Lebih lanjut, dr. Tan menegaskan bahwa pangan ideal adalah yang memenuhi seluruh prinsip B2SA.

“Pangan itu harusnya beragam, bergizi, seimbang (sehat), aman. Yaitu makanan dan minuman yang kalau dimakan terus-menerus tidak menyebabkan obesitas dan penyakit tidak menular,” ujarnya.

Dalam praktik sehari-hari, konsep ini sebenarnya tidak rumit. Contoh paling sederhana adalah makanan berbasis 'real food', yaitu bahan pangan yang masih menyerupai bentuk aslinya.

Masakan rumahan menjadi representasi terbaik karena umumnya tidak mengandung tambahan berlebihan seperti pemanis buatan, garam tinggi, minyak berlebih, maupun bahan kimia lain.

Sebaliknya, dr. Tan mengingatkan tentang meningkatnya konsumsi makanan ultra-proses atau ultra-processed food (UPF), yaitu produk pangan kemasan yang telah melalui banyak tahapan pengolahan dan biasanya mengandung tambahan gula, garam, lemak, serta bahan pengawet.

"Konsumsi berlebihan jenis makanan ini berisiko mengganggu kesehatan jika dijadikan kebiasaan," tegasnya.

Karena itu, ia menilai penting adanya transparansi informasi pada produk pangan kemasan. Salah satu langkah yang dinilai efektif adalah pemberian label di bagian depan kemasan yang menunjukkan kandungan tinggi gula, garam, atau lemak.

"Tujuannya agar masyarakat lebih sadar dan mampu membuat pilihan yang lebih sehat," pungkasnya.

Baca Juga: Usai Lebaran Jangan Abaikan Kesehatan, Ini Pesan Dokter Ahli