PT Pintu Kemana Saja (PINTU), platform investasi aset kripto yang terdaftar resmi dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), meluncurkan program eksklusif PINTU VIP. Program ini dirancang khusus bagi pengguna loyal yang menginginkan pengalaman trading kripto yang lebih premium dengan berbagai layanan personal dan fasilitas eksklusif.
Chief Marketing Officer Timothius Martin, pun memaparkan posisi dan keunggulan platform tersebut di tengah kompetisi industri kripto di Indonesia.
Timothius mengatakan, hingga saat ini jumlah pengguna yang masuk kategori VIP masih relatif kecil dibandingkan total basis pengguna PINTU. Namun, segmen ini memiliki nilai transaksi dan aset yang signifikan.
“Yang bisa kita share hari ini bukan hanya Saldo Aset Kripto (AUM - Assets Under Management) di atas Rp1 miliar, tapi yang sudah masuk status VIP. Selama satu bulan terakhir ada sekitar 1.400 pengguna yang masuk status VIP,” terang Timothius, saat acara Grand Launching PINTU VIP yang digelar di Bale Nusa, Pakubuwono, Jakarta, Senin (9/3/2026).
Timothius menuturkan, status VIP tidak hanya ditentukan dari saldo aset kripto (AUM) di atas Rp1 miliar, tetapi juga dapat diperoleh melalui beberapa kriteria lain.
Di antaranya volume trading spot lebih dari Rp1 miliar, volume futures sekitar US$250 ribu atau sekitar Rp4,2–4,3 miliar, maupun aktivitas staking dalam jumlah tertentu.
Menurut Timothius, angka tersebut berasal dari total pengguna aplikasi PINTU yang kini telah mencapai sekitar 10 juta pengguna.
“Pengguna PINTU yang sudah menjalankan aplikasi saat ini ada sekitar 10 juta users, sementara yang masuk kategori VIP sekitar 1.400 pengguna. Jumlahnya bisa berubah setiap bulan karena syaratnya ada beberapa kategori, mulai dari AUM, volume spot, volume futures, hingga aktivitas staking,” jelasnya.
Kemudian, di tengah banyaknya platform kripto yang beroperasi di Indonesia, Timothius menilai, PINTU memiliki diferensiasi yang jelas dalam hal pengalaman pengguna.
Menurutnya, filosofi nama PINTU sendiri mencerminkan positioning perusahaan sebagai gerbang awal bagi masyarakat yang ingin mengenal kripto.
“Kita lihat PINTU itu seperti namanya, yaitu pintu masuk bagi orang-orang yang mau mencoba kripto. Mulai dari belajar fundamental, belajar teknikal, hingga mencoba membeli aset kripto dengan cara yang sangat mudah tanpa harus melihat chart atau order book,” kata Timothius.
Ia menambahkan, ekosistem PINTU dirancang agar pengguna dapat berkembang secara bertahap, dari pemula hingga trader profesional.
“Dari yang awalnya belajar secara gratis tanpa harus trading maupun investasi, sampai akhirnya bisa ‘graduate’ ke Pintu Pro, di mana mereka mulai melihat order book, menggunakan fitur seperti TP/SL, bahkan sampai trading futures,” ujarnya.
Timothius menilai pendekatan end-to-end journey inilah yang menjadi keunikan utama PINTU dibandingkan platform lain.
“Yang unik dari PINTU adalah end-to-end journey-nya. Jadi pengguna bisa mulai dari belajar, mencoba investasi sederhana, sampai akhirnya menjadi trader yang lebih profesional dalam satu ekosistem,” katanya.
Baca Juga: PINTU Luncurkan PINTU VIP, Layanan Eksklusif untuk Investor Kripto Loyal
Dari sisi pasar, kata Timothius, industri kripto di Indonesia dinilai masih memiliki potensi pertumbuhan yang besar.
Berdasarkan data internal yang disampaikan dalam kesempatan yang sama, total transaksi kripto di Indonesia sepanjang 2025 mencapai sekitar Rp400 triliun dengan jumlah investor sekitar 20 juta orang.
Angka tersebut, kata dia, bahkan disebut telah melampaui jumlah investor saham domestik.
Menariknya, mayoritas investor kripto di Indonesia didominasi oleh kelompok usia produktif, terutama generasi muda.
“Mayoritas pengguna VIP kita berada di rentang usia 30–39 tahun, dan secara umum pengguna PINTU juga didominasi usia produktif, mulai dari 20-an hingga 50-an tahun,” kata Timothius.
Timothius juga menyoroti kondisi pasar kripto global yang saat ini masih berada dalam fase sideways atau bahkan mendekati bear market.
Menurutnya, harga aset kripto sempat mencapai sekitar US$120.000 sebelum terkoreksi hingga sekitar US$60.000, atau turun hampir 50%.
“Kalau melihat sejarah, biasanya bear market itu turun lebih dari 70%. Jadi apakah masih ada potensi turun lagi? Mungkin saja,” ujarnya.
Ia menilai kondisi tersebut dipengaruhi berbagai faktor global, mulai dari situasi makroekonomi, ketegangan geopolitik, hingga kebijakan suku bunga di Amerika Serikat oleh Federal Reserve.
“Saat suku bunga masih tinggi, biasanya investor di AS lebih memilih menyimpan dana di bank. Tapi ketika suku bunga mulai turun, investor akan kembali melirik aset berisiko seperti saham teknologi maupun kripto,” jelas Timothius.
Meski demikian, ia melihat kondisi pasar saat ini justru menjadi peluang bagi investor jangka panjang.
“Menurut saya pribadi, ini justru waktu yang bagus untuk accumulate atau melakukan dollar cost averaging, dibandingkan saat harga berada di puncaknya,” pungkasnya.
Baca Juga: Perketat Manajemen Risiko Trading Derivatif Kripto, PINTU Futures Hadirkan 5 Fitur Unggulan