Gejalanya Kerap Disangka Maag atau Asam Lambung
Salah satu tantangan terbesar dalam mendeteksi batu empedu adalah gejalanya yang sering menyerupai gangguan pencernaan biasa. Tidak sedikit pasien baru mengetahui dirinya memiliki batu empedu saat menjalani pemeriksaan USG untuk keluhan lain.
Dr. Rajeev Reddy, Konsultan Ahli Bedah Gastrointestinal dan Bedah Minimal Invasif di Rumah Sakit Arete, mengatakan pola pasien batu empedu memang telah berubah.
"Secara tradisional, batu empedu dikaitkan dengan '4F'. Namun, dalam beberapa tahun terakhir kami jelas melihat perubahan pola tersebut. Kini bahkan individu yang lebih muda dan relatif bugar lebih sering didiagnosis mengalami batu empedu,” bebernya.
Menurutnya, kebiasaan melewatkan waktu makan, menjalani diet ekstrem, berpuasa tanpa pendampingan, hingga sering mengonsumsi makanan olahan menjadi pola yang umum ditemukan pada pasien muda.
"Banyak anak muda memiliki jadwal makan yang tidak teratur, melewatkan makan karena pekerjaan, menjalani diet penurunan berat badan yang agresif, atau berpuasa terlalu lama tanpa panduan yang tepat. Kebiasaan ini dapat memengaruhi fungsi kantung empedu dan meningkatkan risiko terbentuknya batu empedu,” sambungnya.
Adapun, gejala batu empedu yang perlu diwaspadai antara lain nyeri pada perut kanan atas, terutama setelah mengonsumsi makanan berlemak, perut terasa kembung setelah makan, mual, serta nyeri yang menjalar hingga ke punggung atau bahu kanan.
Sebagian penderita juga mengalami gangguan pencernaan yang terus berulang. Karena keluhan-keluhan tersebut sering kali menyerupai maag atau asam lambung, banyak orang mengabaikannya hingga batu empedu baru terdeteksi setelah menimbulkan komplikasi.
Karena gejala tersebut sering dianggap sebagai maag atau asam lambung, banyak kasus batu empedu baru terdeteksi ketika sudah menimbulkan komplikasi.
Tidak Semua Batu Empedu Harus Dioperasi
Menemukan batu empedu melalui pemeriksaan USG bukan berarti pasien harus segera menjalani operasi. Penanganannya bergantung pada kondisi masing-masing pasien.
Dr. Rajeev Reddy menjelaskan bahwa banyak orang tidak mengalami gejala sama sekali meskipun memiliki batu empedu.
"Banyak orang menemukan batu empedu secara tidak sengaja saat pemeriksaan kesehatan rutin. Yang lain datang dengan keluhan seperti kembung setelah makan, nyeri di perut bagian atas terutama setelah makan makanan berlemak, mual, atau nyeri yang menjalar ke punggung maupun bahu,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa keputusan operasi harus mempertimbangkan gejala, ukuran batu, kemungkinan komplikasi, serta kondisi klinis pasien secara menyeluruh.
Para dokter pun kini melihat batu empedu bukan hanya sebagai penyakit pada sistem pencernaan, melainkan juga sebagai indikator adanya gangguan metabolik seperti resistensi insulin, penyakit hati berlemak, obesitas abdominal, hingga gangguan kadar lemak darah.
Dr. Sushrutha menyebut temuan ini juga didukung oleh penelitian terbaru.
"Studi tahun 2025 yang diterbitkan di BMC Public Health menunjukkan bahwa individu berusia di bawah 50 tahun dengan indeks kardiometabolik yang lebih tinggi, obesitas perut, dan kadar lipid yang tidak sehat memiliki prevalensi batu empedu yang jauh lebih besar,” paparnya.
Ia menegaskan bahwa persepsi lama mengenai batu empedu sudah tidak lagi sepenuhnya relevan.
"Batu empedu bukan lagi kondisi yang hanya dialami wanita paruh baya dengan kelebihan berat badan, tetapi merupakan masalah kesehatan metabolik yang dapat memengaruhi orang yang lebih muda. Pendekatan terbaik adalah melakukan deteksi dini, pengobatan yang tepat, dan menerapkan gaya hidup sehat,” terangnya.
Senada dengan itu, Dr. Rajeev Reddy menambahkan bahwa meningkatnya kasus obesitas dan penyakit hati berlemak pada usia muda ikut berkontribusi terhadap tren ini.
"Yang penting adalah gejala pencernaan yang terus-menerus tidak boleh langsung dianggap sebagai gastritis atau asam lambung berulang. Jika keluhan terus muncul, lakukan evaluasi medis yang tepat. Kini kami melihat penyakit batu empedu terjadi pada kelompok pasien yang jauh lebih luas dibandingkan sebelumnya,” pungkasnya.
Baca Juga: Diabetes dan Hipertensi Tingkatkan Risiko Penyakit Ginjal Kronis, Ini Gejala yang Perlu Diwaspadai