Kolaborasi ini menargetkan pengumpulan minimal 16 ton sampah dalam satu tahun hanya dari waste station di kawasan Kota Baru Parahyangan. Target tersebut diharapkan menjadi awal dari gerakan yang lebih luas di berbagai wilayah lainnya.

Pamela menambahkan bahwa kehadiran fasilitas pengelolaan sampah yang mudah diakses akan membantu membentuk kebiasaan baru di masyarakat.

“Ketika orang melihat sudah ada komunitas yang rutin memilah sampah, harapannya mereka ikut tergerak melakukan hal yang sama. Apalagi di Kota Baru Parahyangan ekosistemnya sudah terbentuk dan masyarakat dimudahkan untuk ikut berpartisipasi,” jelasnya.

Pamela menjelaskan, saat ini, jaringan waste station yang dikelola Rekosistem sendiri telah tersebar di berbagai kota di Indonesia dengan total sekitar 40 titik. Melalui aplikasi Rekosistem, masyarakat dapat mengetahui jenis sampah yang dapat disetorkan sekaligus memperoleh poin penghargaan dari setiap setoran sampah yang dilakukan.

SoSoft sendiri, kata dia, berperan sebagai penggerak peningkatan kesadaran masyarakat. Bahkan, kemasan produk SoSoft juga memberikan poin tambahan saat disetorkan melalui sistem Rekosistem, sebagai bentuk dorongan agar konsumen lebih peduli terhadap daur ulang.

“Yang paling penting bukan hanya soal kemasan produk kami, tetapi bagaimana kita bisa meningkatkan awareness masyarakat agar mau ikut memilah dan mendaur ulang sampahnya,” ujar Pamela.

Terakhir, ia pun optimistis bahwa gerakan ini akan terus berkembang, mengingat pengelolaan sampah di Indonesia masih berada dalam tahap awal pembangunan sistem dan kesadaran masyarakat.

“Masalah pengelolaan sampah ini masih dalam tahap awal di Indonesia. Karena itu kita perlu terus meningkatkan kesadaran dan mengajak sebanyak mungkin orang untuk terlibat. Ke depannya pasti akan semakin banyak yang bisa ditolong,” tutup Pamela.

Baca Juga: SoSoft Luncurkan Detergen dengan Kandungan Aloe Vera, Ini Manfaatnya Bagi Kulit dan Pakaian