Jurnalis senior Lukas Luwarso mengkritisi pidato Presiden Prabowo Subianto yang acap kali berujung blunder fatal yang memantik polemik.
Menurutnya, Prabowo sering kali tak bisa mengendalikan kata-katanya saat sedang naik podium. Padahal sebagai kepala negara, Prabowo seharusnya bisa menjaga kata-katanya saat tampil di hadapan publik.
“Isinya adalah, kalau istilah saya boleh ditekankan, dia (Prabowo) sedang mengalami ‘diare kata-kata’. Jadi kayak orang diare, tapi ini kata-kata. Jadi mengeluarkan kata-kata yang tidak bisa dikontrol, itu kemudian jadi sesuatu yang patologis,” kata Lukas dilansir Olenka.id dari saluran YouTube Forum Keadilan TV, Senin,( 3/8/2026).
Tak hanya blunder, pidato Prabowo lanjut Lukas juga tak punya isi apa-apa. Omongannya yang panjang lebar dari atas podium sama sekali tidak menginspirasi masyarakat. Ini masih bisa dimaklumi jika hanya terjadi sekali dua kali, tetapi sayang hampir diseluruh pidatonya, Prabowo hanya sekadar ‘omon-omon’. Ia kembali menyiapkan pidato tak berisi.
“Kalau sekali dua kali pidato mengalami penyakit diare kata-kata, kita maklum lah. Tapi kalau setiap kali pidato sekarang selalu memunculkan istilah-istilah aneh makian, umpatan, hardikan yang umumnya ditujukan kepada rakyat, kepada kelompok-kelompok kritis, itu kan tidak bisa disebut lain, selain memang ‘diare kata-kata’,” jelasnya.
Menurut eks Ketua Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) itu, diare kata-kata yang dialami Prabowo bukan tanpa sebab. Ia menyebut hal ini terjadi karena berbagai peristiwa politik yang akhirnya menjadi bebean Prabowo hingga saat ini.
Baca Juga: Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Salip PDIP, tapi Kepuasan Publik terhadap Prabowo Anjlok
“Ya karena ada virus yang mendominasi pemikiran Prabowo. Dia ini kan politikus yang mengalami banyak trauma. Kita ingatlah tahun 1998. Prabowo berada di epicentrum gempa tektonik politik Indonesia. Dia harus ke Yordan selama lebih dari setahun. Dan kemudian dia membawa beban politik di punggungnya kalau dia dianggap, benar atau tidak, kita tidak pernah sepenuhnya tahu, bahwa dia dianggap ikut memicu kerusuhan 98,” pungkasnya.