Dalam pandangannya, pembentukan Danantara sebagai entitas baru diharapkan mampu menjadi momentum perubahan branding perusahaan negara.
Ia membayangkan istilah BUMN secara bertahap tidak lagi menjadi label utama di benak publik, melainkan digantikan oleh identitas baru.
“Jadi saya berharap dengan pembentukan danantara itu istilah BUMN itu hilang sama sekali. Tapi Anda kan masih terus menyebut. Berarti istilah BUMN ini masih hidup di benak Anda. Bayangan saya begitu dibentuk danantara, yang terjadi adalah danantara grup. Jadi nggak ada lagi istilah BUMN,” ungkapnya.
Menurut Dahlan, jika transformasi branding ini berjalan baik, publik nantinya akan lebih mengenal perusahaan-perusahaan tersebut sebagai bagian dari Danantara Group, bukan lagi sekadar BUMN.
Dengan demikian, jika masih ada persoalan kinerja, evaluasi akan langsung melekat pada entitas baru tersebut.
“Oh ini BUMN buruk sekali, nggak ada BUMN sekarang. Yang ada apa? Danantara group. Jadi nggak ada lagi. Nah nanti kalau ternyata terus buruk ya Danantara-nya yang buruk,” paparnya.
Dahlan menilai, perubahan identitas tersebut juga mulai terlihat di berbagai materi komunikasi perusahaan, di mana kata BUMN mulai jarang digunakan dan digantikan dengan identitas Danantara.
“Sehingga saya kira transformasi branding ini bagaimana orang tidak lagi ngomong BUMN. Tapi ngomong danantara grup atau member of danantara. Ini saya lihat sudah mulai dilakukan kalau ada banner-banner perusahaan yang dulu BUMN. Tidak ada lagi kata BUMN, tapi yang ada Danantara,” pungkasnya.
Baca Juga: Pujian Buat Danantara dan Kekecewaan Dahlan Iskan pada UU BUMN