Growthmates, selama bertahun-tahun, batu empedu identik dengan kelompok tertentu yang dikenal dalam dunia medis sebagai 4F, yaitu female (perempuan), fat (kelebihan berat badan), fertile (usia subur), dan forty (berusia sekitar 40 tahun). Namun, anggapan tersebut kini mulai berubah.

Para dokter melaporkan semakin banyak pasien berusia 20 hingga 30 tahun yang didiagnosis mengalami batu empedu. Menariknya, sebagian besar dari mereka memiliki berat badan normal, rutin berolahraga, bahkan terlihat bugar.

Kondisi ini menunjukkan bahwa batu empedu kini tidak lagi sekadar berkaitan dengan usia atau berat badan, tetapi juga mencerminkan gangguan kesehatan metabolik yang sering kali tidak terlihat dari luar.

Menurut Dr. C.S. Sushrutha, Ahli Bedah Gastroenterologi, Hepatobilier, Pankreas, dan Transplantasi Hati di Rumah Sakit HOSMAT, faktor risiko klasik memang masih berlaku, tetapi bukan lagi satu-satunya penyebab.

"Dahulu diperkirakan bahwa4F adalah kelompok yang paling mungkin mengalami batu empedu. Faktor risiko tersebut masih ada, tetapi bukan satu-satunya hal yang harus dipertimbangkan. Saat ini kami melihat semakin banyak orang berusia 20-an dan 30-an dengan batu empedu, bahkan mereka yang tampak bugar, rutin berolahraga, dan tidak memiliki masalah berat badan yang terlihat," tuturnya, dikutip dari Times of India, Kamis (30/7/2026).

Ia menjelaskan bahwa seseorang bisa memiliki Indeks Massa Tubuh (BMI) normal, tetapi tetap mengalami penumpukan lemak di sekitar organ tubuh, resistensi insulin, atau kadar kolesterol yang tidak sehat.Gangguan metabolik seperti ini sering kali tidak terlihat secara kasat mata, tetapi dapat meningkatkan risiko terbentuknya batu empedu.

Gaya Hidup Modern Menjadi Pemicu yang Sering Tidak Disadari

Batu empedu tidak terbentuk dalam waktu singkat. Kondisi ini berkembang secara perlahan ketika keseimbangan kolesterol, garam empedu, dan fungsi kantung empedu terganggu.

Dr. Sushrutha mengatakan bahwa perubahan pola hidup saat ini berperan besar dalam meningkatnya kasus batu empedu pada usia muda.

"Perubahan ini lebih berkaitan dengan gaya hidup dan aspek metabolisme era saat ini daripada usia itu sendiri. Faktor risikonya meliputi diet ketat atau penggunaan obat penurun berat badan, puasa berkepanjangan, pekerjaan yang minim aktivitas fisik meskipun rutin berolahraga, konsumsi makanan olahan, resistensi insulin, hingga riwayat keluarga. Bahkan orang dengan BMI normal dapat memiliki kelainan metabolik yang mendasari pembentukan batu empedu,” terangnya.

Ironisnya, beberapa kebiasaan yang dilakukan demi menurunkan berat badan justru bisa meningkatkan risiko. Penurunan berat badan secara drastis, puasa terlalu lama, serta pembatasan kalori yang ekstrem dapat mengurangi kontraksi normal kantung empedu. Akibatnya, empedu mengendap terlalu lama sehingga kolesterol mengkristal dan membentuk batu.

Selain itu, kebiasaan duduk berjam-jam di depan komputer juga dapat menjadi faktor risiko. Berolahraga satu jam setiap hari belum tentu mampu mengimbangi dampak dari aktivitas sedentari sepanjang hari, terutama jika disertai pola makan yang tidak teratur.

Baca Juga: Studi: Inflamasi Kardiovaskular Masih Jadi Ancaman Besar bagi Pasien Penyakit Jantung