Growthmates, anggapan bahwa kadar kolesterol tinggi semata-mata disebabkan oleh makanan perlu diluruskan. Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr. Nadhira Afifa, MPH, SpGK, menjelaskan bahwa sebagian besar kolesterol dalam tubuh justru diproduksi secara alami oleh tubuh, terutama hati.

dr. Nadhira mengatakan, sekitar 80 persen kolesterol dalam tubuh diproduksi sendiri oleh hati, bukan berasal langsung dari makanan. Kondisi ini membuat perubahan kadar kolesterol seiring bertambahnya usia tidak selalu berkaitan dengan pola makan semata.

“Tau gak kalau makin tua, kolesterol kita makin naik, terutama perempuan. Bukan, bukan dari makanan loh. Ini yang banyak orang gak tau,” papar dr. Nadhira, dikutip dari laman Instagram pribadinya @nadhiraafifa, Jumat (4/9/2026).

Menurut  dr. Nadhira, kolesterol yang berada di dalam darah sebenarnya akan dibersihkan melalui reseptor khusus di hati.

Pada perempuan, lanjutnya, hormon estrogen turut berperan dalam membantu reseptor tersebut bekerja secara optimal. Namun, ketika kadar estrogen mulai menurun, terutama menjelang menopause, proses tersebut dapat mengalami perubahan.

“Sekitar 80% kolesterol di tubuh kita itu diproduksi sendiri sama hati, bukan dari makanan. Kolesterol ini normalnya dibersihkan dari darah lewat reseptor khusus di hati dan estrogen yang bantu reseptor ini kerja optimal. Begitu estrogen turun, apalagi mendekati menopos, reseptor ini jadi kurang efisien,” jelasnya.

Akibatnya, kata dia, kolesterol yang seharusnya dibersihkan dari aliran darah dapat lebih mudah menumpuk.

Dengan kata lain, kenaikan kadar kolesterol tidak selalu terjadi karena tubuh memproduksi kolesterol secara berlebihan, tetapi juga karena proses pembuangannya menjadi kurang efektif.

“Jadinya, kolesterol yang harusnya dibersihin malah numpuk di darah. Bukan produksinya yang berlebih, tapi proses buangnya yang melambat,” kata dr. Nadhira.

Baca Juga: Cek Kolesterol Sebaiknya Mulai Usia Berapa? Ini Kata Dokter Ahli

Perubahan metabolisme seiring bertambahnya usia juga tidak hanya berdampak pada kolesterol. Menurut dr. Nadhira, kadar gula darah dan asam urat pun dapat mengalami peningkatan secara perlahan.

Perubahan tersebut dapat dipengaruhi oleh metabolisme tubuh, pola makan, aktivitas fisik, hingga pola tidur yang ikut berubah seiring kesibukan.

“Gula darah juga bisa naik pelan-pelan seiring metabolisme berubah sama pola makan, aktivitas, apalagi tidur yang ikut geser pas kita makin sibuk. Asam urat juga sama, bisa makin naik aja,” tuturnya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena perubahan kadar kolesterol, gula darah, dan asam urat sering kali berlangsung tanpa menimbulkan gejala yang jelas.

dr. Nadhira bilang, seseorang dapat tetap merasa sehat dan beraktivitas seperti biasa, meski terdapat perubahan pada sejumlah parameter metabolik dalam tubuh.

“Jadi, tiga angka ini, gula darah, asam urat, dan kolesterol itu sering banget berubah bareng-bareng tanpa gejala yang kelihatan,” ujar dr. Nadhira.

Karena itu, merasa sehat bukan berarti kadar kolesterol, gula darah, dan asam urat sudah pasti berada dalam kondisi normal. Pemeriksaan berkala dapat menjadi langkah untuk mengetahui kondisi tubuh secara lebih objektif, terutama seiring bertambahnya usia.

dr. Nadhira pun mengingatkan masyarakat untuk tidak menunggu munculnya keluhan sebelum melakukan pemeriksaan kesehatan.

“Jadi, kalau kalian ngerasa sehat-sehat aja sekarang, ini bukan jaminan tiga angka ini lagi aman. Kapan terakhir kali kalian at least cek kolesterol, gula, dan asam urat? Kalau udah lama, coba deh jadwalin cek dan diskusiin hasilnya sama dokter kalian,” pungkasnya.

Baca Juga: 8 Tanda Kolesterol Tinggi yang Sering Tidak Disadari