. Disertasinya berjudul ‘Komunikasi Politik dan Interpretasi Para Anggota DPR terhadap Konstituen Mereka’.
Dari Dunia Bisnis ke Politik
Dikutip dari Tempo.co, sebelum dikenal luas sebagai politisi, Pramono lebih dahulu berkarier di sektor bisnis, khususnya di industri pertambangan dan energi.
Setelah lulus dari ITB, ia bekerja di sejumlah perusahaan tambang dan sempat menjabat sebagai Direktur di PT Tanito Harum pada 1988–1996 serta Direktur PT Vietmindo Energitama. Selain itu, ia juga pernah dipercaya menjadi Komisaris PT Yudistira Haka Perkasa pada periode 1996–1999.
Pengalaman di dunia usaha tersebut menjadi bekal penting ketika ia kemudian memasuki dunia politik. Pada 1998, Pramono bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan mulai aktif dalam kegiatan politik nasional.
Baca Juga: Profil Emil Dardak yang Kini Jabat Wakil Gubernur Jawa Timur
Karier Politik dan Pemerintahan
Dikutip dari Antaranews, karier politik Pramono berkembang pesat setelah bergabung dengan PDI Perjuangan. Ia dipercaya memegang berbagai posisi strategis di partai, mulai dari Wakil Sekretaris Jenderal hingga kemudian menjabat Sekretaris Jenderal.
Di tingkat nasional, Pramono berhasil terpilih sebagai anggota DPR RI dalam empat pemilu legislatif, yaitu pada 1999, 2004, 2009, dan 2014. Puncak kariernya di parlemen terjadi ketika ia dipercaya menjabat Wakil Ketua DPR RI periode 2009–2014 di bawah kepemimpinan Marzuki Alie sebagai Ketua DPR.
Dalam dunia politik, Pramono dikenal sebagai sosok yang piawai melakukan lobi dan membangun komunikasi lintas kelompok.
Dikutip dari Tirto.id, kemampuannya tersebut terlihat ketika terjadi ketegangan politik antara Koalisi Indonesia Hebat dan Koalisi Merah Putih di parlemen. Saat situasi politik memanas, Pramono justru mengambil peran sebagai jembatan komunikasi untuk meredakan ketegangan antara kedua kubu.
Reputasi tersebut kemudian membuatnya dipercaya oleh Presiden Joko Widodo untuk menjabat sebagai Sekretaris Kabinet pada 2014 dalam pemerintahan bersama Jusuf Kalla. Ia pun kembali dipercaya mengemban jabatan yang sama pada periode kedua pemerintahan Jokowi dalam Kabinet Indonesia Maju pada 2019–2024.
Pengalaman panjang di legislatif dan eksekutif tersebut menjadi bekal penting ketika Pramono akhirnya dipercaya memimpin Jakarta sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2025–2030.
Kekayaan
Berdasarkan data dari laman resmi Komisi Pemberantasan Korupsi melalui Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), Pramono Anung melaporkan total kekayaannya pada 10 April 2025 mencapai sekitar Rp114,5 miliar.
Nilai tersebut berasal dari berbagai aset, termasuk sembilan properti tanah dan bangunan yang tersebar di Bogor, Jakarta Selatan, Kediri, Buleleng, Sleman, dan Bekasi dengan nilai sekitar Rp35,4 miliar.
Ia juga tercatat memiliki empat kendaraan, yakni Mini Cooper Sedan, Mitsubishi Outlander, Toyota Alphard, dan Mercedes-Benz EQS dengan nilai sekitar Rp4,24 miliar.
Selain itu, Pramono memiliki harta bergerak lainnya senilai sekitar Rp19,13 miliar, surat berharga sebesar Rp37,25 miliar, serta kas dan setara kas sekitar Rp19,07 miliar. Dalam laporan tersebut juga tercatat adanya utang sekitar Rp616,8 juta.
Penghargaan
Dikutip dari IDN Times, sepanjang kariernya Pramono Anung Wibowo telah menerima berbagai penghargaan atas kontribusinya di bidang pemerintahan, politik, dan pelayanan publik.
Salah satu penghargaan paling bergengsi yang pernah diterimanya adalah Bintang Mahaputera Adipradana yang dianugerahkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2014. Tanda kehormatan tersebut merupakan salah satu penghargaan tertinggi dari negara yang diberikan kepada tokoh yang dinilai berjasa besar bagi bangsa dan negara.
Selain itu, pada 2017 ia juga menerima Bintang Bhayangkara Utama dari Kepolisian Negara Republik Indonesia. Pada tahun yang sama, ia memperoleh penghargaan Ganesa Prajamanggala Bakti Adiutama dari Institut Teknologi Bandung sebagai pengakuan atas kontribusinya sebagai pejabat publik.
Berbagai pengakuan lain juga ia terima sepanjang kariernya, antara lain Anggota DPR RI Terbaik tahun 2000, Alumni ITB Teladan 2002, serta Tokoh Penjaga Harmoni Kebangsaan dalam ajang Anugerah Indonesia Maju 2019.
Ia juga dianugerahi status Warga Kehormatan oleh Badan Intelijen Negara pada 2020 serta penghargaan Alumni Peduli Fikom dari Universitas Padjadjaran.
Dalam beberapa tahun terakhir, penghargaan terhadap Pramono terus bertambah. Pada 2025 ia meraih People of the Year dari Metro TV kategori Penggerak Pendidikan Inklusif dan Berkeadilan.
Pramono juga pernah menerima detikcom Awards 2025 sebagai Tokoh Kesetaraan Akses Pendidikan Masyarakat Perkotaan, CNBC Indonesia Awards 2025 untuk kategori Economic Empowerment & Impactful Leadership, Indonesia Kita Awards 2025 sebagai The Remarkable Leader, serta Kumparan Awards 2025 kategori Impactful Leader for Equal Public Access.
Pada 2026, ia bahkan tercatat meraih Rekor MURI atas penyelenggaraan pertunjukan flying drone LED pertama di Indonesia.
Baca Juga: Profil Perry Warjiyo, Anak Petani dari Sukoharjo yang Jadi Gubernur Bank Indonesia