Satu tahun yang lalu, narasi unik bermula dari terdamparnya kapal Butter Baby di Jakarta demi mengumpulkan 500 triliun ton mentega untuk menyelamatkan planet asalnya, Butterlandia. 

Namun, dalam perjalanan kurun waktu 12 bulan terakhir, brand yang berawal dari gerai pertamanya di kawasan Blok M ini justru menemukan rumah permanen di Indonesia sekaligus berkembang pesat menjadi character-led dessert universe.

Butter Baby berhasil mempertemukan seni kuliner, narasi storytelling, desain produk, merchandise kolektibel, hingga pengalaman lifestyle interaktif ke dalam satu ekosistem hiburan yang terus bertumbuh.

Baca Juga: Resmikan Gerai Kelima, Butter Baby Hadirkan Instalasi Seni 7 Ton di Terminal Keberangkatan Internasional Soetta

Satu Tahun, Lima Gerai, Satu Patung Raksasa

Dalam kurun waktu singkat, jejak Butter Baby melaju kencang melampaui ekspektasi:

  • Kehadiran Gerai & Landmark: Kini mengoperasikan lima gerai di Indonesia, termasuk instalasi landmark ikonik setinggi 8 meter dengan berat 7,5 ton di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
  • Aktivasi Internasional di Bangkok & LA: Menarik perhatian figur papan atas dunia secara organik. Aktivasi pop-up di Bangkok dihadiri oleh Jackson Wang, Bright Vachirawit, dan Gulf Kanawut. Sementara di Los Angeles, kehadiran brand ini memikat North West, Kathy Hilton, hingga Mark Tuan.
  • Prestasi & Kolektibel Budaya Pop: Sukses meraih dua penghargaan inovasi brand, masuk nominasi Webby Award, serta lini merchandise-nya (seperti bag charm dan keychain) dipakai oleh deretan bintang global seperti Jaehyun NCT, Vernon SEVENTEEN, Usher, Jason Derulo, hingga Jay Park.

Head of Marketing & Business Development Butter Baby, Karen Tjahja, mengungkapkan bahwa pencapaian tahun pertama ini menjadi bukti hangatnya penerimaan masyarakat terhadap IP (Intellectual Property) lokal.

"Butter Baby terdampar di Jakarta, tetapi kemudian memilih untuk tinggal. Satu tahun ini bukan hanya tentang berapa banyak gerai yang kami buka atau penghargaan yang kami raih. Yang paling berarti adalah melihat sebuah karakter dan dunia yang kami bangun di Indonesia mulai menjadi bagian dari kehidupan banyak orang. Ini baru tahun pertama, dan masih banyak bagian dari Butterlandia yang ingin kami bawa lebih jauh," ujar Karen.