Growthmates, banyak orang menganggap pensiun sebagai fase ketika seseorang benar-benar berhenti bekerja dan menikmati hasil jerih payah selama bertahun-tahun.
Namun, menurut Financial Trainer sekaligus Founder QM Financial, Ligwina Hananto, definisi pensiun saat ini perlu dilihat dari sudut pandang yang berbeda.
Menurut Ligwina, usia pensiun yang ditetapkan dalam aturan ketenagakerjaan bukan berarti seseorang sudah tidak produktif.Pada usia 55–58 tahun, kata dia, seseorang umumnya masih memiliki kondisi kesehatan yang baik dan berpotensi menjalani hidup hingga puluhan tahun ke depan.
Ligwina mengingatkan bahwa masa setelah pensiun bisa berlangsung sangat panjang, bahkan mencapai 30 tahun.
“Pensiun itu karena undang-undang ketenagakerjaan saja, seseorang harus berhenti bekerja di umur 55–58. Itu belum tua. Belum tua, belum pikun, masih sehat,” beber Ligwina, dikutip dari podcast YouTube @roryasyari - @room.4improvement, Rabu (15/7/2026).
Ligwina menegaskan, seseorang yang memasuki usia pensiun perlu memiliki cara pandang seperti ketika berusia 25 tahun yang baru memulai perjalanan karier.
Menurutnya, jika saat usia muda seseorang mempersiapkan diri untuk bekerja selama 30 tahun hingga pensiun, maka saat memasuki usia 55 tahun pun perlu membuat perencanaan untuk tiga dekade berikutnya.
“Bayangkan waktu kita umur 25, memandang ke depan, aku akan punya horizon 30 tahun ke depan sampai umur 55 pensiun. Si umur 55 harus belajar memandang ke depan dari umur 55 sampai 85,” jelasnya.
Ligwina lantas menuturkan, tantangan terbesar adalah banyak orang hanya mempersiapkan dana pensiun tanpa memikirkan bagaimana menjalani kehidupan setelah tidak lagi memiliki penghasilan aktif.
“Panjang banget. Nah, apa yang kita lakukan dengan 30 tahun pensiun itu? Itu lama banget. Dan kemungkinan dana pensiunnya nggak akan cukup,” katanya.
Karena itu, Ligwina menyarankan, agar masa pensiun dibagi menjadi beberapa fase dengan strategi finansial yang berbeda.
Fase pertama setelah pensiun menurut Ligwina adalah usia 55 hingga 65 tahun. Pada periode ini, seseorang masih memiliki energi, pengalaman, serta kemampuan untuk tetap berkarya.
Ia menilai, persiapan pensiun bukan hanya tentang mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, tetapi juga memikirkan kemungkinan alih profesi atau pekerjaan baru yang tetap menghasilkan.
“Yang pertama harus disiapkan itu bukan punya aset atau punya uang segunung. Tapi memikirkan ada alih profesi apa. Mumpung umur 55–65 itu masih sehat kan biasanya. Ada alih profesi apa yang bisa saya lakukan untuk terus berpenghasilan,” ungkapnya.
Baca Juga: Warren Buffett Pensiun, Warisan Terbesarnya Bukan Berkshire Hathaway, tapi...
Menurut Ligwina, perkembangan teknologi digital saat ini justru membuka banyak peluang bagi masyarakat usia pensiun untuk tetap mendapatkan penghasilan.
“Di zaman online ini sebenarnya mencari duit itu banyak banget. Peluangnya banyak banget. Jadi 55–65 itu adalah periode pertama pensiun harus cari kegiatan yang menghasilkan uang,” ujarnya.
Kemudian, memasuki usia 65 hingga 75 tahun, kata dia, strategi finansial mulai bergeser. Pada fase ini, seseorang diharapkan mulai menikmati hasil dari aset yang sudah dibangun sebelumnya.
Ligwina menyebut, ada beberapa jenis aset aktif yang dapat menjadi sumber pemasukan, seperti bisnis, properti, surat berharga, maupun kekayaan intelektual.
“Aset aktif kita tuh ada empat kemungkinan. Bisnis atau properti atau surat berharga atau kekayaan intelektual. Bisa salah satu atau kombinasi,” tuturnya.
Menurutnya, membangun aset tersebut tidak dilakukan secara instan, melainkan melalui proses panjang sejak sebelum pensiun.
Misalnya, mulai menyiapkan modal bisnis, membeli properti yang dapat menghasilkan pendapatan sewa, memiliki obligasi negara dengan kupon rutin, hingga menciptakan produk digital yang bisa terus memberikan pemasukan.
“Dari sekarang sampai umur 65 kita tuh ngumpulin modal untuk pelan-pelan punya modal bisnis. Pelan-pelan punya modal properti disewakan. Pelan-pelan punya obligasi negara yang bisa menghasilkan kupon rutin. Atau pelan-pelan punya digital product yang bisa menghasilkan,” jelas Ligwina.
Sementara itu, usia 75 hingga 85 tahun menjadi fase ketika seseorang mungkin mulai membutuhkan dukungan lebih banyak, termasuk dari keluarga.
Namun, Ligwina menekankan bahwa dua fase sebelumnya menjadi kunci agar masa pensiun tetap mandiri secara finansial.
Baca Juga: Freelancer Sulit Menabung Dana Pensiun? Ini Tips dari Financial Trainer