Nama Bhima Yudhistira Adhinegara semakin sering muncul dalam perbincangan publik ketika isu ekonomi nasional mengemuka. Ekonom muda ini dikenal aktif menyampaikan analisis kritis mengenai berbagai kebijakan dan dinamika ekonomi Indonesia.

Ia merupakan Direktur sekaligus pendiri Center of Economic and Law Studies (CELIOS), sebuah lembaga think tank yang berfokus pada kajian ekonomi, transisi energi, hingga transformasi digital.

Melalui berbagai riset dan kajian kebijakan yang dihasilkan CELIOS, Bhima berupaya menghadirkan perspektif akademik sekaligus masukan strategis bagi pengambilan keputusan ekonomi di Indonesia.

Dan, dikutip dari berbagai sumber, Jumat (13/3/2026), berikut Olenka rangkum profil singkat Bhima Yudhistira Adhinegara.

Latar Belakang dan Kehidupan Pribadi

Dikutip dari Inilah.com, Bhima lahir di Pamekasan pada 3 November 1989. Ia tumbuh dengan ketertarikan besar pada dunia literasi sejak usia muda.

Kebiasaan membaca berbagai jurnal penelitian dan tulisan ilmiah sudah mulai ia tekuni sejak masa sekolah menengah, yang kemudian membentuk fondasi intelektual dalam perjalanan akademiknya di bidang ekonomi.

Sementara itu, informasi mengenai latar belakang keluarga Bhima, termasuk identitas orang tua dan anggota keluarganya, tidak banyak diungkap ke ruang publik.

Bhima cenderung menjaga privasi kehidupan keluarganya dan lebih sering menyoroti aktivitas profesionalnya, seperti penelitian, analisis kebijakan, serta berbagai pandangannya terkait perkembangan ekonomi di Indonesia.

Dan, di luar kesibukannya sebagai peneliti dan pengamat ekonomi, Bhima memiliki sejumlah sisi personal yang menarik. Dikutip dari Tempo, sejak duduk di bangku sekolah dasar ia memiliki hobi bermain mobil mini 4WD atau Tamiya.

Ketertarikan itu bahkan masih bertahan hingga sekarang, di sela aktivitas risetnya, Bhima kerap membuat lintasan balap Tamiya di kantornya sebagai sarana hiburan sekaligus cara melepas penat dari rutinitas analisis ekonomi.

Kehidupan pribadinya juga sesekali menarik perhatian publik. Dikutip dari Jawa Pos, Bhima pernah menjalankan ibadah umrah bersama sang istri secara mandiri tanpa mengikuti paket perjalanan biro umrah.

Menurutnya, perjalanan yang diatur sendiri memberikan keleluasaan dalam menentukan jadwal sekaligus lebih efisien dari segi biaya karena dilakukan hanya berdua.

Perjalanan Akademik

Perjalanan akademik Bhima dimulai di Universitas Gadjah Mada. Dikutip dari laman LPDP, ia menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Ekonomika dan Bisnis melalui program International Undergraduate Program (IUP).

Selama masa kuliah, Bhima aktif terlibat dalam berbagai proyek penelitian bersama dosen. Ia juga bergabung sebagai peneliti di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), salah satu lembaga kajian ekonomi terkemuka di Indonesia.

Ketertarikannya pada dunia riset semakin kuat setelah terlibat dalam berbagai kajian ekonomi yang membahas dinamika pembangunan nasional. Pengalaman tersebut tidak hanya memperkaya perspektif akademiknya, tetapi juga memperkuat minatnya untuk menekuni penelitian kebijakan publik.

Pada 2014, Bhima melanjutkan studi magister di University of Bradford, Inggris, melalui beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Ia mengambil program Master in Finance yang memperdalam pemahamannya tentang keuangan, ekonomi makro, dan kebijakan ekonomi global.

Selama menjalani studi tersebut, Bhima tetap aktif dalam berbagai kegiatan penelitian dan menjalin keterlibatan dengan lembaga internasional.

Perjalanan Karier dan Riset

Sebelum mendirikan CELIOS, Bhima telah terlibat dalam berbagai proyek penelitian ekonomi di sejumlah institusi nasional maupun internasional.

Dikutip dari laman LPDP, ia pernah bekerja sama dengan International Finance Corporation, bagian dari World Bank Group, yang memperluas pengalamannya dalam kajian ekonomi pembangunan dan sektor keuangan.

Selain itu, ia juga memiliki pengalaman di berbagai organisasi dan lembaga kebijakan, termasuk Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), tempat ia pernah menjabat sebagai staf asisten ketua umum pada periode 2015–2020.

Bhima juga pernah terlibat dalam kegiatan bersama Fair Labor Association dan Friedrich Ebert Stiftung, yang memperkaya perspektifnya mengenai isu ketenagakerjaan, pembangunan ekonomi, serta kebijakan publik.

Setelah menyelesaikan studi magister, Bhima kembali ke Indonesia dan pada 2017 mendirikan Center of Economic and Law Studies (CELIOS). Lembaga ini kemudian berkembang menjadi salah satu pusat kajian yang aktif menghasilkan riset mengenai berbagai isu strategis, mulai dari makroekonomi, ekonomi digital, kebijakan fiskal, hingga transisi energi dan tata kelola mineral kritis.

Baca Juga: Profil Pramono Anung Wibowo, Politikus Senior yang Kini Jadi Gubernur DKI Jakarta

Peran sebagai Pengamat Ekonomi

Di luar aktivitas riset, Bhima dikenal luas sebagai pengamat ekonomi yang aktif menyampaikan pandangan di berbagai media massa. Ia kerap menulis kolom opini maupun memberikan komentar dalam berbagai diskusi publik mengenai isu-isu ekonomi strategis.

Analisisnya sering menjadi rujukan dalam pembahasan kebijakan fiskal, perkembangan ekonomi digital, hingga tantangan transisi energi di Indonesia.

Gaya penyampaiannya yang lugas dan berbasis data membuat pandangannya mudah dipahami sekaligus relevan bagi diskursus publik.

Bhima juga pernah terlibat dalam proyek dokumenter. Ia pernah menjadi salah satu dari empat pemeran dalam film dokumenter Dirty Vote II yang disutradarai oleh Dandhy Dwi Laksono. Film tersebut mengangkat isu-isu penting terkait demokrasi dan kebijakan publik di Indonesia.

Aktivitas di Media Sosial

Selain aktif di dunia akademik dan media, Bhima juga cukup aktif di media sosial. Ia sering membagikan pandangan, aktivitas riset, serta berbagai isu ekonomi melalui akun Instagram pribadinya, @bhimayudhistira.

Media sosial tersebut menjadi sarana bagi Bhima untuk berinteraksi dengan publik sekaligus menyampaikan perspektif ekonomi dengan gaya yang lebih ringan dan mudah diakses oleh masyarakat luas.

Penghargaan

Kontribusi Bhima dalam ruang publik juga mendapat sejumlah pengakuan. Pada 2019 ia tercatat sebagai milenial dengan jumlah kutipan media terbanyak keempat di Indonesia berdasarkan data Koaksi Indonesia, dengan total 17.175 kutipan.

Setahun kemudian, pada 2020, ia juga masuk dalam daftar lima besar Key Opinion Leader di media massa versi Lokadata.

Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa pandangan dan analisisnya memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam percakapan publik mengenai isu ekonomi di Indonesia.

Baca Juga: Profil Emil Dardak yang Kini Jabat Wakil Gubernur Jawa Timur